Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
24


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup lama Retha pun sampai di pantai asuhan yang biasa dia datangi. Tadi sebelum sampai di panti asuhan Retha mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa makanan untuk anak panti asuhan.


"Selamat pagi....." Ucap Retha penuh gembira.


Anak-anak yang melihat kedatangan Retha langsung berhamburan memeluk Retha. Retha bukan orang lain bagi mereka, mereka sudah mengganggap Retha sebagai guru sekaligus kakak bagi mereka.


"Pagi kak rethaa......". Jawab mereka serentak.


"Ibu dimana? ini kakak punya oleh-oleh untuk kalian".


"Ibu ada didalam kak". Ucap Reza salah satu anak panti asuhan yang dekat dengan Retha.


"Oh iya za, kakak masuk dulu ya ini kamu bagiin ke temen-temen yang lain". Kata Retha menyerahkan beberapa bungkus plastik kepada Reza.


Retha pun masuk kedalam rumah untuk menemui Bu Ririn.


"Pagi Bu pagi Noel sayang". Ucap Retha mengejutkan Bu Ririn.


"Eh pagi re, kamu kok pagi-pagi udah kesini?" Tanya Bu Ririn.


"Iya nih Bu kangen Saman anak kesayangan aku yang montok nih" Jawab Retha bohong sebetulnya Retha datang kesini untuk menghindari Arga.


"Sini Bu biar Noel sama aku aja!" Ucap Retha lagi.


Bu Ririn pun menyerahkan Noel kepada Retha.


"Emmm anak ganteng kakak udah mandi ya udah wangi nih". Kata Retha sambil mengecup pipi gembil Noel.


Noel yang mendapat perlakuan seperti itu tangannya meraih pipi Retha mengusapnya dan tersenyum.


Retha dan Bu Ririn pun berbincang-bincang mengenai bagaimana keadaan panti asuhan sekarang.


"Eh Noel udah tidur Bu biar aku taruh Noel ke kamar dulu ya". Ujar Retha.


Retha pun bergegas membawa Noel masuk kedalam kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkan bayi montok itu.


Setelah menaruh Noel dalam box bayi Retha pun keluar dari kamar dan bergabung dengan anak-anak yang lain. Retha berharap dengan dirinya datang kesini akan bisa membuat perasannya lega.


"Wah lagi apa nih?" Tanya Retha pada anak-anak yang sedang sibuk dengan pensil dan buku gambar itu.


"Menggambar kak!" Jawab mereka serentak.


"Niken kamu gambar apa sayang?" Tanya Retha pada anak berusia tujuh tahun itu.

__ADS_1


"Niken lagi gambar laut kak, bagus nggak?"


"Jelek". Kata Rangga salah satu anak panti asuhan.


Niken yang mendengar gambarnya dikatakan jelek pun marah.


"Gambar kamu itu yang jelek" Seru Niken.


"Gambarku bagus, iya kak re?"


"Iya gambar kalian semuanya bagus kok, Rangga gak boleh bicara seperti itu ya sama teman-temannya"


Rangga pun mengangguk pasrah, dia takut jika Retha memarahinya.


"Kalau Chika gambar apa nih?" Tanya Retha.


Dia menunjukkan buku gambarnya, tampak dia menggambar satu orang anak kecil dan dua orang dewasa.


"Ini Chika". Dia menunjuk gambar anak kecil. "Ini ibu dan kak Retha". Ucapnya lagi.


"Wah cantik banget gambarnya nanti kalau sudah selesai boleh kakak bawa pulang?"


"Boleh kak".


Tiba-tiba rasa pusing yang sudah lama tidak Retha rasakan muncul kembali. Telinganya berdengung hebat. Pandangannya sedikit berkabut.


Retha bergegas pergi meninggalkan tempat anak-anak itu dan duduk di ruang tamu. Dengan kesadaran yang sudah mulai hilang Retha mengambil obat dalam tasnya dan meminumnya segera.


Bu Ririn yang melihat Retha memegangi kepalanya pun menghampirinya.


"Re kamu nggak apa-apa? apa kita kerumah sakit saja?" Tanya Bu Ririn khawatir.


"Nggak apa-apa Bu, cuma pusing sedikit sebentar lagi juga hilang pusingnya". Jawab Retha sambil memijat pelipisnya agar mengurangi rasa pusing dikepalanya.


"Apa kamu sudah pernah bilang masalah ini kepada ibu atau suamimu?"


"Retha tidak apa-apa Bu, Retha tidak mau merepotkan siapapun Retha takut nanti kalau ibu kepikiran kasihan ibu".


"Tapi ini bahaya untuk kesehatan kamu re, kamu tahu kan efeknya seperti apa?"


"Retha tahu Bu, penggumpalan darah diotak Retha bisa menyebabkan Retha kehilangan nyawa, tapi Retha juga tidak mau membuat ibu sedih".


"Tapi sebaiknya kamu harus periksa ke dokter re agar tahu bagaimana kondisi kamu sekarang!"

__ADS_1


"Iya Bu nanti ya kalau Retha ada waktu pasti Retha akan ke rumah sakit, Bu Ririn tenang aja Retha pasti kuat kok". Ucap Retha tersenyum dan berusaha menguatkan dirinya sendiri. Pasalnya dia tahu sakitnya ini tidak akan sembuh jika hanya minum obat saja.


flash back


Kala itu Retha yang masih berusia delapan tahun, dia bersama kakeknya akan pergi ke Bogor untuk melihat kebun teh milik kakeknya.


Dari kecil Retha lebih dekat dengan kakeknya daripada dengan ayahnya sendiri. Ayahnya terlalu sibuk hingga jarang ada waktu untuk Retha.


Pagi itu Retha sudah bersiap-siap pergi ke Bogor. Dia hanya bersama kakeknya saja untuk pergi ke Bogor karena ibu Retha sedang mengandung besar.


Retha yang notabennya menyukai alam mendengar dia akan pergi ke kebun teh menjadi sangat bersemangat.


"Kek ayo nanti keburu siang jalannya macet". Rengek Retha pada sang kakek.


"Iya sebentar kakek mau siap-siap dulu, kamu juga siap-siap sana!"


Retha pun berlalari menuju kamarnya untuk mengambil tas punggung kesayangannya.


"Sudah kek ayo lah". Rengek Retha lagi.


"Iya iya sana pamit sama ibu dan adikmu dulu".


"Bu Retha berangkat dulu ya". Ucap Retha lalu memeluk ibunya. "Adik jangan nakal ya kalau kakak tinggal jangan nyusahin ibu". Imbuh Retha sambil mencium perut besar ibunya.


"Hati-hati dijalan ya sayang kamu jangan bandel jangan nyusahin kakek". Ucap Bu Mira lalu mencium kening anaknya itu.


Retha dan kakeknya bergegas meninggalkan rumah dan pergi ke Bogor untuk melihat kebun teh yang sedang panen.


Sore harinya saat diperjalanan pulang hujan deras turun. Saat itu mereka masih belum sampai ke jalan kota, mobil yang mereka tumpangi masih menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi pohon besar.


Entah bagaimana tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi hilang kendali. Kakek berusaha memberhentikan mobilnya namun naas mobil yang mereka tumpangi menabrak sebuah pohon besar dengan keras sampai mobil bagian depan mengalami ringsek.


Saat itu kesadaran Retha belum sepenuhnya hilang, dilihatnya sang kakek terjerembab kedepan kepalanya berlumuran darah.


Tiba-tiba setelah melihat kondisi sang kakek kesadaran Retha hilang. Dia mengalami koma selama dua bulan dirumah sakit. Kakeknya meninggal dunia saat itu juga.


Retha yang saat itu masih berusia delapan tahun harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Bagaimana tidak saat itu ibunya sedang melahirkan adiknya dan ayahnya sibuk mengurus bisnis yang ditinggal kakeknya.


Retha mengalami koma karena gagar otak akibat benturan keras yang diterimanya. Ibunya sibuk mengurus adiknya membuat Retha harus menahan rasa sakit sendiri.


Dan ternyata efek dari kecelakaan itu masih terus berlanjut sampai saat ini. Retha mengalami penggumpalan darah di otak akibat kecelakaan itu. Tidak banyak yang tahu tentang penyakit Retha karena Retha sendiri yang menyembunyikan itu semua dari orang-orang disekitarnya termasuk ibunya.


flash back off

__ADS_1


__ADS_2