Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 22


__ADS_3

Menurut kalian bagaimana rasanya jatuh cinta? Apa seperti jantung berdegup kencang ketika kita bertemu dengan seseorang itu atau kita merasakan rindu ketika tak berjumpa.


Hari ini Orin akan memastikan perasaannya kembali. Sejak tadi malam dia tidak bisa memejamkan matanya barang sebentar pun. Otaknya dipenuhi oleh semua hal tentang Marcel. Senyum manis laki-laki itu lalu suara indah nan bertalu-talu yang mampu menggetarkan hatinya. Dia sudah bertekad jika memang dirinya jatuh cinta pada Marcel maka Orin tidak akan menampik perasaan itu lagi meskipun dirinya sendiri masih ragu.


Bukan Orin sudah tidak mencintai kak Angga lagi, bahkan sampai saat ini laki-laki itu masih menempati posisi teratas di hatinya. Hanya saja waktu akan terus berputar kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Dengan segenap hatinya dia bertekad akan mencintai dua orang laki-laki sekaligus, anggaplah dia wanita tamak dan egois karena mencintai dua orang pria tapi perlu diingat lagi kita tidak akan tahu rencana Tuhan kedepannya untuk kita.


Pagi ini seperti pagi kemarin, Orin bangun sendiri dari tidurnya tidak perlu bantuan mommynya lagi. Sejak kejadian memalukan kemarin seharian penuh Orin tidak keluar kamar dia memilih untuk melakukan segala aktivitas liburan weekend didalam kamar terlalu malu untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Padahal Mommy serta Daddynya sendiri tidak akan mengungkit hal itu lagi.


"Pagi mom dad!" Sapa Orin sambil tersenyum kikuk ke arah mommy dan daddynya.


"Pagi sayang!" Jawab mereka serempak.


"Mau selai rasa apa?" Tawar mommynya.


"Coklat saja mom." Dengan sigap mommy Retha pun membuatkan roti isi selai coklat kesukaan putrinya itu.


"Oh ya sayang hari ini mommy dan daddy akan pergi ke Bandung mungkin dua hari untuk menghadiri acara pernikahan anak dari rekan kerja Daddy, kamu mau ikut atau di rumah saja?" Tanya daddynya yang juga mulai menikmati sarapan roti buatan sang istri.


"Aku di rumah saja dad." Jawabnya dimana membuat kedua orang tuanya mengerutkan kening. Meskipun Orin tidak suka dengan apapun yang berbau pesta tapi jika keluar kota anak itu pasti akan ikut lalu dia akan tinggal di hotel kalau tidak berjalan-jalan sendiri.


"Are you seriously?" Tanya sang mommy, biasanya putrinya itu tidak pernah menolak ajakan keluar kota.


Orin memanglah sangat manja sedari kecil, berbeda dengan Noel laki-laki itu sangat mandiri. Mungkin karena Orin adalah putri satu-satunya dan mereka pun tidak mempermasalahkan mengenai kemanjaan Orin meskipun terkadang sang mommy lah yang akan memarahinya jika terlalu manja.


"Yes mom, lagipula sebentar lagi aku akan ujian nasional jadi harus mempersiapkan segalanya dari sekarang!"


"Wah ternyata putri Daddy sudah besar dan dewasa ya sekarang?" Tanya Daddy Arga sambil mengusap sayang kepala Orin.

__ADS_1


"Iya dong dad, karena sekarang Orin sudah dewasa jadi tambahin lagi ya uang jajan Orin?" Ucapnya diikuti kerlingan mata.


"Baiklah mulai Minggu depan Daddy tambahin lagi uang jajan kamu!"


"Tidak, mommy tidak setuju. Uang jajan Orin sudah cukup dad bahkan sudah sangat cukup." Tolak sang mommy tidak setuju dengan putri serta suaminya itu.


"Tak apa mom, apa mommy juga mau tambah uang belanjanya?"


"Ah kalau itu mommy setuju!"


"Ck, mommy ikut-ikutan saja. Aku berangkat dulu ya mom dad!" Pamitnya ketika melihat pergelangan tangannya jam sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit.


"Iya hati-hati dijalan sayang, jangan ngebut lagi!" Peringat sang mommy pada putri kesayangannya itu.


"Siap ibunda ratu." Jawab Orin sambil menaruh telapak tangannya di dahi layaknya orang yang sedang hormat dalam upacara bendera hari Senin. Setelah itu Orin pun segera pergi, entah kenapa menurutnya sekarang berada di sekolah lebih menyenangkan.


Orin segera menuju ke kelasnya yang tak jauh dari parkiran mobil, mungkin hanya bejarak beberapa meter saja. Suasana kelasnya juga masih pagi, terhitung baru delapan temannya yang datang. Orin pun segera duduk di tempatnya sambil memainkan ponselnya menunggu jam pelajaran akan di mulai.


"Ya ampunn Orin ini lu kan? Gue nggak salah lihat kan?" Teriak Aneta yang baru saja tiba setelah beberapa saat lalu bel berbunyi.


"Bukan ini kuntilanak. Ya jelas gue lah, gimana sih lu Net?" Kesal Orin pagi masih buta tapi dia harus mendengar teriakan dari sahabatnya itu.


"Ini rekor benar-benar hari bersejarah. Lu datang lebih dulu daripada gue? Lu nggak lagi salah makan kan?" Tanya Aneta masih tak percaya dengan apa yang dilihat.


"Lu berlebihan deh Net."


Baru saja Aneta akan melanjutkan ucapannya tapi seseorang guru datang menghentikan perdebatan dua sahabat itu.

__ADS_1


"Loh kok Bu Risa lagi sih yang ngajar?" Tanya Orin sedikit terkejut melihat kedatangan Bu Risa wanita setengah abad yang sabarnya setengah mati itu.


"Lu nggak tau ya, kan mulai sekarang Bu Risa sama pak Marcel tuh gantian. Kalo hari ini Bu Risa besok baru pak Marcel." Orin pun hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Aneta. Ada rasa sedikit sedih ketika sang pujaan hati hari ini tak ada.


"Lu kenapa kayaknya sedih gitu denger pak Marcel nggak ngajar hari ini?" Tanya Aneta yang mulai curiga dengan gerak-gerik sahabatnya itu.


"Mana ada sedih yang ada gue seneng banget tuh si mulut cabe nggak ngajar." Kilahnya padahal hatinya terasa sepi karena tak melihat senyum manis pak Marcel.


Sedari Bu Risa masuk Orin benar-benar tak bisa berkonsentrasi dia berharap pak Marcel lewat dan dia hanya ingin memastikan sesuatu hal apakah dia benar-benar sudah jatuh cinta atau hanya obsesi saja. Tadi malam karena tidak bisa tidur, gadis itu memusatkan untuk mencari-cari ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta. Didalam blog tersebut dijelaskan bahwa orang jatuh cinta jantungnya akan berdegup kencang saat kita berjumpa dengan orang. Maka dari itu Orin ingin segera bertemu dengan pak Marcel.


Setelah mengikuti dua jam pelajaran, akhirnya mata pelajaran Bu Risa pun selesai. Kini giliran mata pelajaran lain dan tentunya guru lain yang akan mengisi.


"Lu nggak mau ke ruang guru gitu?" Tanya Orin tiba-tiba pada Aneta yang sedang sibuk membalas chat dari teman yang lainnya itu.


"Kagak lah ngapain gue ke ruang guru. Kalo lu mau ke ruang guru noh sama ketua kelas aja, biasanya dia yang di suruh ke ruang guru!"


"Eh bener juga ya!" Aneta pun hanya berdecak kesal pada Orin. Apakah sebegitu bodohnya jika orang sedang jatuh cinta?"


"Bim lu nggak mau ke ruang guru gitu?" Tanya Orin pada Bima ketua kelasnya itu.


"Iya ini gue mau kesana ambil buku dari Bu Hanum. Emang kenapa?"


"Gue mau ikut. Boleh kan?" Belum sempat Bima menjawab tapi Orin malah melenggang lebih dulu. Gadis itu berjalan dengan amat riang dimana membuat Bima bergidik ngeri.


"Lu tumben banget mau ke ruang guru biasanya lu paling ogah kalau disuruh kesan?" Tanya Bima ketika dia sudah mensejajarkan langkah kakinya dengan Orin.


"Kepo lu!"

__ADS_1


__ADS_2