Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 63


__ADS_3

Setelah perjalan yang cukup melelahkan akhirnya mereka pun sampai di tempat yang dituju. Sebuah tempat yang tepat untuk menikmati senja. Sebuah tempat yang mampu menghangatkan hati. Pantai. Ya Marcel dan juga Orin sedang mengunjungi sebuah pantai yang ada di pinggiran Jakarta.


Awalnya Marcel merasa keberatan dengan permintaan Orin untuk pergi ke pantai. Tempat itu pasti akan ramai apalagi sekarang adalah akhir pekan. Tapi bukan Orin namanya jika dia dengan mudahnya menurut perkataan orang lain. Gadis keras kepala itu menyakinkan sang kekasih bahwa dirinya akan baik-baik saja. Lagipula sekarang dirinya sudah bersamanya jadi apa yang perlu ditakutkan lagi?


Lagipula selama satu bulan penuh dia sudah berkonsultasi dengan dokter Febrian dan kemungkinan Orin sudah benar-benar sembuh dengan penyakitnya. Setiap hari dokter Febrian datang menemuinya untuk bertanya bagaimana kabarnya, bagaimana perasaannya hari ini dan banyak pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.


"Ayo turun!" Ajak Marcel ketika dia sudah berada di tempat parkir.


"Wah indah banget!" Decak kagum Orin melihat hamparan pasir putih di depannya.


"Bagaimana? Sesuai ekspektasimu?" Tanya Marcel memastikan sebab dirinya sendiri juga belum pernah ke pantai tersebut.


"Tentu saja, aku sudah lama tidak kemari bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kalinya kesini!" Ucapnya penuh kegetiran. Mengingat sang Daddy yang sibuk dengan pekerjaannya dan juga dari dirinya sendiri yang tidak terbiasa dengan adanya banyak orang.


"Ayo!" Ajak Marcel. Dia sudah memesan tempat yang bagus untuk menikmati senja di langit Jakarta.


Setelah Orin mengatakan keinginannya untuk pergi ke pantai Ancol, Marcel pun segera memesan tempat untuk mereka disana. Awalnya Marcel memang tidak langsung memesan tempat tersebut sebab dirinya harus melakukan adu argumen terlebih dahulu dengan sang kekasih dan yang akhirnya pun dimenangkan oleh Orin.


"Wow!" Decak kagum Orin ketika melihat hamparan pantai yang memantulkan warna oranye dari matahari yang mulai bersembunyi di peraduannya.


Mereka pun berjalan di atas jembatan yang membentang sepanjang bibir pantai. Rambut Orin yang sengaja di gerai berterbangan bersama dengan hembusan angin sore. Orin suka suasana ini, tidak terlalu ramai dan hanya terdengar suara deburan ombak yang menghiasi indera pendengarannya.


Sepanjang perjalanan tautan jari mereka tak pernah terlepas. Mereka sama-sama menghadap pantai, berdiri berdampingan. Memandang lautan yang jauh membentang di depannya.


"Kau menyukai pantai?"


"Kurasa mulai sekarang aku sangat menyukainya!" Jawabnya sambil terkekeh. Marcel pun menyetujui hal itu sebab sedari tadi Orin menampakkan wajah kagum akan ciptaan Tuhan tersebut.


"Duduklah disini!" Ucapnya sembari menepuk kayu pembatas jembatan.


"Tidak, nanti aku bisa terjatuh!"

__ADS_1


"Aku tidak membiarkanmu terjatuh."


"Baiklah!" Orin hanya menurut gadis itu duduk diatas pembatas jembatan menghadap langsung ke wajah sang kekasih.


Marcel pun segera meraih telapak tangan Orin meletakkan di dadanya sebelah kiri tempat dimana jantungnya berada. Orin sedikit gugup mendapatkan perlakuan manis dari Marcel bahkan bisa dipastikan jika sekarang wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus.


"Kau merasakannya?" Tanyanya, Orin pun hanya mengerutkan keningnya tak mengerti kemana arah pembicaraan Marcel. Yang dia tahu detak jantung Marcel sama dengan detak jantungnya ketika mereka berada berdekatan.


"Dia selalu seperti itu saat bersamamu dan saat hanya bersamamu saja!"


Orin terdiam, tidak mengerti harus mengatakan apa tetapi yang dia tahu, dia sangat menyukai dentuman detak jantung milik Marcel. Rasanya seperti alunan merdu sebuah irama yang mampu menghangatkan hati dan juga jiwa.


"Kau berbohong?" Tanya Orin. Dia hanya tidak ingin setelah dilambungkan setinggi langit lalu dihempaskan begitu saja. Meskipun dia tahu Marcel tidak akan melakukan hal itu karena dia tahu betapa Marcel sangat menyayangi dan juga mencintainya. Menurutnya selama ini sudah banyak yang Marcel lakukan meskipun umur pacaran mereka masih terbilang baru.


"Aku tidak pernah berbohong padamu!"


Deg


Marcel merasakan nyeri pada dadanya, dia mengatakan tidak tapi pada kenyataannya dia membohonginya sejauh ini. Katakanlah dia terlalu pengecut.


Marcel masih memandangi wajah cantik Orin, menatap manik hitam kecoklatan milik kekasihnya. Hatinya menghangat setiap Orin tersenyum dan hatinya akan terasa seperti tersayat ketika Orin menangis.


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada sepasang mata yang menatap mereka dengan sorot mata yang entah bagaimana. Tangannya mengepal, sepertinya menahan emosi dan juga sesak dalam dadanya. Tapi setelah itu dia tersenyum miring, merasa mempunyai kartu AS mereka.


"Kau yang memulainya!" Desis orang tersebut.


"Ayo kita ke tempat lain saja, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu!"


Orin pun hanya menurut, entah kenapa sekarang dia menjadi gadis penurut meskipun terkadang masih keras kepala.


"Lain kali kita akan mengunjungi tempat ini lagi, apa kau mau?"

__ADS_1


"Tidak." Jawab Orin singkat dimana membuat Marcel menghentikan langkahnya. Dia tidak mengerti tentang wanita, bukankah tadi Orin mengatakan suka pantai tapi kenapa sekarang gadis itu malah mengatakan jika dirinya tidak mau diajak kesana lagi. Apakah serumit itu hati dan juga pikiran wanita? Mereka gampang berubah sesuai dengan suasana hatinya?


"Kenapa?"


"Aku tidak mau kesini lagi, aku mau mengunjungi semua pantai yang ada di Indonesia. Kau tahu bukan jika pantai di Indonesia itu bagus-bagus. Apalagi aku mengunjunginya denganmu!"


"Hey kau menggodaku ya?" Seringai kecil tampak di bibir Marcel. Dia tidak menyangka jika gadis kecilnya dulu kini sudah pandai menggoda. Marcel tidak dapat membayangkan jika bibirnya itu dibuat untuk menggoda pria lain! Tidak! Tidak itu tidak akan pernah terjadi.


Akhirnya mereka pun sampai di sebuah tempat, dimana tempat itu sudah dihias sedemikian cantik membuat Orin tak henti-hentinya berdecak kagum. Sebuah meja dengan dua kursi dan menghadap langsung ke arah bibir pantai. Sungguh tempatnya sangat indah! Apalagi langit sudah mulai gelap. Sinar matahari sudah digantikan dengan semburat bulan.


"Kau yang membuat ini?"


"Bukan aku tapi mereka, aku hanya memerintah saja!" Ucapnya sambil terkekeh, memang benar adanya dia hanya memerintah orang-orang disana untuk membuatkan sebuah tempat yang dihias dengan cantik.


"Duduklah!" Ucapnya lalu menarik kursi untuk di duduki Orin. Setelah Orin duduk, Marcel pun segera melakukan hal yang sama dengan Orin. Duduk manis disana.


"Ku kira kau pria kaku!"


"Maksudmu?"


"Ya ku kira kau tidak akan bisa berbuat manis seperti ini, melihat dari wajahmu yang...!" Orin sengaja menggantung ucapannya agar Marcel semakin penasaran.


"Wajahku kenapa?"


"Wajahmu sangat tampan."Aku Orin. Padahal dirinya yang mengatakan tapi dia juga yang malu. Dasar Orin!


Tak lama kemudian beberapa orang yang memakai seragam ala pelayan datang dengan membawa beberapa nampan berisi makanan.


"Terimakasih!"


"Kau memesan ini semua?" Tanya Orin tak percaya sebab semua makanan yang ada di depan mereka adalah makanan kesukaannya.

__ADS_1


"Bukan aku tapi daddymu!" Jawab Marcel kesal dimana membuat Orin terkekeh senang.


"Jangan mengerucutkan bibir seperti itu. Kau mirip anak kecil!" Godanya. Untuk saat ini mereka hanya fokus pada status mereka sebagai sepasang kekasih. Sejenak melupakan jika mereka adalah seorang guru dan murid.


__ADS_2