
baca episode sebelumnya ya kak karena sudah di tambah beberapa kata!
Setelah selesai berolahraga tadi pagi mereka pun kembali ke aktivitas masing-masing. Sebenarnya hari ini Marcel sedang ada meeting dengan karyawan cabangnya untuk menentukan menu baru di kafe mereka. Tapi tadi Daddy Arga sempat menghubunginya jika nanti mereka akan pulang larut sebab ibu dari mommy Retha atau nenek Orin sedang sakit dan meminta Marcel untuk menemani Orin sebab kasihan jika Orin ditinggalkan sendiri.
Akhirnya setelah makan siang Marcel memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di kamar Orin sementara Orin sendiri sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya. Entah apa yang di tonton tapi sepertinya itu sebuah drama yang menyedihkan terbukti dari air mata yang keluar dari mata Orin. Bahkan terkadang gadis itu tampak membentak laptopnya, entahlah Marcel tidak mengerti lagi dengan Orin dan laptopnya itu.
Sementara Marcel sendiri juga sedang mengamati beberapa file yang dikirimkan oleh karyawannya. Sesekali dia juga mendapat telepon dari beberapa karyawannya. Ah dia harus bersemangat ini demi masa depannya dan keluarganya kelak! Batin Marcel.
"Ada yang bisa kubantu pak?" Tanya Orin ketika tadi tidak sengaja ekor matanya mengawasi Marcel yang tampak sedang kebingungan. Sebenarnya dia sendiri bingung harus memanggil Marcel dengan apa. Ingin memanggil namanya tapi rasanya tidak sopan Marcel terlalu tua dibandingkan dirinya. Tapi memanggil 'bapak' rasanya juga kurang nyaman apalagi mereka adalah sepasang kekasih. Rasanya Orin benar-benar ingin segera lulus sekolah dan menikah saja.
Marcel pun berjalan menghampiri Orin, tidak apa bukan jika kita harus berbagi masalah dengan orang terdekat kita. Sebenarnya bukan masalah yang besar hanya pemilihan desain interior serta serba-serbi mengenai cabang kafe baru mereka yang berada di Yogyakarta. Tapi entah kenapa rasanya dia ingin berbagi dengan Orin saja.
"Kau bisa membantuku memilih desain interior ini, aku sedikit kesulitan sebab menurutku semuanya bagus!" Ucapnya sembari duduk di samping Orin memperlihatkan beberapa gambar yang ada di laptopnya.
Orin tampak melihat-lihat gambar tersebut, dan dia juga tidak menyalahkan Marcel yang kesulitan sebab memang itu semua sangatlah bagus dan dirasa dirinya sendiri juga kesulitan.
"Sebentar! Kurasa ini sangat bagus!" Ucapnya sambil memperlihatkan sebuah gambar dengan desain hampir seluruhnya terbuat dari kaca. Di gambar tersebut terdapat dua lantai dan yang bagian atasnya terdapat rooftop cocok dengan selera anak milineal sekarang.
"Baiklah aku akan mengabari karyawanku! Kau memang pandai sekali!" Katanya lalu mengacak rambut Orin dengan gemas dimana membuat gadis itu mencebikkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Kau merusak rambutku!" Jawabnya dengan kesal kemudian menata kembali rambutnya. Marcel pun hanya tersenyum, hubungan mereka semakin serius tapi sayang masih ada batu kerikil yang perlu diperjelas.
"Aku ingin ke toilet dulu!" Pamit Marcel kemudian berjalan memasuki toilet yang ada di kamar Orin. Mereka sering berdua di dalam kamar yang sama apakah mereka tidak mempunyai keinginan yang lebih dalam hal berhubungan? Tentu saja mereka semua sudah dewasa, pikiran seperti itu pasti pernah terbesit dalam pikiran mereka. Tapi sebisa mungkin mereka menepisnya. Mereka sudah berjanji akan menjaga satu sama lain sampai dengan sebuah ikatan yang jelas seperti pernikahan. Apalagi Marcel dia tidak ingin menjaga gadisnya bukan malah menyakitinya.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Orin sudah bisa menebak pasti itu adalah salah satu pelayannya. Tapi tunggu sebentar ada apa mereka ke kamarnya? Bukankah tadi mereka sudah mengantarkan camilan pesanannya? Lalu kenapa mereka kembali ke kamarnya.
"Non Orin ada di dalam?"
"Ya bi, aku di dalam ada apa?" Teriak Orin dari dalam gadis itu masih enggan menjauh dari ranjang empuknya.
"Ada non Aneta dan temanya ada diluar!" Jawab bibi tersebut dimana membuat Orin membulatkan matanya. Dia lupa jika Aneta dan Felys Salah satu temannya juga akan datang dan sekarang bahkan Marcel sedang akan di kamarnya. Aneta memang sudah tahu mengenai hubungannya tapi Orin merasa tidak enak juga jika Aneta mengetahuinya apalagi sekarang ada Felys yang belum mengetahui hubungan mereka. Ya meskipun Felys dan dirinya cukup dekat tapi tidak sedekat dengan Aneta.
"Ada apa?" Tanya Marcel saat melihat raut gugup dari wajah Orin dan juga tadi dia juga mendengar suara orang lain diluar kamar.
"Ada Aneta dan Felys diluar, aku lupa mengatakannya padamu. Bagaimana sekarang?"
"Ha Aneta dan Felys di luar?" Tanyanya tak percaya. Ya Tuhan bagaimanapun juga dirinya masih menyandang status guru, tindakannya ini bukankah mencerminkan contoh yang tidak bagus untuk muridnya.
__ADS_1
"Ya sekarang lebih baik pak Marcel bersembunyi saja dulu!"
"Dimana?" Kini giliran Marcel yang juga panik.
"Didalam kamar mandi." Jawabnya sembari membereskan beberapa berkas dan juga laptop Marcel yang masih tergeletak di dekat sofa kamarnya.
"Aku rasa disana tidak akan akan juga!"
"Aku jamin aman, sekarang masuklah kita sudah tidak punya banyak waktu." Ucapnya sembari mendorong tubuh Marcel masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Marcel berhasil masuk, Orin mengunci pria itu dari luar. Biarlah kamar mandinya bersih dan tidak berbau jadi aman-aman saja jika Orin menguncinya. Lagipula itu adalah tempat terbaik saat ini daripada Orin harus menyembunyikan Marcel di walk in clóset itu akan lebih berbahaya sebab bisa saja kan Aneta meminta masuk ke ruangan tersebut.
"Suruh mereka masuk bi, pintunya tidak aku kunci!"
"Ya Tuhan sahabatku? Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" Teriaknya sembari berdiri disamping ranjang Orin berlainan sisi dengan Orin begitu juga dengan Felys. Sebelum berangkat tadi Aneta sempat cerita beberapa hal mengenai Orin dengan penculikannya dulu waktu kecil. Sementara Felys awalnya terkejut tentu saja namun Felys pun bisa memahami tentang ketakutan Orin pada orang asing.
"Aku baik-baik saja! Pelankan suaramu kau bisa rusak gendang telingaku!" Geurutunya mendengar lengkingan suara sahabatnya itu.
"Ah kurasa kau memang sudah baik-baik saja buktinya sudah bisa marah-marah padaku!" Jawab Aneta tak kalah kesalnya.
"Kenapa kau berdiri disana? Kau kira aku bau ha?" Tanyanya kini dengan nada lebih ketus. Yang benar saja dirinya sudah mandi bahkan baru selesai mandi tapi gadis itu malah berdiri jauh darinya.
__ADS_1
"Kau tidak takut denganku?" Kini Aneta yang berganti bertanya sementara Felys hanya memandangi dua sahabat yang sedang bertengkar sembari memijat pelipisnya. Yang benar saja ini, tadi saat Aneta belum bertemu Orin gadis itu mengatakan jika sangat khawatir pada Orin tapi ketika sudah sampai di tempat Orin lihatlah mereka sudah bertengkar layaknya Tom and Jerry.
"Ck, kalian sahabatku mana mungkin aku takut dengan kalian. Kalian bukan orang asing bagiku. Cepat kemari pijat kakiku!" Ucapnya sambil terkekeh melihat wajah Aneta yang mencebik. Ah rasanya dia juga rindu pada sahabatnya itu. Sudah dua Minggu mereka tak bertemu, tak berbagi keluh kesah.