Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
52


__ADS_3

Setelah selesai merapikan diri, tak lama kemudian Steffy dan Justin datang. Mereka segera makan malam karena malam itu juga Steffy dan keluarga akan kembali ke Italia.


"Kenapa terburu-buru kak?" Tanya Retha sembari menyendok makanannya.


"Justin ada pekerjaan urgent re!" Jawab Steffy.


"Aku kira kau akan mampir ke rumah papa dan mama dulu." Ucap Arga.


"Maunya seperti itu tapi perusahaan membutuhkanku segera." Kata Justin sedikit lesu mengingat mereka baru beberapa hari disini. Arga hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh iya kau sendiri kapan akan kembali ke Jakarta?" Tanya Justin.


"Lusa mungkin."


"Re kalau kau ada waktu mainlah ke Italia!" Pinta Steffy.


Arga tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Steffy. Retha yang melihat Arga tertawa langsung menyikut perut rata suaminya.


"Ada apa?" Tanya Steffy keheranan.


"Kau tahu Steff dia itu takut naik pesawat, waktu kesini saja aku membuatnya tidur terlebih dahulu." Jelas Arga panjang lebar sambil menahan tawanya. Diyakini sekarang wajah Retha sudah merah merona menahan malu.


"Benarkah? Padahal kau tahu re jika kita lihat pemandangan dari atas itu sangat indah!" Ucapnya dengan penuh kekaguman.


"Tetap saja aku takut!" Sungut Retha.


Mereka semua yang ada di meja makan tertawa melihat wajah Retha yang menahan malu dan juga marah menjadi satu.


"Kenapa kau tidak memakai jet pribadimu saja ga?" Tanya Justin.


"Tidak, aku takutnya nanti Retha lebih ketakutan jika didalam hanya berdua denganku saja."


Setelah makan malam selesai Steffy dan keluarganya pun berpamitan untuk pulang ke negaranya.

__ADS_1


Akhirnya Arga merebahkan dirinya kembali ke kasur sembari menunggu sang istri yang sedang mengambil camilan untuk mereka.


Retha pun memasuki kamar sembari membawa nampan berisi satu botol jus jeruk kesukaannya dan beberapa macam camilan.


"Hei kau mau piknik atau mau tidur?" Tanya Arga terheran-heran.


Retha mendengus kesal dengan pertanyaan bodoh sang suami.


"Kau tidak bisa melihat ya? Aku masuk ke kamar berarti aku akan tidur." Ketus Retha.


Arga pun terkekeh "Lihatlah sayang kau hampir membawa seluruh isi kulkas masuk ke kamar."


Retha menaruh nampan di nakas samping tempat tidur. Arga pun mendekati nampan itu untuk mengambil beberapa camilan sembari menonton TV di kamar. Belum saja tangannya sampai mengambil camilan tiba-tiba saja


plak


Retha memukul tangan Arga yang hendak mengambil camilan yang dibawanya tadi.


"Kalau kau mau ambil saja sana sendiri, ini punyaku." Ucapnya sembari menjauhkan nampan tersebut dari tempat tidur.


"Whatever!" Ucapnya sinis.


"Baiklah kau menang, cepat sana ganti baju tidurmu sudah malam waktunya tidur!"


Akhirnya Retha mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Setelah itu dia ikut berbaring diatas ranjang dengan suaminya.


"Besok kita akan kemana?" Tanya Retha.


"Tidak kemana-mana kita akan tetap didalam kamar menghabiskan waktu untuk membuat Arga junior." Ucapnya dengan kerlinangan mata dan senyum seringainya.


"Mesum." Serunya lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Arga.


Arga dengan secepat kilat membalikkan tubuh sang istri untuk menghadapnya. Karena tubuh Retha kecil dengan mudah Arga membaliknya tidak membutuhkan banyak tenaga.

__ADS_1


"Sayang aku mesumnya dengan dirimu saja."


"Bohong."


"Mana ada aku bohong denganmu sayang, jika aku bohong kau boleh mengambil semua perusahaan dan property yang aku punya untuk menjadi atas namamu." Ucapnya sungguh-sungguh.


"Benarkah?" Tanya Retha dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Iya jika aku bohong kau boleh mengambil semua asetku."


"Dengan senang hati." Ucap Retha dengan senyum mengejeknya.


Arga yang kesal karena Retha pun dengan cepat tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia segera menindih tubuh Retha dan mengunci pergerakan Retha yang terkungkung dibawahnya.


"Tapi jika aku tidak pernah berbohong padamu kau harus membuatkan banyak anak untukku." Kata Arga berbisik ditelinga Retha dan menggigit daun telinganya.


Retha membulatkan matanya mendengar perkataan Arga, apalagi dengan apa yang dilakukan sekarang membuatnya ingin mendesah tapi dia masih menahannya.


Setelah memberikan rangsangan rangsangan kepada sang istri Arga segera menyatukan milik mereka. Arga sudah tidak dapat menahan gairahnya lagi.


Arga seperti orang kesetanan dia terus saja melakukan penyatuan hingga menjelang pagi.


Pagi harinya Retha merasakan badannya serasa hancur berkeping-keping. Baru saja tertidur dia harus bangun karena harus ke kamar mandi. Baru saja hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba saja...


"Aww.." Dia meringis kesakitan dipangkal selangkangannya. Memang ini bukan lagi yang pertama bagi mereka tapi karena semalam Arga memasukinya entah beberapa kali hingga dia merasakan nyeri.


Arga yang mendengar rintihan sang istri pun terbangun. Dilihatnya sang istri meringis menahan sakit.


"Sakit? Maafkan aku..." Ucapnya sedih. Melihat Arga seperti itu seperti melihat anak kecil yang sedang merajuk tidak dibelikan mainan oleh ibunya.


"Kau tidak bersalah, kenapa harus minta maaf?" Kata Retha. Tak bisa dipungkiri dia tidak bisa menyalahkan Arga sepenuhnya karena Arga hanya meminta haknya sebagai suami lagipula dia juga menikmati permainan panas Arga tadi malam.


"Ayo aku antarkan, kau mau kemana?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku ingin ke kamar mandi." Ucap Retha sambil tetap memegang selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.


Arga segera mengangkat tubuh Retha dalam gendongannya dan menuju ke kamar mandi. Mereka segera membersihkan diri untuk menyambut pagi yang sudah mulai hilang.


__ADS_2