
"Lu da-dapet ini dari mana?" Tanya Orin terbata-bata. Entah kenapa sekarang jantungnya berdegup dengan kencang merasa jika hal ini tidak akan baik-baik saja untuknya.
"Gue nggak dapet dari mana-mana dan dari siapapun." Jawab Alex tegas. Tentu saja dia tidak dapat dari mana-mana sebab dia sendirilah yang bekerja untuk hal ini.
Orin semakin mengeram kesal, bagaimana mungkin dia bisa sampai kecolongan seperti ini padahal jika ditilik kembali baik dirinya maupun Marcel selalu bermain cantik dibelakang teman-temannya. Jika ingin berkencan saja mereka memilih tempat yang privasi dan tak banyak dikunjungi orang.
"Itu bukan gue!" Kilahnya sembari menatap Alex yang juga menatapnya dengan wajah dinginnya.
"Oh bukan lu ya?" Tanya Alex dengan senyum miringnya dimana membuat Orin bergidik ngeri. Selama mereka menjalin pertemanan, tak pernah sekalipun Alex bersikap seperti ini padanya. Meskipun Orin sering menolak cintanya tapi tatapan Alex masih tetap hangat tapi entah kenapa sekarang Orin merasakan ada yang beda dengan Alex. Apa karena dirinya yang tidak pernah menerima cinta Alex? Tapi bukankah cinta memang tidak bisa dipaksa. Lagipula kita juga tidak dapat menentukan dengan siapa kita akan jatuh cinta jika sang Pencipta sudah berkehendak.
"Mau lu apa?"
"Gampang, cukup lu jauhin si guru brengsek itu!" Orin pun membulatkan matanya tidak percaya, bagaimana bisa dia berjauhan dengan Marcel sementara Marcel adalah bagian dari hidupnya.
"Kalo gue nggak mau?" Tantang Orin dia masih belum mau menyerah begitu saja. Menurutnya ini masih terlalu dini untuk menyerah pada hal-hal yang penting.
"Tinggal gue kasih ini ke kepala sekolah dan boom nama lu dan si guru itu bakal jadi perbincangan hangat. Lu tau sendiri kan hampir semua orang disini begitu mengagumi pak Marcel apalagi para perempuan. Sekarang karena keegoisan lu sendiri, lu mau nama pak Marcel jadi jelek?"
Orin pun hanya diam mencerna semua yang dikatakan oleh Alex. Memang benar hampir semua wanita disini baik itu para siswi maupun guru perempuan mereka semua mengaggumi Marcel. Dan jika dirinya egois, entah bagaimana nasib Marcel. Dia tidak ingin Marcel dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Apalagi nanti jika mereka menjadi perbincangan hangat di sekolah, pasti akan banyak pula para siswi dan guru perempuan yang akan menghujatnya.
"Gue... Oke gue akan turutin apa mau Lu! Asal lu jangan sampai bocor masalah ini ke siapapun!"
__ADS_1
"Gue jamin gue nggak bakalan bocorin masalah ini. Dan satu lagi mulai sekarang lu harus jauhin guru tuh dan jangan bilang masalah ini ke dia!"
"Oke!" Jawab Orin dan langsung meninggalkan Alex begitu saja.
"Sorry Rin gue harus pakai cara ini. Gue tahu cara gue emang salah dan rendahan tapi gue nggak tahu lagi harus pakai cara apa biar lu mau deket sama gue!" Gumam Alex setelah kepergian Orin.
Ya. Ini semua memang lah rencana awal Alex. Alex akan mencoba untuk menjauhkan Orin dengan Marcel. Dan dengan begitu Alex akan lebih mudah untuk masuk ke hati Orin.
Sementara itu Orin memasuki kelasnya dengan perasaan campur aduk. Dari awal dia sudah kesal dengan kedekatan Marcel dengan Bu Salsa dan sekarang kepala tambah berdenyut mengingat ancaman Alex.
"Lah tuh bocah baru sampai!"
"Ada urusan dikit." Jawabnya malas. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan Marcel. Marcel adalah bagian terpenting dalam hidupnya meskipun hubungan mereka bisa dibilang baru tapi entah kenapa Orin merasakan hal berbeda dari itu. Orin merasa jika hubungannya dengan Marcel adalah suatu ikatan yang penuh dengan cinta.
"Ngeselin lu, gara-gara lu pada balik duluan jadi gue bayar!" Gerutu Felys yang masih kesal dengan kedua sahabatnya yang seenaknya saja meninggalkan dirinya.
Sementara itu Marcel sudah benar-benar pusing dengan sikap Bu Salsa yang sejak tadi menempel padanya. Padahal saat ini mereka sedang mengadakan rapat untuk membahas ujian Nasional yang akan segera di laksanakan. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah Orin yang tidak membalas pesannya. Kemana gadisnya? Apa dia sedang tidak baik-baik saja?
"Bu maaf ini sedang rapat, tolong profesionalnya!" Ucap Marcel dengan suara lirihnya sembari melepaskan pegangan tangan Bu Salsa. Bu Salsa pun hanya mampu menghembuskan nafasnya kesal menuruti apa yang dikatakan oleh Marcel.
Tak lama kemudian rapat pun selesai, dengan langkah seribu Marcel segera meninggalkan tempat itu. Selain untuk menghubungi kekasihnya juga untuk menghindari ulat bulu yang sejak tadi menempel padanya. Marcel pun bergidik ngeri membayangkannya, mungkin jika itu Orin dia akan dengan senang hati memberikan tangannya. Bahkan jika Orin meminta lebih Marcel akan memberikannya tapi mengingat itu Bu Salsa membuat Marcel muak saja.
__ADS_1
"Kamu kemana sih sayang!" Monolog Marcel sembari kembali menghubungi gadisnya itu. Dia tahu jika ini masih jam istirahat kedua jadi tidak mungkin kan jika Orin sedang belajar. Rasanya Marcel ingin menghampiri gadisnya saja, lalu menanyakan apa yang terjadi tapi dia tidak bisa. Dia sudah berjanji pada Orin jika mereka akan merahasiakan hubungannya. Lagipula Marcel juga tahu jika disini banyak orang yang menyukainya dan dia tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi mereka jika mengetahui dirinya memiliki hubungan dengan Orin.
"Eh Rin, hp lu dari tadi getar terus tuh! Nggak mau diangkat dulu siapa tahu penting!" Kata Aneta yang sedikit merasa terganggu karena getaran ponsel. Sementara Orin menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya lalu menghadapkan wajahnya ke meja. Ah sekarang pikirannya benar-benar buntu.
"Nggak perlu dari orang nggak penting!" Jawab Orin ketus membuat Aneta mengernyitkan keningnya tak mengerti. Orin sedikit berubah sejak kembali tadi. Apa karena melihat Marcel dengan Bu Salsa? Tapi bukankah Orin juga pernah melihat hal itu sebelumnya dan dia biasa saja tapi kenapa sekarang jadi Orin yang pemarah?
"Siapa tahu dari pak Marcel Rin!" Bisik Aneta agar tidak ada yang mendengar ucapannya.
"Ck, justru karena itu!" Lirih Orin.
"Lu marah karena tadi lihat pak Marcel sama Bu Salsa? Tapi bukannya lu udah biasa aja kan? Kenapa sekarang jadi marah?"
Orin pun masih terdiam dan tak menjawab ucapan Aneta. Dia masih berfikir apakah akan mencurahkan isi hatinya pada Aneta Kali ini atau dia hanya akan memendamnya saja.
"Iya gue kesel aja! Mana ada cewek yang nggak sakit hati lihat pacarnya deket sama cewek lain mana itu cewek genit banget lagi!" Jawabnya bohong. Tenyata dirinya masih belum bisa percaya pada orang lain bahkan pada sahabatnya sendiri.
"Ya elah Rin, lu kan harusnya tau kalau punya cowok cakep tuh gitu! Mending lu kekepin aja sana biar nggak ada yang deket-deket lagi!"
"Apa gue putusin aja ya Net! Dia kan yang suka banyak juga lagian banyak yang lebih cantik dari gue. Kayak Bu Salsa tuh!"
"Eh bibir lu Rin, kalau ngomong ngasal aja. Semarah-marahnya lu sama pak Marcel jangan sampai ada kata putus kalau lu nggak mau nyesel nantinya!" Nasihat Aneta pada sahabatnya itu. Entah kenapa hari ini dia merasa menjadi orang yang bijak. Sementara Orin hanya mampu menghela nafas pasrah.
__ADS_1