
Baru saja Orin hendak menghampiri dua orang yang sudah membuat telinganya panas, tiba-tiba perkataan suaminya selanjutnya membuat dirinya berdiri ditempat.
"Aku mau acara ulang tahun pernikahan kali ini berjalan lancar. Aku juga sudah memberitahu Daddy dan mommy, supaya membantu untuk menjaga si kembar!"
"Ya aku rasa kali ini pasti Orin akan terkejut dengan pesta ini. Ya sudah kalau tidak ada yang dibicarakan lagi aku mau balik ke kantor ku dulu masih banyak pekerjaan!"
"Ya ya!" Jawab Marcel kemudian ikut keluar dari restoran miliknya tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya.
Sementara Orin masih membeku di tempatnya, ternyata dia salah sangka. Suaminya tidak mengkhianatinya seharusnya dia tahu itu dan tidak memikirkan hal-hal buruk pada suaminya.
"Kamu denger kan, mereka itu buka selingkuh! Untung kamu gak langsung nyamperin!" Kata Rere memperingati teman sekaligus boss nya itu.
"Iya aku tahu, aku aja yang terlalu nethink tapi sebenarnya kasihan sih Marcel. Aku udah tahu nggak jadi kejutan lagi dong!"
"Ya kamu pura-pura nggak tahu aja, nanti pas disana pura-pura aja terkejut!" Jawab Rere lalu diikuti gelak tawanya membayangkan bagaimana wajah Orin yang sedang pura-pura terkejut.
"Ish ya udah kalau gitu mau pergi dulu, cari kado buat suami tersayang!" Ucapnya sambil melambaikan tangan pada Rere yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah boss yang terkadang masih labil itu.
Setelah keluar dari restoran Orin pun memutuskan untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Sebelum itu dia terlebih dahulu memesan taksi online karena memang sedang tidak membawa mobil dan juga tidak diperbolehkan membawa mobil sendiri oleh suaminya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama tiga puluh menit, akhirnya dia pun sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang dituju tetapi untuk sampai saat ini dia masih belum memikirkan kado apa yang pantas untuk sang suami.
Orin pun memasuki pusat perbelanjaan tersebut, kaki lincahnya tak bisa berhenti hanya di satu tempat. Ibu dua anak itu seperti tak pernah kehabisan energi jika berurusan dengan hal-hal mengenai belanja. Dia memasuki satu gerai ke gerai yang lainnya mencari sesuatu untuk di berikan pada Marcel.
"Harus kasih apa ya? Dia udah punya segalanya, udah punya anak-anak yang lucu tambah istri yang cantik kayak aku lagi!" Gumamnya yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Merasa tidak ada yang cocok akhirnya dia pun kembali keluar dari gerai penjual sepatu itu. Entah kemana lagi kakinya akan membawa dia hanya menurut saja. Saat sedang berkeliling tak sengaja netranya menangkap sebuah siluet setelan kerja yang menurutnya sangat cocok untuk sang suami. Tak perlu pikir panjang lagi Orin segera memasuki butik khusus pakaian pria tersebut.
"Nah ini pas buat kak Marcel!" Ungkapnya kemudian menyentuh setelan jas tersebut bersamaan dengan seorang wanita yang sama-sama menyentuhnya.
"Maaf saya yang pegang duluan!" Kata Orin kemudian mengambil setelan kerja tersebut. Tapi sepertinya wanita muda yang usianya tak jauh berbeda dengan dirinya itu pun tak mau kalah.
"Saya yang lihat dulu mbak!" Jawab wanita itu dengan ketus.
"Tapi saya yang pegang dulu, ibunya cari saja yang lain sana!" Ucap Orin dengan nada yang tak kalah ketus dimana membuat wanita itu terpancing emosi.
Tak lama kemudian datanglah seorang pegawai wanita yang sepertinya terusik dengan perdebatan kedua ibu-ibu muda itu.
"Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Setelan ini saya yang pegang dulu, tapi ibu-ibu ini mau rebut!"
"Cih sombong sekali anda, saya beli dengan harga tiga kali lipat!" Jawab Orin tak kalah sombongnya. Sebenarnya bukan harganya yang menjadi permasalahan untuknya. Dia memang sejak awal sudah menyukai setelan kerja tersebut karena potongan yang rapi dan juga kombinasi warna yang pas.
Sementara itu pegawai tersebut hanya bisa diam mendengarkan perdebatan dua orang yang sepertinya memang tidak mau mengalah.
"Emm bu begini saja, disini masih banyak setelan kerja yang lainnya. Dengan model yang sama tetapi warna yang sama memang tidak ada. Butik kami memang hanya menjual satu warna saja!" Ucap pegawai wanita itu kepada ibu-ibu yang menurut Orin sok kecantikan itu. Bagaimana tidak hanya datang ke pusat perbelanjaan saja apa harus membawa emas sebanyak itu? Bukannya terlihat kaya malah lebih terlihat seperti toko emas berjalan.
"Bagaimana kalau ibunya yang pilih model atau warna lain saja?" Kini giliran Orin yang mendapat pertanyaan itu dimana membuat dirinya menjadi semakin kesal.
__ADS_1
"Saya sudah pegang mbak, mbaknya nggak bisa gitu dong! Harus realistis, jangan karena ibu ini marah-marah mbaknya jadi takut."
"Tapi saya mau yang ini!" Kata wanita itu masih tidak mau mengalah bahkan hendak merebut setelan itu lagi tapi dengan cepat Orin menghindar.
"Jangan ngarep ya Bu, saya sudah pegang duluan!"
Karena merasa sudah kalah akhirnya wanita pun pergi begitu saja. Sementara Orin senang bukan main, apa yang dia inginkan sudah dia dapatkan. Tak mau jika harus berebut lagi Orin segera melakukan pembayaran sesuai dengan ucapannya tadi. Memberikan harga tiga kali lipat. Tak apa meskipun harganya menjadi mahal tetapi apa yang dia inginkan sudah dia dapatkan.
Setelah mendapatkan setelan kerja tersebut, Orin segera pergi dari sana. Dia merasa haus dan juga lapar karena berdebat dengan wanita yang tidak jelas menurutnya itu.
Selesai makan dia pun memutuskan untuk pulang lagipula hari sudah akan gelap dan ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Apalagi sebentar lagi pasti suaminya akan sudah pulang.
Sesampainya di rumah Orin segera masuk ke dalam kamarnya, tetapi sebelum itu dia terlebih dahulu meminta peralatan menjahit pada asisten rumah tangganya. Tak lupa dia mengunci pintunya dari dalam takut-takut jika sang suami tiba-tiba saja masuk.
Benar saja baru saja Orin hendak melakukan sesuatu pada dasi yang kebetulan tadi dia beli, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Tak lama kemudian terdengar suara seorang laki-laki yang memanggil namanya. Siapa lagi kalau bukan Marcel.
"Sayang, kamu ada di dalam? Kenapa pintunya di kunci?"
"Aku lagi sibuk, kamu jangan masuk dulu! Jemput anak-anak di rumah mommy saja!" Kata Orin dimana membuat Marcel mengerutkan keningnya. Memang apa kesibukan istrinya selama ini yang tidak dia ketahui.
"Tapi aku mau mandi dulu!"
"Mandi di rumah mommy saja, cepat nanti kita makan malam bersama!"
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau Marcel pun menurut apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia pun kembali masuk kedalam mobilnya lalu berangkat untuk menjemput kedua anaknya.
"Awww! Ishh sakit banget sih! Ini kalau bukan karena suami tercinta mana mau aku!" Ucapnya sambil meniup jarinya yang terkena jarum.