Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 13


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dimana semua siswa-siswi kembali pulang ke rumah masing-masing.


"Guys bentar guys kalian ke kafe Amera dulu nanti gue nyusul, oke?" Teriak Orin pada teman-temannya itu.


"Oke Rin." Jawab mereka serempak.


Saat ini Orin ingin menghubungi seseorang terlebih dahulu yaitu Marcel. Rencananya Orin akan berangkat bersama dengan guru dingin bermulut cabe itu. Alasannya jika hari ini dia sedang tidak membawa mobil padahal mobilnya dia titipkan ke Aneta.


"Hallo Pak Marcel?" Sapa Orin ketika panggilannya sudah terhubung ke Marcel.


"Ada apa Rin?" Tanya Marcel, dia sedikit curiga karena pada dasarnya Orin tidak pernah mau menyapa terlebih dahulu.


"Emm begini pak, tadi saya nggak bawa mobil rencananya saya mau numpang. Boleh nggak pak?"


"Iya tunggu saja di halte depan sekolah!" Jawabnya lalu memutuskan panggilan tersebut.


"ih apaan sih, kalo nggak terpaksa gini gue juga males kali numpang sama mobil lu be cabe!" Kesal Orin kemudian dia berjalan keluar kelasnya.


Tiba-tiba saja saat di gerbang sekolah, sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di sebelahnya. Dia sangat tahu betul itu adalah mobil Alex.


"Mau apa lagi sih nih bocah!" Kesal Orin dalam hati.


"Lu kagak bawa mobil Rin?" Tanya Alex ketika dia sudah menurunkan kaca jendelanya. Sementara Orin tetap berjalan tanpa memperdulikan ucapan Alex.


"Udah lah Lex, biarin aja kenapa sih!" Suara seorang wanita dari dalam mobil Alex. Mendengar suara wanita membuat Orin sedikit ingin tahu, dia pun melirik dengan ekor matanya. Ternyata dugaannya benar itu adalah suara Vanessa.

__ADS_1


"Gue lagi nunggu jemputan, jadi kalo lu mau kasih gue tumpangan nggak perlu banget. Lagian gue juga males banget satu mobil sama lampir!" Jawab Orin kesal, bagaimana bisa tadi Alex mengatakan bahwa dia mencintainya tapi sekarang? Oh tidak memikirkan Alex bisa-bisa membuat kepalanya pecah.


"Emang lu pikir Alex mau kasih tumpangan ke lu cewek freak kayak lu!"


"Udah deh Van, lu tuh lagi sakit jangan banyak bicara deh!" Kata Alex kesal karena tadi memang Vanessa beralasan jika dia sedang sakit kepala sehingga dia tidak bisa mengendarai mobilnya dan memilih menumpang mobil Alex.


Akhirnya Orin pun meninggalkan dua orang yang paling dihindarinya itu. Dia duduk sendiri di halte tersebut sambil menunggu seseorang datang. Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna lemon berhenti di depannya. Orin memicingkan matanya, sebelumnya dia belum pernah melihat mobil tersebut. Saat Orin mengamati tiba-tiba saja kaca mobil tersebut di turunkan dan tampaklah laki-laki dewasa penuh dengan kharisma sedang duduk di belakang kemudi.


"Masuklah!" Perintah Marcel dengan dingin. Orin pun melangkah dan masuk ke dalam mobil tersebut. Dalam hati dia benar-benar menggerutu gurunya tersebut memang tidak ada manis-manisnya seperti laki-laki kebanyakan. Marcel membiarkannya masuk sendiri tanpa membukakan pintu untuknya.


Di dalam mobil tidak ada yang mengucapkan kata sedikit pun, mereka terdiam dalam lamunan masing-masing. Marcel mengendarai mobilnya dengan sangat santai. Untung hari ini dia membawa mobil kesayangannya. Mobil kesayangan karena dari orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Jika hari ini dia mengendarai motor pasti banyak orang yang tahu jika dirinya bersama dengan Orin. Untuk saat ini status mereka masih guru dan murid akan sangat berpengaruh jika nanti terjadi sesuatu.


Setelah melewati perjalanan yang membosankan menurut Orin karena sejak tadi mereka hanya diam saja tidak ada yang mulai pembicaraan apalagi dengan Marcel yang memutar lagu-lagu jazz klasik membuat Orin ingin tidur saja. Mobil yang mereka tumpangi pun sampai di parkiran kafe Amera. Mereka pun keluar bersama dan berjalan beriringan menuju ke dalam kafe tersebut.


Dari yang Marcel lihat kafe tersebut cukup mewah. Arsitektur serta ornamen yang ada menggambarkan jika kafe tersebut hanya dimasuki oleh orang-orang kaya. Sementara Marcel dia sendiri tidak pernah datang ke kafe tersebut ataupun kafe-kafe yang lain karena waktunya hanya dihabiskan untuk belajar.


"Lama banget sih lu Rin!" Ucap Gaga teman sekelas Orin.


"Sorry tadi jalannya agak macet!" Jawab Orin sementara teman-temannya mulai berbisik-bisik karena disamping Orin terdapat guru yang sangat diidolakan oleh para siswi itu.


Marcel semakin mengernyitkan keningnya tak mengerti bukankah mereka hanya janjian berdua sementara sekarang sudah seperti rombongan piknik saja.


"Jadi guys hari ini gue mau kasih tahu ke kalian kenapa gue berangkat sama pak Marcel karena sebenarnya ini semua itu ide pak Marcel, beliau mengajak kita makan makan di hari ulangtahunnya tapi beliau malu buat ngomongnya!" Ucap Orin pada teman-temannya dan langsung disambut riuh suara serta tepuk tangan.


"Selamat ulangtahun pak ganteng!" Kata para siswi dimana membuat Pak Marcel kebingungan, dia mulai merasa jika Orin memang sedang mengerjainya.

__ADS_1


"Tapi saya ti-!" Belum sempat Marcel melanjutkan ucapannya Orin sudah memotongnya.


"Udah lah jangan malu-malu, mereka seneng kok!"


"Oke temen-temen jangan lupa ucapin terimakasih buat traktiran dari pak Marcel ya!" Teriak Orin lagi dimana membuat semua teman-temannya bersorak gembira.


Dalam hati Orin ingin tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah bingung serta kesal dari Marcel. Dia yakin setelah ini pasti Marcel akan membatalkan semua jadwal tambahan belajar yang sudah mereka sepakati itu.


Sedangkan Marcel hanya bisa bernafas pasrah sambil tersenyum palsu di depan murid-muridnya. Bukannya dia tidak suka berbagi tetapi untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat apalagi ini hanya akal-akalan dari Orin.


Setelah mengucapkan itu semua Orin memilih duduk bersama teman-temannya meninggalkan Marcel sendirian.


"Gue tahu lu pasti lagi ngerjain pak Marcel kan?" Tanya Aneta dengan penuh selidik.


"Gue cuma ngerjain dikit doang Net!" Jawab Orin acuh sambil tetap memainkan ponselnya.


"Dikit apanya? Lu gila temen sekelas lu ajak makan di restoran mewah gini. Kira-kira bakal habis berapa Rin!" Kata Aneta gemas tidak mengerti dengan jalan pikiran temanya itu. Sebenarnya Aneta tidak masalah jika Orin mengerjai Marcel tapi yang menjadi masalah adalah Orin akan banyak mengeluarkan uang Marcel sementara kita tidak tahu seberapa banyak kebutuhan yang akan Marcel butuhkan.


"Kan nggak tiap hari juga Net, ya udah lah udah terlanjur juga!"


Aneta pun hanya menggelengkan kepalanya, temannya itu masih sama seperti dahulu suka berbuat sesuka hatinya dan tanpa perhitungan.


Sementara di sisi lain tampak Marcel sedang mendapatkan panggilan dari seseorang. Dia memilih untuk pergi ke tempat yang tidak terlalu ramai.


"Bagaimana hari ini? apa berjalan lancar?" Tanya seseorang diseberang sana.

__ADS_1


"Tidak lancar sama sekali, dia mengerjai ku habis-habisan!" Jawab Marcel dengan pasrah karena hari ini dia harus merogoh dompetnya lebih dalam lagi.


"Bersabarlah pasti akan ada pelangi setelah hujan!" Kata orang tersebut kemudian memtuskan panggilan mereka. Marcel pun tersenyum mendengar suara orang tersebut sudah seperti mendapat kekuatan kembali.


__ADS_2