
Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa matahari sudah kembali ke asalnya. Sebenarnya bukan salah waktu yang berputar secara cepat tapi salahkan hati yang masih merasakan rindu yang kunjung tak padam. Mungkin karena begitu nyaman dua insan yang tengah belajar bersama lebih tepatnya berkedok belajar bersama sebab bukan itu tujuan aslinya hingga melupakan waktu yang terus berputar.
"Hari ini cukup sampai disini saja dulu! Kita sambung lain waktu." Ucap Marcel sambil membersihkan meja yang berserakan penuh dengan kertas-kertas itu. Awalnya memang sulit untuk mengajar Orin tapi setelah mendapatkan penjelasan darinya ternyata Orin sebegitu tanggapnya jadi dia yakin Orin akan belajar dengan cepat.
"Ah ya terimakasih pak!" Jawab Orin sambil menyembunyikan rona merah diwajahnya.
"Oh iya saya punya rekomendasi buku-buku bagus sebagai penunjang belajar untuk menghadapi ujian nasional. Jika kamu mau kita bisa beli bersama-sama lain waktu, bagaimana?"
"Ya tentu saja saya mau pak." Tentu saja Orin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bersama laki-laki yang beberapa hari ini sudah mampu menggetarkan hatinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, selamat sore?"
"Selamat sore!" Jawab Marcel dia tidak ikut mengantar Orin ke bawah.
Dengan segera Orin melajukan mobilnya meninggalkan tempat yang membuatnya panas dingin sebelum hujan turun membasahi bumi. Setelah mengendarai mobil selama satu jam akhirnya mereka pun sampai dirumahnya. Segera dia memarkirkan mobilnya di dalam garasi.
"Selamat sore non, baru pulang?" Sapa Bi Yana salah satu asisten rumah tangga yang sedang membereskan ruang keluarga.
"Iya bi, Nanti makan malamnya dibawa ke kamar saja ya?"
"Baik non!"
Orin pun melanjutkan jalannya menuju lantai atas masuk kedalam kamarnya. Dengan segera dia melepaskan tas serta sepatunya.
__ADS_1
"Kenapa sih gue senyum-senyum sendiri gini!" Ucapnya sambil merebahkan dirinya di atas ranjang tak lama kemudian hujan pun turun.
******
Ditempat lain seorang laki-laki tengah berbaring diatas ranjangnya. Hujan gerimis melanda hampir seluruh kota Jakarta. Guntur serta kilatnya menerangi bumi yang mulai menggelap.
Baru saja mereka berpisah beberapa jam tapi rasanya angin sudah mengantarkannya kembali pada zat kerinduan.
Dimalam yang terasa amat sangat panjang ini, hanya suara derasnya hujan serta kilatan guntur yang menemani malam kesendiriannya. Marcel tak kunjung memejamkan matanya, dia terus berguling-gulingan layaknya balita yang sedang ditinggal oleh sang ibu. Dia sudah berusaha memejamkan matanya namun tetap saja tak kunjung mengantarkannya ke alam mimpi. Saat ini yang dipikirkan olehnya hanya seorang gadis manis yang tadi sore menemaninya menikmati senja. Orin.
"Ayo dong mata terpejamlah, besok kita akan bertemu lagi dengannya ya?" Monolognya pada diri sendiri.
Karena tak kunjung tidur, Marcel pun kembali duduk dan bersabda di kepala ranjang. Ditariknya sebuah almari dibawah nakas, diambilnya sebuah album foto. Dengan perlahan dia pun mulai membuka lembar demi lembar album foto tersebut. Entah sadar atau tidak setiap melihat foto tersebut dirinya menyunggingkan senyum bahagia.
"Maaf belum bisa mengatakan yang sebenarnya, aku masih takut kalau kamu membenciku!" Ucapnya pada salah satu foto tersebut. Perlahan dia mulai mengusap foto seorang gadis kecil yang tengah membawa boneka panda.
Marcel pun kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang lalu mendekap erat album tersebut sebagai pelepas rindunya pada gadis yang selalu mampu menguasai hatinya itu.
*****
Kembali lagi pada Orin yang tengah menikmati makan malamnya di kamar. Bukan karena manja tapi orang tuanya sedang tidak ada di rumah dan dia tidak suka makan dengan keheningan. Sudah beberapa kali dia mengajak asisten rumahnya maupun penjaga di depan rumah tapi mereka pun menolak meskipun tidak secara langsung. Selesai makan dia mengembalikan nampan ke dapur lagi.
Selesai makan dia mulai berbaring kembali di atas ranjang. Mencoba memejamkan matanya sebab masih ada hari esok yang akan menantinya.
__ADS_1
Pagi hari Orin berangkat terburu-buru, meskipun tidak kesiangan tapi entah mengapa dia sekarang lebih suka berangkat pagi dan tidak terburu-buru. Hari ini dia memakai seragam olahraga sebab nanti akan ada mata pelajaran olahraga. Mata pelajaran kedua yang paling tidak dia sukai.
"Non tidak sarapan dulu?" Tanya bi Yana yang sedang menyiapkan susu serta sarapan Orin.
"Sarapan di sekolah saja bi!" Jawabnya kemudian menenggak satu gelas susu yang sudah dibuatkan bi Yana.
"Ini bibi udah siapkan sandwich-nya non?"
"Ya sudah kalau begitu bibi taruh di kotak makan saja ya! Nanti Orin makan di sekolah saja!"
"Baik non." Jawab bi Yana kemudian kembali ke belakang untuk mengambil kotak makanan.
"Agak banyak ya bi!" Teriaknya lagi sambil menikmati buah apel yang berada didepannya.
Tak lama kemudian bi Yana kembali dengan sebuah kotak makan ditangannya dan memberikannya pada majikan mudanya itu.
"Terimakasih bi! Aku berangkat dulu!"
"Iya non, hati-hati dijalan!"
Orin pun segera mengendarai mobilnya membelah jalanan pagi ibukota yang masih agak sepi itu. Tak lupa dia menyalakan lagu-lagu kesukaannya. Dua puluh menit kemudian mobil Orin pun sampai di sekolah. Dengan segera dia menuju ke kelasnya.
Bel pun berbunyi menandakan jam pelajaran dimulai. Dengan malas Orin beserta teman-teman lainnya berjalan keluar kelas menuju ke lapangan basket yang berada ditengah-tengah sekolahnya itu. Mereka pun mulai melakukan pemanasan sebab guru olahraga sudah menunggu mereka di lapangan.
__ADS_1
"Kenapa harus ada pelajaran olahraga sih!" Kesal Orin pada siapapun yang berada di sekitarnya. Orin pun terus menggerutu sejak tadi sebab teman-teman laki-laki di sekolahnya mulai memandangi dirinya itulah yang tidak dia sukai.
Saat melakukan pemanasan tiba-tiba saja dia merasakan pusing yang hebat pada kepalanya. Lama-kelamaan pandangnya mulai buram dan setelah itu Orin tidak tahu lagi apa yang terjadi....