
Selesai makan malam Marcel mengantarkan Orin kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya bersenda gurau tanpa tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Sesampainya di depan gerbang rumah calon istrinya Marcel segera pamit sebab sudah terlalu larut malam lagipula dia juga harus menyelesaikan beberapa hal.
***
Orin berjalan memasuki rumahnya dengan perasaan gembira sebentar lagi dirinya akan sah menjadi nyonya Marcel. Menggelikan memang tapi mau bagaimana lagi namanya juga cinta.
Mereka berdua sudah memutuskan, lebih tepatnya Orin memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya tahun depan saja. Tahun ini dia ingin fokus menjadi istri yang baik untuk sang suami. Lagipula tahun pertama pastinya juga masih sedang hangat-hangatnya tidak enak kan lagi mesra-mesranya lalu harus mengerjakan tugas kuliah.
"Selamat malam dad mom!" Sapa Orin ketika mengetahui kedua orang tuanya yang masih sibuk menonton TV di ruang keluarga.
"Malam sayang, gimana tadi udah dapat tempatnya?" Tanya sang mommy sambil menyuruh Orin untuk duduk disampingnya. Orin pun dengan senang hati duduk disamping mommy Retha sambil bergelayut dilengannya.
"Udah mom, tempatnya besar sih kira-kira cukup lah buat resepsi nanti!"
"Kenapa kalian nggak pakai ballroom hotel keluarga kita saja? Tempatnya juga tak kalah luas, kalian bisa memilih untuk yang mana!"
"Pak Marcel nya nggak mau dad, katanya ini pernikahannya jadi dia sebagai mempelai pria harus bertanggung jawab untuk segalanya termasuk biaya pernikahan."
"Iya sudah terserah kalian saja, jika ada apa-apa kalian bisa minta bantuan ke dad!"
"Siap dad, aku keatas dulu ya udah ngantuk banget!" Katanya kemudian meninggalkan dua insan manusia yang sedang memadu kasih meskipun usianya tidak lagi muda itu.
Sampai di kamarnya Orin segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Ranjang yang sebentar lagi akan dia tinggalkan. Saat pandangannya menerawang menatap langit-langit kamarnya, Orin mengingat sesuatu hal. Dia segera bangkit dari ranjangnya lalu pergi ke walk in closet untuk mencari sesuatu disana. Setelah mendapatkan yang dicari Orin segera membawa kotak kardus itu keatas ranjangnya.
__ADS_1
Dibukanya perlahan kardus tersebut, tangannya mulai lincah menjelajahi seluruh isinya. Orin tersenyum melihat foto-foto masa kecilnya bersama seseorang.
"Kak, bentar lagi aku akan menikah. Emm apakah disana kakak juga sudah menikah dengan wanita pilihan kakak?"
"Aku harap kakak bahagia seperti yang kakak ucapkan dulu." Katanya lagi sembari menerawang masa lalu yang menyakiti hatinya. Penolakan dari laki-laki itu sungguh membuat hatinya sakit.
"Sesuai yang kak Angga mau, aku tidak akan mengganggu kakak lagi. Tenang saja kak, kakak tetap ada dihatiku. Cintaku untuk kalian sama." Orin kembali tersenyum melihat tulisan-tulisannya di masa lalu. Disana Orin menuliskan namanya dan juga nama Angga.
"Kak sebenarnya aku ingin mengundang kakak di pernikahanku tapi karena kakak bilang tidak ingin melihatku lagi jadi aku mengurungkannya. Aku harap kita bisa sama-sama bahagia meskipun kebahagiaan kita karena kita tidak bersama!" Ucapnya sambil meraih salah satu pigura yang memperlihatkan wajahnya dan seorang pria. Kala itu usianya masih tujuh tahun dan laki-laki itu berusia tujuh belas tahun.
Orin mengingat hal yang paling menyedihkan dalam hidupnya, dilupakan oleh orang yang paling kita percaya dan juga kita cintai. Kala itu usianya masih delapan tahun, belum mengetahui apapun yang dia tahu hanya apa yang mereka ucapkan padanya. Jika mereka mengatakan tidak menyukainya dan membencinya bukankah itu juga yang akan masuk dalam pikirannya. Dan pikiran itulah yang Orin bawa sejak dahulu.
Dan selama ini Orin tidak mengetahui bahwa dirinya sedang jatuh cinta dengan orang yang sama. Entah apa yang akan terjadi jika Orin mengetahui hal itu!
***
Pagi ini mereka sudah berencana untuk mengunjungi salah satu desainer yang sudah mommy Retha rekomendasikan. Karena Orin memiliki desain gaun pernikahan sendiri untuk upacara pemberkatannya, jadilah dia meminta desainer itu untuk membuatkannya.
Dengan perasaan gembira dan tak henti-hentinya bibirnya menyunggingkan senyum sepanjang perjalanan ke butik yang ada di salah satu mall milik neneknya yang sekarang sudah berganti nama menjadi milik mommynya itu. Hari ini Orin berangkat ke mall tersebut dengan diantar oleh seorang sopir, awalnya Marcel berencana untuk menjemput Orin namun ternyata pagi ini dia masih harus menyelesaikan urusan kantor jadilah Orin berangkat bersama sang sopir.
Dia juga sudah berencana untuk mengajak Aneta, tapi ternyata gadis itu sedang sibuk mempersiapkan rencananya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan yang lebih membuat Orin tercengang adalah penuturan Aneta tentang jurusan yang akan gadis itu ambil.
"Mang Asep pulang aja dulu, nanti saya pulangnya sama pak Marcel aja!" Ucap Orin ketika mereka sudah sampai di lobby mall tersebut.
__ADS_1
"Baik nona, jika ada sesuatu bisa telepon saya!" Orin menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari mobil setelah mang Asep membukakan pintu. Dengan langkah anggunnya Orin berjalan masuk kedalam mall tersebut sembari membawa sebuah map disisi tangan yang lainnya.
"Bu Rerenya ada?" Tanya Orin pada salah satu pegawai yang berada di butik RR itu.
"Ada di dalam. Mari ikuti saya keruanganya!" Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan yang dimaksudkan oleh sang karyawan. Setelah mengetuk pintu dan diperbolehkan masuk, mereka pun masuk tak lama kemudian sang karyawan kembali undur diri untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Orin ya ampun sekarang sudah besar ya!" Sapa Rere dengan ramah. Rere adalah salah satu orang kepercayaan mommy Retha jika beliau membutuhkan gaun maupun pakaian lainnya. Sebenarnya bukan hanya Rere saja orang kepercayaan mommy Retha, masih banyak yang lainnya pula tapi untuk pernikahan sang putri mommy Retha menyarankan pada Rere saja.
"Eh iya Tan, wah koleksi gaun Tante bagus-bagus banget sih!"
"Ah kamu bisa aja, nanti kalau kamu pulang kamu pilih satu gih gaun buat kamu pakai, gratis!"
"Makasih Tante Rere."
"Eh iya mana calon suami kamu?"
"Masih ada urusan tan nanti katanya nyusul."
"Oh, mana katanya kamu punya desain sendiri?" Tanya Tante Rere kemudian Orin menyerahkan map sedari tadi yang dia bawa dari rumah.
"Ini sih bagus banget Rin, tapi nanti sedikit ada yang Tante rubah ya! Ada beberapa yang akan Tante tambahan dibeberapa sisinya!" Orin hanya mengangguk setuju, mau bagaimana lagi jika lebih bagus kenapa tidak?
Mereka pun berbincang-bincang lama sambil Tante Rere mengukur tubuh Orin. Tak lama kemudian Marcel datang dengan senyum yang terbit dari bibirnya. Mereka pun melakukan fitting baju bersama. Selesai fitting baju, Orin dan Marcel memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan aktivitasnya nanti.
__ADS_1
Visual Orin guyss!!!