Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
95


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu dimana hari membuat sebagian orang bermalas-malasan. Sama seperti Arga yang masih meringkuk dibawah selimut setelah penyatuan mereka tadi malam. Retha sudah bangun dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Kemarin mereka pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin kandungan Retha. Dan dokter menyarankan agar Retha sering berolahraga jalan kaki di pagi hari itu akan membantu persalinannya nanti.


Retha sedikit meringis mendengar ucapan sang dokter. Pasalnya sejak kehamilannya Retha lebih banyak tidur daripada melakukan kegiatan lainnya. Bahkan dia seringkali terbangun ketika Arga sudah pergi ke perusahaan dan Noel sudah pergi bermain dengan pengasuhnya.


"Arga ayo bangun temani aku jalan-jalan pagi!" Kata Retha sembari menyibakkan rambut Arga yang menutupi keningnya itu.


Arga hanya menggeliat sedikit dan malah membenarkan selimut untuk membungkus tubuhnya. Retha yang melihat itu pun memajukan bibirnya kesal.


Karena kesal Retha pun mengambil piyama tidurnya yang tergeletak dilantai itu. Retha menggelengkan kepalanya mengingat percintaan mereka semalam. Itu percintaan mereka setelah beberapa bulan mereka berpuasa untuk melakukan hubungan suami istri.


Retha kembali memutar memorinya tadi malam dimana Arga dengan ganasnya tidak membiarkan tubuh Retha untuk beristirahat sedikitpun. Meskipun Arga melakukannya dengan lembut dan juga pelan tetap saja membuat Retha sedikit kewalahan. Mungkin itu semua efek dari beberapa bulan mereka tidak melakukan penyatuan.


Kemudian Retha pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi guna membersihkan peluh semalam yang membuat tubuhnya sedikit lengket. Selesai mandi dilihatnya sang suami masih terlelap. Dia pun mengambil sebuah celana panjang khusus ibu hamil serta sebuah jaket. Karena masih musim hujan dan tentunya akan dingin Retha lebih memilih memakai pakaian panjang.


"Arga ayo bangun?"


Arga pun menatap tak percaya ketika melihat Retha sudah rapi dengan setelan olahraganya. Biasanya wanita itu masih terlelap ketika dia berangkat bekerja.


"Mau kemana?"


"Jalan-jalan pagi. Bukannya kemarin kau sudah mendengar jika dokter menyuruhku melakukan jalan-jalan pagi?"


"Ya tapi ini kan hari liburku, aku masih ingin memelukmu sepanjang hari dan menyirami benih kita supaya tumbuh lebih subur lagi." Kata Arga sembari menyeringai menatap Retha.


Retha pun membulatkan matanya, di suasana sepagi ini Arga sudah mengatakan hal-hal yang berbau dengan kemesuman. Dasar laki-laki sama saja karena sudah diperbolehkan Retha pasti harus sering bergadang semalaman untuk melayani suaminya.


"Kau menyebalkan, ya sudah jika tidak mau aku akan berangkat sendiri. Siapa tahu nanti di jalan bertemu dengan pangeran tampan yang naik kuda putih!" Ucap Retha sambil menahan tawanya. Sudah bisa dipastikan bagaimana wajah kesal Arga sekarang.


"Jangan harap ada pangeran kuda putih. Tunggulah di luar aku akan segera menyusul mu!" Katanya kemudian mencuri ciuman sekilas pada bibir Retha.


Retha pun keluar kamar dia memilih menunggu Arga di meja makan saja sambil menyantap beberapa lembar roti dengan selai coklat serta susu.


"Selalu saja jika mandi pasti lama!" Gerutu Retha. Kemudian dia pun berlalu menuju ke ruang keluarga untuk memakai sepatunya disana.

__ADS_1


Setelah tiga puluh menit membersihkan diri serta bersiap Arga pun keluar dari kamarnya dan menghampiri Retha yang sepertinya sedang kesusahan untuk mentalikan sepatunya sendiri. Arga yang melihat itu segera membantu Retha. Dia berlutut didepan Retha kemudian mentalikan sepatu tersebut dan bergantian dengan yang sebelahnya.


Retha pun sedikit terkejut dengan perlakuan Arga. Meskipun hanya hal-hal kecil tapi itu sudah membuat pipi Retha merona. Retha masih terpaku menatap Arga sampai sebuah kecupan di hidungnya mengembalikan dirinya dari lamunan.


"Lain kali jika tidak bisa melakukan sendiri, mintalah bantuan padaku jika aku sedang tidak ada minta pada pelayan. Mereka semua sudah aku bayar untuk memenuhi kebutuhanmu dan kebutuhan kita." Jelas Arga, dia tidak ingin Retha dalam kesulitan meskipun itu kesulitan sekecil apapun.


"Tidak perlu ini hanya hal kecil aku bisa menanganinya sendiri."


"Bagaimana caranya membungkuk saja kau kesusahan!" Cibir Arga karena kesal Retha selalu saja tidak mau merepotkan orang lain.


"Tunggu sebentar kau mau kemana? kenapa terlihat rapi sekali?"


"Bukannya kau tadi mengajakku untuk jalan-jalan pagi?"


"Iya tapi kenapa kau jadi tampan begini memakai pakaian seperti ini!" Retha pun merutuki mulutnya yang berbicara diluar kendalinya. Sedangkan Arga tersenyum-senyum mendengar penuturan Retha. Pasalnya istrinya itu terlalu malu jika mengatakan hal-hal romantis seperti itu.


Tetapi Arga pun kembali melihat pakaian yang dipakainya. Sepertinya tidak ada yang salah dia hanya memakai sweatpants pendek sebagai bawahan serta kaos berwarna army dan tak lupa sepatu olahraganya.


"Kau tidak jadi tampan!" Kesal Retha setelah melihat wajah Arga yang sudah bangga karena disebutkan tampan oleh istrinya itu.


Retha pun meninggalkan Arga yang masih saja menggerutu karena Retha mengatakan jika dirinya tidak tampan. Entah Retha juga tidak mengerti mengapa sekarang Arga menjadi senarsis itu.


Mereka berjalan keluar rumah menyusuri jalanan komplek yang sedikit sepi. Memang tempat tinggal Arga bisa dikatakan sangat lah sepi. Bayangkan saja baik Retha maupun Arga tidak mengenal seorang tetangga baik di kanan maupun kiri rumahnya. Mereka hanya sesekali terlihat dengan naik mobil mungkin untuk berangkat bekerja.


Akhirnya mereka pun sampai di taman komplek. Di sana sudah sedikit ramai banyak anak-anak kecil maupun orang dewasa yang menikmati udara dingin selagi hari masih pagi dan belum terlalu terkontaminasi oleh asap mobil.


Mereka pun mengitari beberapa kali taman tersebut sampai akhirnya Retha merasa sudah kelelahan kemudian mereka pun mencari tempat duduk yang dirasa cukup nyaman. Dengan sigap Arga pun segera memijit pelan lengan serta kaku Retha.


Arga sendiri pun tidak mengerti dulu dirinya tidak mau tunduk pada siapapun tapi entah kenapa sekarang bahkan dia berlutut untuk Retha istrinya itu.


"Minumlah kau tampak sangat lelah!"


"Ya..." Jawab Retha yang masih mengatur nafasnya untuk normal. Bagaimana banyak wanita yang tidak iri menatap Retha maupun Arga. Mereka sudah seperti sepasang suami istri yang terlihat serasi serta bahagia. Arga pun selalu sigap jika Retha meminta sesuatu secara tiba-tiba.


"Hey boy apa kau sedang mencari seseorang atau sesuatu?" Tanya Arga ketika melihat seorang anak kecil berusia kira-kira lima atau enam tahun.

__ADS_1


"Seseorang." Jawab anak itu. Jika dilihat-lihat anak itu pastinya adalah anak dari seseorang yang tinggal di komplek tersebut karena di komplek itu para penjaga tidak memperbolehkan orang luar masuk tanpa ada tujuan yang jelas serta izin dari tempat yang akan didatangi.


"Mom or dad?" Sekarang berganti Retha yang bertanya pada pria kecil itu.


"Pengasuhku."


"Oh kemana mommymu? kenapa tidak ikut menemanimu jalan-jalan?"


"Ayah bilang mom sudah berada di surga." Jawab polos anak itu kemudian Retha mengerti mungkin ini dari anak laki-laki itu memang sudah tiada.


Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka.


"Ya Tuhan tuan kecil untung saja aku bisa menemukanmu jika tidak pasti tuan akan marah!" Ucap wanita itu yang tampak seperti kelelahan.


"Aku tadi bosan makanya aku jalan-jalan sendiri."


"Baiklah sekarang ayo kita pulang, sebentar lagi tuan dan Tante Vira akan datang!"


"Aku tidak mau bertemu dengan Tante Vira, dia jahat bi!"


"Jangan berkata seperti itu tuan kecil jika nanti tuan mendengar pasti tuan akan marah pada tuan kecil lagi!"


"Terimakasih nyonya dan tuan, kami harus pamit terlebih dahulu!" Retha dan Arga pun hanya mengangguk.


"Kasihan ya anak itu ditinggal ibunya saat masih kecil!" Ujar Retha dia pun tersenyum miris.


"Makanya kau jangan sampai meninggalkan kita nanti!" Kata Arga sambil mengelus perut Retha yang sudah membesar seperti bola itu.


"Ayo kita pulang!" Ajak Arga.


"Gendong ya?"


"Oh gendong ya? Upah apa yang akan kau berikan jika aku menggendongmu?" Tanya Arga dia mulai tersenyum nakal menunggu jawaban Retha.


"Terserah kau, aku sudah sangat lelah!"

__ADS_1


"Baiklah sayang aku akan menagih upahmu nanti ketika dirumah."


__ADS_2