
Marcel terbangun saat matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Dia menatap gadis yang tengah berbaring di atas ranjangnya. Wajahnya cantik bak jelmaan Dewi Yunani. Suaranya terdengar teratur menandakan bahwa dia masih tertidur. Ah sepertinya bukan tertidur melainkan pingsan.
Dengan hati-hati Marcel menyentuh sisi wajah Orin. Menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan. Wajahnya cantik dan juga manis. Apalagi bibirnya yang berwarna pink.
Marcel tersenyum getir, gadis di depannya masih enggan untuk membuka matanya dimana membuat hatinya terasa di tusuk ribuan belati tak kasap mata.
"Hey sayang bangunlah!" Ucapnya sambil memegang tangan Orin. Sebenarnya dia merasakan sakit bagian punggungnya karena harus tidur dengan posisi duduk.
"Bukannya dulu kau sering bilang jika ingin hanya aku yang kau lihat pertama kali saat dirimu membuka mata dan sekarang aku sudah ada disini tapi kenapa kau masih belum mau membuka matamu!" Ujar Marcel dengan nada sendu. Matanya sudah kembali berkaca-kaca siap melelehkan butiran bening itu.
"Sekarang kau sudah dewasa, andai saja kau sudah lulus sekolah pasti aku akan mewujudkan semua mimpi-mimpimu dulu. Bukankah dulu kau sering mengatakan jika ingin menikah denganku? Setiap hari kau mengatakan itu, kau ingin aku ada setiap kau akan menutup mata dan saat membuka mata. Bukankah dulu kau juga ingin mempunyai anak-anak yang lucu-lucu dariku? Sekarang buka matamu dan aku akan mewujudkan itu semua?"
"Sayang tidak sudahkah kau cukup menyiksaku seperti ini! Aku tahu, dulu aku sudah melakukan kesalahan besar dan sekarang aku ingin menebus kesalahanku!"
Kini Marcel sudah tidak bisa menahan laju air matanya. Padahal dia terkenal sebagai laki-laki yang kuat dan tidak pernah menangis. Sedari kecil dia sudah terbiasa hidup susah jadi untuk apa menangis. Tapi sekarang keadaanya berbeda, orang yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya. Ini semua gara-gara dirinya. Ya dirinya yang tidak bisa bertanggung jawab.
Di depan kamar Orin, mommy Retha yang tadinya ingin menemui Marcel untuk menyuruhnya membersihkan diri terlebih dahulu menjadi terdiam membeku di tempatnya. Dia tahu jika Marcel memang mencintai Orin tapi dia tidak tahu jika Marcel sedalam itu dalam mencintai Orin.
"Sayang ayo cepat buka matamu! Atau kau mau aku menghukummu terlebih dahulu!" Ucapnya kemudian mengusap kening Orin. Jika dalam keadaan seperti ini, dia menjadi teringat akan sesuatu hal. Bagaimana dulu dirinya bertemu dengan gadis tercintanya ini.
flashback
Orin tampak bersorak gembira ketika mendengar nanti malam Daddy dan juga mommynya akan pergi ke sebuah acara amal perusahaan rekan bisnis Daddynya. Gadis itu sibuk memilih gaun yang akan dia gunakan nanti malam. Dia sudah tidak akan sabar untuk menghadiri acara amal tersebut.
Siapa yang tidak menyukai pesta? Tentu semua gadis kecil seperti dirinya akan suka, apalagi di usianya yang masih menginjak enam tahun. Dimana dirinya sedang senang-senangnya mencari hal-hal baru dan bertemu dengan teman-teman barunya. Apalagi jika acara amal pasti pihak pemilik acara akan mendatangkan beberapa anak panti asuhan sebagai salah satu perwakilan penerima donatur.
Sejak kecil orang tuanya tidak pernah membeda-bedakan dengan siapa dirinya akan berteman. Mau mereka kaya atau miskin sekalipun. Hanya saja orang tuanya akan melarang jika dirinya berteman dengan anak-anak yang akan menimbulkan dampak negatif padanya.
__ADS_1
"Mom bisa tolong Carikan gaun untukku? Aku bingung harus memakai gaun mana nanti malam." Kata Orin kecil, tangannya masih sibuk membolak-balikkan gaun yang ada didalam lemari pakaiannya.
"Pakai yang mana saja sayang, putri mommy sudah cantik jadi pakai baju apa saja pasti akan terlihat lebih cantik lagi!"
"Ck, mommy selalu seperti itu." Kesalnya sembari mengerucutkan bibirnya. Kini dia duduk di tepi ranjangnya. Dia tahu jika nanti mommy pasti akan memilihkan gaun untuknya.
"Minum dulu vitaminnya sayang, nanti mommy akan pilihkan gaun untuk kamu!"
"Baiklah, kakak nanti ikut mom?"
"Tidak kakak ada tugas dari sekolah jadi dia tidak ikut." Jawab mommy Retha sembari mengambilkan sebuah gaun berwarna merah maroon untuk di pakai putrinya nanti.
"Kakak pasti seperti itu!" Meskipun dia kesal karena kakaknya yang jarang ada waktu untuknya itu tapi Orin sangat mengerti. Bagaimanapun juga kakaknya adalah pewaris perusahaan kelak jadi sudah semestinya jika sang kakak harus rajin belajar.
"Sini ayo ganti baju dulu sayang, sebentar lagi pasti Daddy datang!" Orin pun hanya menurut yang di ucapkan oleh mommynya. Tak lama kemudian dia pun sudah siap dengan gaun berwarna merah maroon yang tampak pas di badannya itu. Tak lupa mommy menyematkan sebuah jepitan berbentuk Bungan diatas telinga Orin sebelah kanan dimana membuat Orin semakin terlihat cantik.
"Cantik kan Orin dong mom!" Jawab Orin tak mau kalah. Mommy Retha pun hanya mencebik kan bibirnya. Putrinya itu memang memiliki sifat yang berbeda dengannya. Jika dirinya terlihat kalem namun sebaliknya dengan putrinya itu. Orin terlihat lebih bar-bar dari pada dirinya. Kata omanya, sifat Orin menurun dari sang Daddy.
"Ya sudah sekarang kamu tunggu di bawah ya, mommy mau lihat Daddy udah siap apa belum!" Orin pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menuruti apa yang dikatakan mommynya.
Sejak berumur lima tahun, baik Orin maupun Noel sudah terbiasa tidur sendiri. Orang tua mereka melatih agar mereka agar mulai mandiri sejak mereka kecil.
Tak lama kemudian mommy Retha dan Daddy Arga terlihat menuruni tangga rumah mereka. Meskipun kedua orangtuanya sudah memiliki anak, tapi mereka masih terlihat seperti anak muda.
"Putri Daddy sudah siap?" Tanya Daddy Arga sembari menggendong putrinya itu menuju pintu keluar. Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh sebentar lagi acara amal akan dimulai.
"Always ready dad!"
__ADS_1
Mereka pun mulai memasuki mobilnya. Disana sudah ada sopir yang menunggu. Tak lama kemudian mobil pun berjalan meninggalkan sebuah rumah mewah dua lantai itu.
Sekitar dua puluh menit kemudian mobil yang mereka tumpangi pun sampai di sebuah tempat yang sudah disulap sedemikian rupa mewahnya. Tempat tersebut berupa sebuah lapangan tetapi pihak penyelenggara sudah merubah menjadi sebuah tempat mewah.
Mereka pun segera turun, tidak enak dengan pihak penyelenggara jika mereka telat datang. Tampak sudah beberapa orang berdatangan. Mereka juga tampak begitu rapi.
"Selamat datang tuan muda Winata?" Sapa pak Andreas selaku penyelenggara acara tersebut.
"Terimakasih tuan Andreas." Jawab daddy Arga sembari mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan pak Andreas.
"Silahkan masuk pak!"
Orin pun takjub dengan tempat yang sudah mereka siapkan.
"Dad aku mau kesana boleh?" Tanya Orin pada sang Daddy. Dia ingin sekali pergi menemui beberapa anak yang sedang bermain di tepi panggung.
"Tentu saja sayang, jaga dirimu baik-baik!" Peringat Daddy Arga. Tentu saja Daddy Arga mengizinkan sebab ini bukan pertama kalinya Orin ikut ke acara seperti itu. Dan sebelum-sebelumnya Orin tidak pernah membuat masalah.
"Thanks dad!" Orin pun segera berlari ke arah anak-anak yang sedang bermain tersebut. Orin adalah tipikal gadis ramah tentu saja dia akan mudah mendapatkan teman.
Orin pun ikut berlarian dengan teman-teman lainnya. Meskipun mereka baru bertemu tapi mereka sudah tampak akrab.
"Hahaha ayo kak kejar aku kalau bisa!" Ucap Orin pada salah satu temannya yang baru dia temui. Orin pun segera berlari menjauh ketika anak itu mengejarnya. Sampai Orin tidak sadar jika dirinya sudah agak jauh dari tempat acara tersebut. Bahkan sekarang dirinya sudah berlari sampai parkiran mobil. Saat dirinya sadar dan ingin kembali, tiba-tiba saja ada dua orang menghampirinya.
"Om siapa?" Tanya Orin sebab dua orang tersebut semakin mendekatinya.
"Ikutlah dengan kami gadis cantik!" Ucap salah satu dari mereka dan grep...
__ADS_1
Orin sudah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Mereka pun segera membawa Orin ke dalam mobil yang sudah mereka siapkan.