Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 73


__ADS_3

Selesai menyantap makan siangnya, mereka segera berjalan keluar penginapan. Menyusuri jalan setapak dengan pemandangan kebun teh yang luas terbentang. Sedari tadi senyum Orin tak pernah luntur dari bibirnya. Gadis itu merasa sangat bahagia. Maklum sejak kecil dia sangat jarang keluar rumah apalagi menikmati bentuk ciptaan Tuhan berupa pemandangan alam yang indah ini.


"Apa nanti kita akan menginap disini?" Pertanyaan polos Orin sontak membuat Marcel menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap ke Orin, lalu mengacak rambut kekasihnya dengan gemas. Dia bisa menangkap sorot mata Orin yang begitu senang ketika berada ditempat ini.


"Apa kau ingin menginap disini?" Bukannya menjawab Marcel malah kembali bertanya pada Orin dimana membuat Orin mengerucutkan bibirnya kesal.


"Tentu aku ingin, aku sudah lama tidak berada di tempat seperti ini. Tidak ada yang mau aku ajak ke tempat seperti ini, semua keluargaku sibuk. Daddy selalu bekerja setiap hari dan mommy, pasti tidak akan mengizinkan jika hanya kami berdua yang pergi. Lalu kakakku satu-satunya sedang berada di luar negeri!" Jawab Orin dengan lesu mengingat betapa sibuknya keluarganya ya meskipun dia tahu daddynya sibuk mencari uang untuk kebahagiaannya juga.


Sebenarnya Marcel tidak tega mematahkan keinginan Orin, tapi bagaimanapun juga untuk saat ini mereka memang tidak bisa untuk menginap.


"Lain kali ya! Lagipula besok kamu juga harus masih sekolah kan?" Tanyanya sambil menangkup pipi Orin yang dingin.


"Aku mengerti!" Jawabnya dengan lesu lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat. Marcel menghembuskan nafasnya, dia tidak ingin membuat Orin sedih. Jadi bagaimanapun caranya kedatangan mereka kali ini harus meninggalkan kesan yang menyenangkan.


"Jangan bersedih! Aku berjanji lain kali akan mengajakmu ke tempat yang lebih indah daripada ini!"


"Aku tahu kau memang laki-laki hebat!" Jawab Orin dia tidak ingin Marcel merasa bersalah karena bagaimanapun juga memang ini bukan kesalahan Marcel. Ini adalah salah waktu yang tidak tepat saja.


Mereka pun kembali menyusuri jalan setapak, kali ini jalannya sedikit menanjak. Untuk hari ini Orin menggunakan sepatu slip on, entah bagaimana jika saat itu Orin menggunakan sepatu pantofel.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Orin penasaran sebab menurutnya ini saja sudah sangat menakjubkan lalu kemana lagi Marcel akan membawanya.

__ADS_1


"Ke tempat yang sangat indah!" Jawab Marcel asal kemudian tetap menggenggam tangan Orin menuju tempat yang dimaksud.


"Aku lelah!" Rengeknya mau bagaimana lagi dia gadis yang tidak menyukai olahraga jadi berjalan sedikit saja pasti sudah membuatnya lelah. Marcel pun mengalah dia berjongkok di depan Orin lalu menyuruh Orin untuk naik ke punggungnya. Dulu jika mereka masih berstatus sebagai murid dan guru, Marcel sedikit menjaga jarak kontak fisik dengan Orin. Tapi sekarang mereka tidak memiliki status itu lagi jadi Marcel merasa bebas melakukan apapun meskipun masih dibatas yang wajar sebab dia tidak ingin dicoret dari daftar calon menantu oleh mommy mertuanya jika bertindak yang tidak-tidak.


"Aku berat ya?" Pertanyaan polos Orin yang membuat Marcel tergelak. Badan Orin bisa dibilang lebih kecil dari gadis seusianya tapi gadis itu bertanya seolah-olah dirinya kelebihan berat badan.


"Kau seringan kapas!"


"Masa?" Tanya Orin tidak percaya begitu saja pada apa yang diucapkan oleh Marcel. Marcel pin membuktikan ucapannya dengan cara berlari sembari menggedong Orin dimana membuat gadis itu berteriak.


"Hey jangan berlari nanti kita akan jatuh!" Pekiknya kemudian mengalungkan tangannya di leher Marcel guna mempererat cengkramnya agar tidak terjatuh.


"Tadi kau meragukan kekuatanku bukan?"


Akhirnya mereka pun sampai ditempat paling tinggi dari sekitarnya itu. Sedari tadi Orin tak henti-hentinya berdecak kagum, pemandangan didepannya sungguh memanjakan matanya. Pemandangan kebun teh yang hijau membentang luas dari ujung ke ujung.


"Wow ini sangat indah!" Ucapnya kagum, mereka pun duduk disebuah batu besar yang ada disana. Tampak beberapa orang ibu-ibu sedang memetik pucuk tanaman teh.


"Sudah kubilang tempat uang aku tunjukkan padamu adalah yang terbaik!" Jawabnya sedikit menyombongkan dirinya.


"Darimana kau tahu tempat seperti ini?"

__ADS_1


"Dari internet, mau dari mana lagi! Aku tidak mempunyai banyak teman disini!" Memang benar Marcel tidak terlalu memiliki banyak teman disini sebab laki-laki itu sudah lama tidak datang ke Indonesia. Dan mengenai teman-temannya mungkin sebagian dari mereka sudah lupa sebab jarak yang cukup lama mereka tidak bertemu.


"Iya aku tahu, pria kaku sepertimu mana mungkin banyak teman. Kau saja sangat irit bicara pada orang lain!" Marcel hanya menyunggingkan senyumnya, perkataan Orin benar adanya. Dia memang pria kaku dan tidak begitu romantis. Dan itulah yang terkadang membuatnya khawatir jika suatu saat Orin meninggalkannya karena tidak romantis seperti laki-laki remaja pada umumnya. Tapi mau bagaimana lagi dirinya memang bukan laki-laki remaja yang biasanya hanya mengobral janji manis pada sang kekasih. dia lebih ke pria dewasa yang akan mengajukan hubungan serius pada kekasihnya.


"Kita berfoto dahulu, kapan lagi kita bisa ketempat seperti ini!" Mereka berdua pun mengambil beberapa foto dari segala arah. Selain foto manis mereka berdua tak jarang juga terdapat foto mereka dengan ekspresi yang menggelikan.


"Kau mau melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan?"


"Sesuatu apa?" Tanya Orin antusias, dia tidak ingin liburan dadakannya ini sia-sia tanpa kesan.


"Memetik teh!"


"Boleh juga, ayo!" Ajak Orin sudah tidak sabaran. Mudah bukan menyenangkan gadisnya itu bahkan Marcel tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk membuat Orin tersenyum. Itulah yang sangat Marcel sukai dari Orin, meskipun gadis itu dari keluarga terpandang dan juga kaya raya tetapi tetaplah hal-hal sederhana sudah mampu membahagiakannya. Orin tidak perlu berlibur ke luar negeri untuk menyenangkan hatinya sebab masih dinegara saja sudah banyak hal yang membuatnya bahagia, salah satunya adalah bertemu dengan Marcel.


Mereka menghampiri ibu-ibu pemetik teh tersebut lalu sedikit berbincang-bincang mengenai pemetikan teh yang mereka lakukan. Orin benar-benar terhanyut dalam suasana ini. Gadis itu tak henti-hentinya melempar pertanyaan-pertanyaan pada ibu-ibu tersebut dimana terkadang membuat Marcel jadi tidak enak sendiri mengganggu waktu mereka.


"Hari sudah semakin sore, sebelum benar-benar gelap sebaiknya kita segera pulang!" Ajak Marcel sebenarnya dirinya juga merasa nyaman tinggal disini. Jauh dari keramaian dan hingar-bingar ibu kota tapi mau bagaimana lagi pekerjaannya ada disana. Orin pun hanya menurut, dia sendiri sudah merasa puas dengan liburan dadakan kali ini.


"Terimakasih sudah mengajakku ke tempat seperti ini!" Ucap Orin tulus ketika mobil yang mereka tumpangi sudah mulai meninggalkan pelataran penginapan.


"Aku akan lebih sering mengajakmu ke tempat seperti ini lagi!"

__ADS_1


"Dan aku dengan senang hati akan ikut denganmu!" Jawabnya sambil terkekeh.


__ADS_2