Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 30


__ADS_3

Kini Orin sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Marcel. Dia ragu untuk kembali masuk kedalam, bukan ragu lebih tepatnya malu. Malu karena dirinya sudah menghancurkan dapur Marcel apalagi kemarin dia tidak bilang apa-apa.


"Masuk gak ya?" Monolog Orin sambil mengetuk-ngetuk setir mobilnya.


Akhirnya setelah membulatkan tekadnya dan rasa rindu yang mengalahkan rasa malu Orin pun keluar dari mobilnya sembari membawa parcel buah yang dia beli saat perjalanan ke rumah Marcel. Sebelum mengetuk pintu Orin terlebih dahulu mengatur nafasnya agar tidak terlalu gugup.


Sementara didalam sana Bi Ira yang tengah membersihkan ruang tamu tampak mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumah tuannya. BI Ira sudah mengamati mobil tersebut sejak tadi tapi tampaknya tak ada pergerakan sedikitpun dari pemilik mobil tersebut. Karena bi Ira yang notabenenya tinggal di kampung menjadi sedikit waspada jika ada sesuatu yang mencurigakan. Dengan langkah tergopoh-gopoh Bi Ira pun menuju kamar tuannya yang kini sedang beristirahat.


"Pak maaf mengganggu?"


"Ya ada apa bi?" Tanya Marcel sambil menaruh Ipad-nya ke atas nakas. Meskipun sakit Marcel pun harus tetap bekerja. Dia punya banyak karyawan yang harus dia sejahterakan hidupnya.


"Di depan ada mobil berhenti sejak tadi tapi pemiliknya tidak kunjung keluar."


Marcel pun mengernyitkan keningnya, siapa pemilik mobil tersebut. Sejenak Marcel berfikir dia tidak ada janji dengan siapapun.


"Bagaimana ciri-ciri mobilnya?"


"Kecil warnanya putih pak!"


Karena penasaran akhirnya Marcel pun memutuskan untuk melihat dari cctv yang ada di depan rumahnya. Diraihnya ponsel yang ada di samping tubuhnya. Dia pun membuka aplikasi yang tersambung dengan cctv di rumahnya.


Marcel pun membulatkan matanya ketika melihat sosok cantik yang kini tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Sosok tersebut kini tengah seperti orang gugup yang mengatur nafasnya dimana membuat Marcel tertawa seketika.


"Ada apa pak?" Tanya bi Ira yang bingung dengan tingkah tuannya itu.


"Itu adalah mobil milik salah satu muridku. Sekarang dia berada di depan rumah."


"Bi, bi ira mau bantu saya?"

__ADS_1


"Bantu apa ya pak?" Tanya bi Ira yang tak mengerti.


"Nanti kalo cewek di depan cari saya bilang saja saya masih sakit dan suruh masuk aja ya bi?"


"Lah tadi katanya pak Marcel sudah baikan?"


"Iya bi ini cuma buat bohongan."


"Iya deh pak." Jawab bi Ira kemudian kembali ke depan untuk membuka pintu.


"Mau cari siapa ya non?" Tanya bi Ira ketika sudah membuka pintu.


"Pak Marcel ada?"


"Oh ada non, silahkan masuk!" Orin pun mengikuti kemana Bi Ira mengantarnya.


Sesampainya di kamar Marcel, Orin tak henti-hentinya dibuat kagum oleh rumah tersebut. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat nyaman. Dimana kini sosok laki-laki sedang berbaring di ranjang besar yang ada di ruangan tersebut.


"Orin?" Tanya Marcel yang pura-pura terbangun dari tidurnya itu padahal sejak tadi dia hanya pura-pura memejamkan matanya.


"Ah ya!" Orin terhenyak dari lamunannya. Dia pun berjalan masuk ke kamar Marcel. Sebenarnya dirinya tidak enak jika hanya berdua saja di dalam kamar tersebut apalagi mereka berlainan jenis tapi apa boleh buat Marcel sedang sakit tidak mungkin kan Orin menyuruhnya untuk menemui di ruang tamu?


"Ini saya ada buah buat bapak biar cepat sembuh!"


"Taruh saja disana, terimakasih banyak Orin!"


"Sama-sama pak, bagaimana keadaan pak Marcel sudah baikan?" Tanya Orin khawatir. Tentu saja dia khawatir bagaimanapun juga dia ikut bertanggungjawab atas sakit yang menimpa Marcel sekarang.


"Masih sama seperti tadi malam!" Bohongnya tak lupa dengan wajah yang dibuat-buat itu. Padahal Marcel tadi sudah bisa berjalan keluar kamarnya hanya saja hari ini tidak ada salahnya kan mendapat perhatian lebih dari orang yang dicintai?

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja pak?" Ajak Orin karena dia benar-benar khawatir dengan keadaan Marcel.


"Tak usah saya sudah biasa seperti ini merasakan sakit sendirian." Jawab Marcel seolah-olah dirinya hidup dalam kesepian.


"Kenapa bapak tidak menikah saja?" Pertanyaan yang keluar dari Orin sontak membungkam mulut mereka. Orin sendiri tidak punya niat untuk bertanya hal itu tapi entah kenapa ternyata mulutnya malah mengkhianati dirinya.


"Saya belum menemukan orang yang cocok." Jawabnya kemudian perlahan Marcel pun duduk dengan bersandar di kepala ranjang sedangkan Orin duduk di tepian ranjang.


"Bisa kupaskan saya buah apel?"


"Bisa pak."


"Memang kriteria idaman pak Marcel seperti apa?" Lagi-lagi mulut serta hati Orin benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Sekarang dia benar-benar merutuki mulutnya yang sangat agresif untuk ukuran seorang wanita.


"Seperti kamu!" Ingin sekali Marcel menjawab seperti itu namun rasanya belum saatnya.


"Saya tidak punya kriteria maupun wanita idaman jika saya rasa cocok kenapa tidak?" Jawab Marcel pada akhirnya.


Orin pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sementara itu tangannya sedang mengupas buah apel yang tadi dia bawa. Dia sedikit bersyukur jika hanya mengupas buah seperti apel Orin pun bisa.


"Ini masih jam sekolah, kok kamu bisa sampai ke sini?" Tanya Marcel yang menyadari ada kejanggalan.


"Emm itu tadi anu saya izin pulang duluan!" Bohongnya mana mungkin dia berkata jujur jika mengibuli guru piket hari ini. Lagipula mereka juga tidak akan mengizinkan Orin jika tidak keadaan darurat sebab gadis itu sudah sering meminta izin karena sesuatu hal yang tidak jelas.


"Oh ya karena kamu ada disini saya punya beberapa materi untuk bahan UTS kamu Minggu depan kamu bisa bawa pulang nanti!"


"Terimakasih pak."


Tak lama kemudian muncullah bi Ira dengan membawa secangkir teh untuk Orin.

__ADS_1


"Ini non, silahkan diminum!"


"Terimakasih bi!" Jawab Orin kemudian bi Ira meninggalkan mereka dua. Sebelum hilang dari pandangan bi Ira terlebih dahulu membalikkan badannya lalu mengacungkan jempol pada tuannya sambil menaikkan sebelah alisnya tak lupa dengan senyum smirknya dimana membuat Marcel tak bisa menahan senyumnya atas tingkah absurd asisten rumah tangganya itu.


__ADS_2