Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 61


__ADS_3

"Aaaaaaaa aku sangat merindukanmu sayang!" Teriak Aneta kemudian memeluk tubuh sahabatnya itu. Tak lupa Felys juga memeluk mereka berdua.


"Hee sudah lepaskan aku tidak bisa bernafas, ck!" Pekik Orin merasa sesak dengan pelukan kedua sahabatnya itu.


"Hahaha maaf maaf kami sangat bersemangat untuk ini!" Kini Felys yang bersuara. Memang Felys lebih pendiam dari mereka berdua dan juga lebih bucin sebab sering bersama dengan kekasihnya daripada dengan sahabatnya itu.


"Dasar bucin, tumben kau ada waktu untuk kami?" Kini Orin mulai mengintrogasi salah satu sahabatnya itu.


"Iya mana kekasihmu tadi sepertinya tidak terlihat?" Tanya Aneta penuh selidik. Entahlah gadis itu sering berpindah-pindah kubu tadi berada di pihak Felys sekarang berada di pihak Orin.


"Hey tadi bukannya aku sudah bilang jika dia sedang sibuk karena kakaknya akan menikah!" Jawab Felys kesal. Yang benar saja padahal dia sudah bercerita semua dengan Aneta tapi sekarang gadis itu seolah-olah sedang memojokkannya.


"Jangan-jangan dia lagi yang menikah!" Celetuk Aneta dimana membuat Felys melebarkan matanya seketika dan Orin pun tak berhenti-hentinya menertawakan kedua sahabatnya itu.


"Enak saja. Aku kemarin dari sana dan memang benar kakaknya kok yang akan menikah!" Kesal Felys pada sahabatnya itu.


"Sudah-sudah jangan bertengkar kalian seperti tom and Jerry saja. Kalian mau minum apa?"


"Ah tidak usah repot-repot kau kan sedang sakit. Nanti jika kita haus biar Aneta saja yang mengambilkan. Iya kan Net?"


"Hey enak saja kau!" Jawab Aneta kesal sembari melempar bantal Orin pada wajah Felys.


"Salah sendiri siapa yang sok ide!"


Akhirnya mereka pun terlibat percakapan cukup lama hingga lupa akan waktu dan lupa akan seseorang yang kini sedang berada di dalam kamar mandi. Tentu saja para wanita akan lupa diri jika bertemu dengan sahabatnya, ada saja bahan obrolan hingga membuat mereka lupa waktu.


'Ya Tuhan para gadis itu kenapa masih asyik berbincang-bincang! Dan juga itu kenapa Orin mah menanggapi mereka!' Gerutu Marcel yang berada di kamar mandi. Akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk berbaring sebentar di dalam bath up. Karena lelah menunggu akhirnya Marcel pun memejamkan matanya.

__ADS_1


"Eh Rin lu tahu nggak si Alex beberapa kali cariin lu ke kelas loh!" Ucap Felys sembari memasukkan keripik singkong yang tadi dibawakan oleh pelayan Orin.


"Terus lu bilang apa?"


"Gue kibulin dia. Gue bilang lu sekolah di luar negeri!" Jawab Felys lalu tertawa terbahak-bahak membayangkan raut wajah suram milik Alex.


"Lu jahat banget sih! Tapi nggak apa-apa juga sih!"


"Biarin Rin, biar si Alex tuh nggak deketin lu lagi. Lu tahu kan kalo si lampir tuh selalu deketin Alex!" Orin pun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Aneta.


"Eh bentar gue mau ke kamar mandi dulu ya!" Pamit Aneta lalu gadis itu bangkit dari ranjang Orin dan hendak berjalan ke arah kamar mandi.


"Nggak boleh!" Ucap Orin refleks sembari merentangkan kedua tangannya membuat kedua sahabatnya itu menyatukan alisnya tak mengerti.


"Ah bukan maksud gue bukan nggak boleh...!"


"Terus maksud lu apa sih Rin, jadi nggak jelas banget lu!" Jawab Aneta kemudian tetap turun dari ranjang sebelum Orin menghadangnya lagi.


"Ck, ngomong dong lu kalo gitu!" Ujar Aneta kemudian berjalan keluar kamar Orin. Sementara itu Orin mulai bisa bernafas lega.


'Huft untung aja, jangan sampe jangan sampe!' Batin Orin sembari menggelengkan kepalanya.


"Lah lu kenapa jadi geleng-geleng kepala?" Tanya Felys yang semakin tidak mengerti dengan tingkah Orin itu.


"Ah tidak apa-apa!" Jawab Orin sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kayaknya lu kebanyakan di rumah jadi sedikit gila deh Rin!" Ungkap Felys dengan mulut polosnya itu. Orin pun mendelik tak suka, yang benar saja dia baru di rumah dua Minggu masa iya dia sekarang gila!

__ADS_1


Tak lama kemudian Aneta pun kembali ke kamar Orin. Gadis itu pamit untuk pulang yang diikuti juga dengan Felys. Hari sudah tampak sedikit gelap ketika mereka berdua keluar dari kamar Orin. Sementara Orin pun bisa bernafas dengan lega. Dua lalat pengganggu akhirnya pulang juga! Batin Orin.


Orin segera berlari ke pintu kamar mandi, semoga saja Marcel baik-baik saja! Jika terjadi sesuatu pada pria itu, sungguh Orin tidak dapat membayangkannya. Sebenarnya tidak apa-apa sih kamar mandinya juga bersih. Tapi sepertinya dia sudah terlalu lama mengurung Marcel di dalam sana. Apalagi pria tadi tidak sempat makan siang karena banyak pekerjaan dan kedatangan Aneta juga Felys yang tiba-tiba.


Ceklek


Orin mengedarkan pandangannya, mencari sosok tinggi berahang tegas itu. Matanya pun membulat seketika, ketika melihat Marcel memejamkan mata dan berbaring di dalam bathtub. Ya Tuhan antara lucu dan juga sedih Orin tidak bisa membayangkan lagi. Dia pun segera membangunkan pria itu sebelum benar-benar akan kedinginan.


"Pak...pak Marcel!" Ucap Orin sembari menggoyangkan lengan Marcel dan pria itu pun melenguh meregangkan otot-ototnya yang kaku karena harus tertidur dengan cara duduk seperti itu. Apalagi tidak ada kasur.


"Kalian sudah rapatnya!" Tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


Rasanya Orin ingin sekali menertawakan raut kesal Marcel tapi Orin tidak tega. Jadi dia hanya menahan tawanya.


"Sudah, sebaiknya kamu ke kamar biar nanti bibi bawain makan malam!"


"Ha makan malam?" Tanya Marcel dengan terkejut. Yang benar saja bukannya dia baru tertidur beberapa waktu saja tapi kenapa sekarang sudah malam. Oh Ya Tuhan apa seenak itu tidur di dalam kamar mandi sehingga dia lupa waktu.


"Ck, kalian itu para wanita menyebalkan sekali kenapa kalau sudah ketemu jadi lupa waktu sih!" Gerutu Marcel kemudian berjalan keluar kamar mandi meninggalkan Orin yang menahan tawanya. Ya Tuhan, Marcel benar-benar terlihat lucu ketika sedang merajuk seperti itu. Orin pun membiarkan Marcel yang merajuk, dia tahu Marcel merajuk karena dirinya juga.


"Duduk dulu sana! Aku panggilkan bibi biar bawa makan malam kita kesini saja!"


"Hmm." Jawabnya cuek. Entahlah Marcel hanya merasa kesal saja bukan marah. Setelah itu Marcel kembali membuka laptopnya menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Kamu marah?" Tanya Orin gadis itu duduk bersebrangan dengan Marcel mengamati wajah serius Marcel yang nampak lebih tampan berkali-kali lipat ketika sedang bersungguh-sungguh seperti itu.


"Nggak kok, kesel aja kamu lupain aku!" Rajuknya. Oh yang benar saja pria sedewasa itu masih merajuk. Bukannya takut Orin malah tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Aku nggak lupain kamu kok, emang tadi mereka belum juga pulang. Masa iya aku harus usir mereka?"


"Ya bukan gitu, tapi ah sudahlah lupakan intinya aku tidak marah!" Ucapnya dengan nada kesal. Orin pun hanya menggelengkan kepalanya, seperti ini lah rasanya menjadi Marcel ketika dirinya sedang kesal!


__ADS_2