
Semua yang ada disana pun membelalakkan matanya kecuali kedua orang tua Orin yang sudah mengetahui rencana ini sebelumnya. Semua orang terkejut mendengar lamaran dari Marcel yang terkesan datang begitu cepat. Begitu pula dengan Orin, gadis itu masih seplechess dengan apa yang dia dengar barusan. Dia tidak sedang bermimpi bukan? Tidak. Sebab dia merasakan sakit ketika dia mencubit tangannya sendiri.
Orin masih mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Marcel. Sungguh dia benar-benar terkejut sebab sejak awal Marcel tidak pernah menyinggung perihal niatnya untuk memperistri dirinya apalagi dalam waktu dekat ini. Semenjak itu dirinya juga tidak pernah menyinggung hal itu, rasanya dia gengsi untuk sekedar bertanya kemana hubungan mereka akan dibawa.
"Ini mimpi ya?" Pertanyaan polos Orin tersebut lolos begitu saja dari bibirnya. Sementara itu Marcel menjawab pertanyaan Orin dengan menggelengkan kepalanya.
"Kami sebagai orang tua tentunya ingin yang terbaik untuk putra-putrinya. Saya senang dengan keputusanmu mengenai keseriusanmu untuk menua bersama dengan putri kami. Selama sudah mengenalmu beberapa waktu belakangan ini, tentu saja saya Daddy Orin setuju dengan hubunganmu bersama Orin. Tapi mengenai keputusan terakhir hanya ada pada Orin. Bagaimana sayang?"
Orin pun tergagap dari lamunannya. Sejak tadi pikiran gadis itu sudah berlarian kemana-mana masih tidak menyangka hari yang dia mimpi-mimpikan sudah tiba hari ini. Bagaimana pun juga Marcel adalah orang baik dan tentunya sangat mencintainya.
"Emm...!" Gumam Orin dia tampak masih berpikir. Sebenarnya dia tidak memikirkan hasil akhir keputusannya sebab hasil akhirnya pasti memang dia sudah menerima lamaran Marcel. Sekarang yang dia pikirkan bagaimana cara menjawabnya. Apakah dia harus langsung berkata ya? Bukankah itu sedikit menggelikan kesannya dia memang sudah menunggu hal ini sejak lama.
Sementara itu Marcel masih harap-harap cemas degan keputusan Orin. Bukan hanya Marcel saja, bahkan semua yang ada disana menunggu jawaban yang akan dikeluarkan dari mulut Orin.
"Bagaimana aku harus menjawabnya ya Tuhan!" Gumamnya sambil melirik kearah orang-orang yang sejak tadi makan malam bersamanya. Dilihatnya wajah-wajah berharap orang-orang tersebut.
__ADS_1
"Orin bagaimana nak?" Kini mommy Retha yang sudah tidak sabar mendengarkan jawaban dari putri semata wayangnya itu. Awalnya dia berpikir Orin akan menerima begitu saja, tapi entah kenapa sejak tadi gadis itu hanya bungkam. Atau karena Orin tidak menyukai Marcel? Tidak. Itu tidak mungkin sebab sifat dan sikap Marcel tidaklah jauh berbeda dari Angga.
"Aku...!" Ucapnya, ditatapnya kembali wajah Marcel. Wajah itu, wajah yang selalu menghiasi hari-harinya beberapa waktu belakangan ini.
"Emm... ak-aku menerimanya."
"Yeeeeee!" Teriak semua orang yang ada dimeja makan tersebut. Sejak tadi semua orang sudah menunggu jawaban Orin dan sekarang Orin sudah menjawabnya.
"Terimakasih sayang!" Ucap Marcel kemudian mengambil cincin yang memang sudah disiapkan. Setelah itu Marcel memakaikan cincinnya di jari manis Orin. Selesai memasangkan cincin itu, Marcel mengecup jemari Orin yang tersemat cincin pemberiannya.
"Selamat sayang!" Ucap mommy Retha kemudian bangkit dari kursinya dan memeluk putri satu-satunya itu. Tek henti-hentinya dia memberikan kecupan-kecupannya pada wajah Orin.
"Oma...!" Jawab Orin tersipu malu mengingat bagaimana dulu sang nenek yang gemar menjodohkannya dengan para cucu sahabatnya.
Semua orang yang disana pun mengucapkan selamat pada pasangan yang baru saja melabuhkan cintanya. Mereka semua tidak menyangka dengan kesungguhan dari Marcel sebab usia pacaran mereka yang terbilang masih baru. Sebenarnya lama atau sebentarnya kita menjalin hubungan bukan sebuah penentu kemana hubungan mereka akan dibawa sebab diri sendiri dari pasangan tersebut lah yang akan membawa kemana hubungan mereka. Kejenjang yang lebih serius atau berakhir.
__ADS_1
Selesai makan malam mereka semua memtuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan mereka semua tidak merasa lelah atau pun mengantuk padahal sejak siang sudah banyak melakukan aktivitas.
"Aku nggak nyangka ternyata hari ini Pak Marcel bener-bener sosweet!" Ucapnya saat mereka sudah duduk di dalam mobil. Malam ini Marcel memutuskan untuk mengantar Orin pulang.
"Memang aku selama ini tidak pernah romantis. Hem?"
"Memang iya." Jawabnya sambil terkekeh. Memang benar bukan Marcel adalah pria yang tidak romantis. Bahkan makan malam romantis saja mereka tidak pernah. Hidup Orin setelah menjalin kasih dengan Marcel dihabiskan untuk berkutat dengan buku pelajaran. Hari-harinya diisi dengan belajar dan belajar bersama pria itu.
Sebenarnya Orin juga tidak mengerti kenapa Marcel bisa sekaku itu. Apa karena memang Marcel tidak pernah memiliki kekasih sehingga hidup pria itu lurus-lurus saja atau entah karena apa dia juga tidak tahu.
"Kau tahu hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku!" Kata Marcel sembari menatap fokus pada jalanan yang sedang mereka lewati. Meskipun jalanan sudah tampak lenggang tapi bagaimanapun juga Marcel tetap harus berhati-hati.
"Benarkah?"
"Ya, tinggal satu langkah lagi aku akan menua bersama orang yang aku cintai. Sebentar lagi aku akan memiliki keluarga kecil. Aku sudah tidak sabar menantikan hari itu tiba!"
__ADS_1
Orin pun tersenyum, mereka memtuskan pernikahan mereka akan dilangsungkan empat bulan lagi. Mereka juga harus menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Apalagi dalam pernikahan kedatangan keluarga adalah hal yang paling dinantikan oleh sebab itu sebagai orang tua yang memiliki keluarga besar yang banyak dan kesibukan yang mereka miliki Daddy Arga memutuskan untuk melangsungkan pernikahan empat bulan lagi.
Bagi Marcel waktu empat bulan sangat lah lama tapi bagaimana pun juga dia harus menghormati keputusan calon Daddy mertuanya itu apalagi mengingat keluarga besar Orin yang tidak hanya di Indonesia saja bahkan banyak juga yang berada di luar negeri mengurus pekerjaan mereka.