Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
66


__ADS_3

Pagi hari Arga terbangun lebih dulu, dilihatnya sang istri masih tertidur dengan damai. Arga segera membersihkan diri tanpa berniat untuk membangunkan istrinya. Mungkin Retha kelelahan karena acara kencan gila mereka kemarin.


Setelah selesai mandi Arga segera memakai setelan jasnya. Hari ini dia akan lebih sibuk di perusahaan karena banyak meeting yang harus dia datangi. Apalagi dia juga belum tahu nanti jika Retha akan benar-benar bekerja di perusahaan akan Arga tempatkan di bagian apa. Karena pada dasarnya perusahaan yang Arga pimpin tidak semena-mena dengan mudah menerima karyawan meskipun itu saudara dari petinggi perusahaan sekalipun.


Selesai bersiap-siap Arga segera turun untuk sarapan. Sarapan sendiri terasa begitu sepi ketika tidak adanya Retha. Arga pun segera menyelesaikan sarapannya dan berangkat ke perusahaan.


"Bi Retha masih tidur tidak usah dibangunkan nanti buatkan saja sarapan. Kalau dia bertanya tentang saya bilang saja saya sudah berangkat lebih dulu nanti dia nyusul saja dengan Yuda." Perintah Arga pada bi Muna salah satu pelayan paling senior yang ada di kediaman Arga.


"Baik Tuan muda." Ucap bi Muna sambil membungkukkan badannya.


Setelah memberikan bi Muna perintah Arga segera menuju ke mobilnya. Di sana sudah ada Leo yang stand by untuk menjadi sopir tuannya itu.


Ditengah perjalanan entah kenapa hari ini terasa begitu berat ketika Arga akan meninggalkan istrinya itu. Padahal biasanya dia biasa-biasa saja ketika meninggalkan Retha seperti ini. Kenapa hari ini ada rasa gelisah yang amat sangat ketika Arga pergi ke perusahaan.


"Le menurutmu apa Retha mencintaiku?"


Leo segera menghentikan mobilnya begitu saja dia terkejut dengan pertanyaan Arga yang tiba-tiba itu.


"Pertanyaan macam apa itu jelas-jelas nyonya muda mencintainya kenapa harus bertanya lagi sih." Batin Leo.


"Kau mau cari mati ya Le, mati saja sendiri sana aku tidak mau ikut dirumah ada istri yang selalu menantiku untuk pulang!"


"Maaf maafkan saya tuan muda, saya hanya terkejut saja." Ucap Leo yang masih shock kemudian dia mulai menjalankan kembali mobil mereka.


"Menurut saya nyonya muda sangat mencintai anda tuan buktinya nyonya muda sangat patuh dengan anda."


"Tapi bisa saja dia patuh karena takut denganku bukan?" Tanya Arga.

__ADS_1


"Iya benar juga tuan muda." Ucap Leo membenarkan.


"Kau ini ikut-ikutan saja, dasar jomblo!" Cibir Arga.


Leo hanya bisa tersenyum kikuk, bagaimana tidak jomblo jika dia setiap hari harus bekerja mengurus bos-nya itu. Sekarang saja pekerjaan Leo sedikit lebih berkurang karena adanya Retha.


Ditempat lain ternyata Retha baru saja bangun, dilihatnya ke samping sang suami sudah tidak ada. Kemudian dia melihat jam yang ada di ponselnya, dia begitu terkejut pantas saja Arga sudah berangkat ternyata sudah pukul sembilan.


Saat hendak bangun tiba-tiba saja merasakan begitu mual. Dia segera bangkit dan berlari ke arah kamar mandi. Retha segera memuntahkan semua isi perutnya. Tapi hanya cairan yang keluar dari mulutnya.


Setelah memuntahkan semua isi perutnya yang hanya keluar cairan saja dia kembali ke ranjang. Badannya terasa lelah dan keringat dingin membanjiri keningnya. Kemudian seseorang mengetuk pintunya.


tok... tok...tok


"Nyonya muda anda baik-baik saja?" Tanya seseorang dengan nada khawatir. Pasalnya tadi dia mendengar nyonya mudanya muntah.


Kemudian Bi Muna masuk ke dalam kamar tuan dan nyonyanya itu. Raut panik terlihat jelas di wajah bi Muna ketika melihat nyonyanya terbaring lemas di atas ranjang.


"Ya ampun nyonya, wajah anda terlihat sangat pucat. Sebaiknya kita telepon tuan muda."


"Tidak bi tidak usah mungkin aku hanya mual-mual karena masuk angin. Buatkan saja aku teh hangat." Perintah Retha kemudian Bi Muna segera berlalu pergi ke dapur untuk membuat teh hangat.


Tak beberapa lama kemudian Bi Muna kembali masuk ke dalam kamar Retha sembari membawa sebuah nampan yang berisi teh hangat dan beberapa lembar roti dan selai coklat kesukaan nyonyanya itu.


"Ini tehnya nyonya dan saya juga membawakan berapa lembar roti, anda terlihat sangat pucat makanlah sedikit saja Nyonya!"


Kemudian Retha pun duduk di atas ranjang. Minum beberapa teguk teh hangat, lalu mengambil satu lembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat. Saat hendak memasukkan roti tersebut ke dalam mulutnya tiba-tiba saja rasa mual itu melanda lagi. Dia segera berlari menuju wastafel untuk memuntahkan sesuatu yang melilit tenggorokannya. Namun hasilnya tetap sama seperti sebelumnya hanya cairan saja yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Bi Muna terlihat begitu khawatir dengan keadaan nyonyanya. Kalau dilihat-lihat nyonyanya memang seperti sedang masuk angin tapi kenapa hanya cairan yang keluar. Atau jangan-jangan nyonyanya sedang.....


"Maaf nyonya jika saya lancang, kalau boleh saya tahu kapan terakhir kali Anda datang bulan?" Tanya bi Muna dengan hati-hati.


Retha tampak menautkan kedua alisnya, dia terlihat bingung ketika sang pelayan menanyakan hal tersebut.


"Sekitar dua.... oh ya Tuhan kenapa aku lupa sudah dua bulan ini aku tidak mengalami datang bulan!"


"Nyonya itu berarti anda bisa saja sedang hamil dari yang saya ketahui melihat keadaan nyonya anda seperti seseorang yang sedang hamil!"


"Benarkah?" Tanya Retha dengan mata berbinar. Tanpa sadar dia mengelus perutnya yang masih rata. Dia sampai meneteskan air mata bahagia, hal yang begitu dinantikan sudah datang.


"Iya nyonya, lebih baik anda periksa ke dokter terlebih dahulu saya akan menelepon tuan muda agar menemani anda." Ucap Bi Muna.


"Tidak usah bi aku akan ke rumah sakit dengan pak Yuda saja, jika nanti aku benar-benar hamil ini akan kubuat kejutan untuk Arga." Jelas Retha kemudian Bi Muna hanya mengangguk paham. Melihat nyonya mudanya bahagia dia juga ikut bahagia apalagi sebentar lagi akan ada suara tangisan bayi yang menemani hari-hari mereka dirumah itu.


Retha buru-buru membersihkan diri dengan cuci muka. Dia merasa begitu malas untuk menyentuh air. Setelah itu dia bersiap-siap menuju ke rumah sakit.


Retha tampak begitu bahagia tapi dalam hatinya juga ada ketakutan tersendiri bagaimana jika itu hanya sakit masuk angin saja bukan hamil.


Setelah sampai dibawah dia segera menyuruh pak Yuda untuk mengantarnya ke rumah sakit. Jalanan sudah tampak macet karena hari ini hari Senin pasti banyak orang berlalu-lalang. Sejenak dia melupakan keinginannya untuk bekerja.


Setelah melewati kemacetan yang cukup melelahkan akhirnya mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki parkiran rumah sakit. Retha segera turun dia sudah tidak sabar dengan hasilnya nanti.


Dilihatnya sudah banyak orang yang sedang mengantri di depan ruangan yang bertuliskan Poliklinik Kandungan dan Kebidanan (Obgyn).


Setelah mendapat nomor antrian Retha segera duduk bersama dengan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2