
Setelah mendapatkan keputusannya akhirnya Orin pun menyetujui untuk ikut kemana Marcel membawanya. Dia yakin jika Marcel tidak akan berbuat macam-macam padanya. Sebelum pergi dia lebih dulu memberi kabar pada Aneta jika pulang terlebih dahulu. Dan tak lupa juga memberikan kabar pada mang Asep yang sejak tadi menunggunya.
Aneta yang mendapatkan pesan dari Orin pun hanya bisa menahan tawanya.
"Lu mau kibulin gue, pulang sama mang Asep apanya orang dia pulang sama Pak Marcel!" Ucap Aneta pada dirinya sendiri. Sebenarnya sejak tadi Aneta mengawasi Orin yang duduk di bangku taman. Bukannya lancang atau tidak percaya pada sahabatnya tapi rasa khawatir Aneta pada Orin sangatlah besar. Jadi dia memutuskan untuk menyusul Orin sebab sahabatnya itu sejak tadi tak kunjung kembali juga.
Setelah beberapa saat akhirnya Aneta pun menemukan keberadaan Orin. Dia melihat sahabatnya itu duduk dengan laki-laki. Awalnya Aneta tidak mengerti siapa laki-laki yang sedang duduk bersama Orin. Namun setelah mengamatinya Aneta tahu betul jika itu adalah Marcel.
Dari jauh Aneta dapat melihat sorot kagum dari Marcel pada Orin. Bukannya hanya kagum dia sendiri bisa melihat bagaimana salah tingkahnya sang guru ketika tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Sedangkan dari pandangan Aneta sendiri, dia juga dapat melihat jika sahabat itu malu-malu kucing layaknya orang jatuh cinta.
Aneta pun hanya bisa berharap mereka bisa saling mencintai dan menua bersama meskipun kita tidak akan tahu bagaimana jalan cerita seseorang kedepannya. Setelah itu Aneta pun memutuskan untuk kembali bergabung bersama teman-temannya. Namun saat hendak bersama teman-temannya tiba-tiba saja dia bertemu Alex.
"Dimana Orin?" Tanyanya tanpa basa-basi dan memikirkan perasaan Aneta.
"Pulang." Jawabnya singkat tanpa menoleh, dia ingin segera pergi dari sana. Berlama-lama dengan Alex hanya akan membuatnya darah tinggi.
"Bohong ya lu?"
"Idih bohongin lu? Apa untungnya buat gue. Minggir!" Katanya kemudian dia sekuat tenaganya dia mendorong dada bidang Alex hingga membuatnya mau tak mau berjalan mundur.
"Oh iya lu harus inget omongan gue, jangan lagi deketin Orin lu hanya akan membuat masalah buat Orin." Ancam Aneta kemudian pergi meninggalkan Alex yang masih tidak mengerti dengan ucapan Aneta.
Dilain tempat mobil milik Marcel melaju membelah jalanan aspal hitam ibukota. Tidak ada yang ingin mengawali percakapan diantara mereka. Mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Setelah lama mereka juga belum sampai di tempat tujuan dan Orin yang notabenenya adalah gadis cerewet sudah tidak bisa lagi untuk menahan mulutnya. Akhirnya dengan tekad yang sudah bulat diapun mulai bertanya kemana mereka akan pergi.
"Apakah masih jauh lagi pak?"
Marcel pun menoleh menatap Orin yang tadi juga melihatnya. Tapi dengan buru-buru Orin mengalihkan pandangannya kembali lurus ke depan. Tatapan mata Marcel bisa membuat jantungnya terlepas dari tempatnya.
__ADS_1
"Tidak jauh lagi, apa kamu bosan? Biar saya hidupkan musiknya biar kamu nggak bosan."
"Kenapa nggak dari tadi aja sih!" Gerutu Orin pada Marcel tapi gadis cantik berambut hitam itu hanya berani mengucapkannya dengan lirih.
Marcel pun menyalakan radio tape yang ada di mobilnya. Dan lagu pertama kali yang mereka dengar adalah lagu dari Jayesslee-Officially Missing You. Dimana lagu tersebut adalah lagu favorit Orin dari lama. Marcel yang mengetahui itu pun tak berniat untuk menggantinya.
Tanpa disadari Orin pun ikut menyanyikan lagu tersebut. Marcel hanya melirik dari ekor matanya mengamati Orin yang bernyanyi dengan penuh penghayatan itu.
"Oh can’t nobody do it like you
Said every little thing you do
Hey baby say it stays on my mind
And i, i’m officially
You know that i’m missing you
Yeah yes
All i hear is raindrops
And i’m officially missing you"
"Suara kamu bagus!" Puji Marcel tanpa dia sadari kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Orin yang mendapat pujian tersebut pun membuat pipinya merona seketika. Entah bagaimana biasanya dia bernyanyi di Gereja dan mendapat pujian tapi tidak sebahagia ini.
"Terimakasih pak!" Jawabnya dengan malu-malu lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Marcel pun mulai mengatur nafasnya yang mulai sesak. Dia merasa Ac-nya tidak berfungsi dengan baik sebab sejak tadi hawanya menjadi panas.
Tak lama kemudian mereka sampai di tempat yang Marcel maksud yaitu sebuah hotel yang menjulang tinggi. Marcel pun segera keluar dari mobil tersebut tapi tidak dengan Orin dia mulai ragu jika keputusannya ternyata keliru.
tok..tok..tok
Marcel mengetuk kaca mobil disamping Orin sebab gadis itu tak kunjung jua keluar dari mobilnya. Dengan gemetar Orin pun menurunkan kaca jendela itu.
"Ayo keluar!" Ajaknya tapi Orin hanya diam tak bergeming.
"Jangan takut, saya tidak akan berbuat macam-macam sama kamu." Ucapnya meyakinkan Orin.
"Ini sebagai jaminan kamu bisa bawa ponsel dan dompet saya!" Katanya lagi kemudian dia menyerahkan ponsel, dompet serta kunci mobilnya.
Mendapatkan jaminan itu, akhirnya Orin pun mau keluar dari dalam mobil. Meskipun ragu tapi hati kecilnya sendiri juga meyakinkan jika Marcel adalah pria baik-baik. Setelah Orin keluar, Marcel pun segera menggandeng tangan Orin untuk masuk ke dalam. Di sepanjang perjalanan jantung Orin tak henti-hentinya berdegup ini pertama kalinya ada laki-laki yang menggenggam tangannya.
Mereka pun langsung masuk ke dalam lift, dimana membuat Orin pun bingung. Sebenarnya apa yang akan Marcel lakukan. Marcel tak melepaskan genggamannya di tangan Orin. Entah dia sendiri tidak sadar jika sejak tadi tangan mereka bertautan.
Setelah beberapa waktu, akhirnya lift yang mereka naiki pun sampai di tempat tujuan yang Marcel maksud. Orin yang baru pertama kali kesana pun berdecak kagum dengan pemandangan yang disuguhkan. Ternyata Marcel mengajaknya ke rooftop paling atas di hotel tersebut.
"Kamu suka?" Tanya Marcel ketika mereka sudah duduk di kursi yang disediakan disana. Orin pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum dengan pemandangan yang dia lihat. Dari sini dia bisa melihat pemandangan kota Jakarta.
"Terimakasih pak sudah membawa saya di tempat paling indah seperti ini!" Ucapnya malu-malu. Dia malu sendiri karena sempat berpikiran yang tidak-tidak tentang gurunya itu.
"Sama-sama. Saya suka ke tempat ini jika sedang ada masalah atau ada pikiran yang menggangu!" Ungkapnya tanpa diminta.
"Bapak sudah tahu tempat ini dari lama?"
"Sudah sejak saya kembali dari luar negeri dan mendapati orang yang saya cintai tidak mengenali saya dan malah membenci saya!"
__ADS_1