
Sudah beberapa hari semenjak kejadian terlambat tersebut Marcel tidak pernah menampakkan batang hidungnya sekalipun. Bahkan hari ini jam pelajaran terakhir yang seharusnya diisi oleh Marcel tetapi dia tidak datang hingga digantikan oleh guru lain. Orin pun bisa bernafas lega untuk sementara karena berdekatan dengan pria itu sungguh menguras batin dan juga jiwanya.
Hari ini dia pulang ke rumah dengan perasaan bahagia sembari sesekali bersenandung ria di dalam mobil. Sesampainya di rumah dia tidak bertemu dengan seorang pun. Mungkin karena ini masih sore jadi daddynya memang belum pulang bekerja dan untuk mommynya tadi Orin sudah diberitahu asisten rumahnya jika sang mommy sedang pergi belanja bulanan.
Belum berganti pakaian Orin sudah merebahkan dirinya di atas ranjang sambil memandang langit-langit kamarnya. Sesekali dia menghembuskan nafasnya dengan gusar. Pasalnya akhir-akhir ini pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan mau mau kuliah dimana setelah lulus sekolah menengah atas nanti sementara dirinya sendiri belum memiliki tujuan untuk itu.
Karena terlalu berpikir dengan keras membuatnya menjadi lebih cepat untuk terlelap. Hingga tak sadar jika matahari sudah digantikan oleh bulan.
Saat malam tiba dan semua orang sudah ada di rumah tiba-tiba saja keluarga Arga kedatangan tamu istimewa yaitu orang tua Arga. Mereka datang untuk mengajak Orin makan malam bersama karena sudah lama tidak makan malam diluar bersama.
"Selamat malam sayang!" Ucap Oma Rani ketika Retha membukakan pintu.
"Oh mama kenapa tidak bilang kalau kesini, nantikan Retha bisa masakin mama dan papa makan malam!" Ucap Retha sembari menggiring mereka menuju ruang keluarga dimana sekarang sudah ada Arga dengan berkas-berkasnya.
"Eh mama sama papa kesini kok nggak bilang sama Arga?"
"Cih kalau mama bilang sama kamu terus kamu mau jemput kita? Paling juga Yuda yang jemput." Kesal Oma Rani karena Arga akhir-akhir ini tidak memiliki waktu untuk dirinya bahkan sekedar menengok saja Arga jarang melakukan itu.
"Mama kan tahu sendiri Arga akhir-akhir ini sibuk buka cabang baru di luar kota!" Jawab Arga.
"Kalau begitu Retha masak lagi buat makan malam dulu ya ma?"
__ADS_1
"Nggak usah Re, papa sama Mama kesini mau ajak kalian makan malam bareng keluarga temen papa juga!" Kata opa Johan yang sejak tadi memilih diam mendengarkan perdebatan antara orang tua dan anak itu.
"Yah tapi hari ini Arga nggak bisa pa, banyak pekerjaan yang harus selesai!" Jawab Arga. Bukan sebenarnya dia sok sibuk sehingga menolak permintaan orang tuanya hanya saja Arga adalah orang yang perfeksionis dalam pekerjaan sehingga dia tidak ingin ada kecacatan dalam pekerjaannya sekalipun.
"Ya sudah kalau gitu istri kamu sama Orin aja yang ikut!"
"Nggak bisa dong ma, kalau Arga dirumah Retha juga harus dirumah." Jawab Arga.
"Terserah kamu saja kepala batu. Mama mau panggil Orin dulu. Orin di mana Re?" Kesal Oma Rani pada anak satu-satunya itu.
"Di kamar ma, dari pulang sekolah tadi katanya belum keluar kamar."
Setelah mendapatkan jawaban Oma Rani pun melangkahkan kakinya menuju lantai atas dimana kamar Orin berada. Oma Rani hanya bisa menggelengkan kepalanya ternyata cucu satu-satunya itu sifatnya tidak jauh berbeda dengan sang Daddy. Sulit diatur, keras kepala serta suka tidur.
"Orin bangun sayang!" Teriak Oma Rani dengan suara nyaring nan melengkingnya itu.
Sementara didalam kamar Orin masih tertidur pulas ditemani dengan mimpi indahnya hingga suara lengkingan membangunkannya seketika.
"Kayak suara Oma ya? Huft mungkin cuma mimpi!" Monolog Orin pada dirinya sendiri dan kembali ingin memejamkan matanya kembali. Tapi suara lengkingan yang lebih keras membuatnya terbangun dan membuka matanya selebar mungkin.
"Oh ya Tuhan ternyata bukan mimpi, emang suara Oma beneran."
__ADS_1
"Bentar Oma!" Teriak Orin sambil menuruni ranjang berukuran king size itu.
Sementara dibawah sana semua orang menutup telinganya, suara Oma Rani benar-benar akan merusak telinga jika didengar setiap hari.
"Pa sebenarnya dulu itu kau menikah dengan seorang wanita atau peluit sih, kenapa bunyinya melengking seperti ini!" Tanya Arga pada sang papa.
"Entahlah Ar, tapi suaranya seperti itulah yang sangat papa rindukan jika tidak bertemu sehari saja!" Jawab opa Johan disertai kekehannya dimana membuat Arga bergidik ngeri sudah tua tapi masih saja sok romantis. Batin Arga.
"Ada apa Oma?" Tanya Orin ketika sudah membuka pintu kamarnya dan melihat sang Oma yang meskipun sudah tua tapi masih memancarkan aura kecantikan serta ketegasannya itu.
"Oma dan opa mau ajak kamu buat makan malam sayang!"
"Daddy dan mommy ikut?" Tanya Orin sambil mempersilahkan sang untuk masuk ke kamarnya. Meskipun Orin sedikit tomboy dan terkesan ugal-ugalan tapi dia tidak melupakan tentang kerapian kamarnya. Seperti yang diajarkan mommynya dia harus bisa membersihkan kamarnya sendiri.
"Tidak mereka sedang sibuk membuatkanmu adik lagi!"
"Ck, jangan bercanda Oma kalau mereka memang berniat membuatkan aku adik lagi seharusnya sekarang adikku sudah banyak!" Jawab Orin dengan kesal omanya itu.
"Daddymu sibuk tidak bisa ikut dan dia melarang mommymu untuk ikut!"
"Ya aku ikut tapi tunggu sebentar ini hanya makan malam biasa kan? Tidak ada perjodohan seperti yang sudah-sudah?" selidik Orin. Dia tidak ingin ada perjodohan seperti yang sudah-sudah itu sangat memalukan baginya.
__ADS_1
"Tidak hanya makan malam biasa dengan teman opamu, cepat sana ganti baju Oma tunggu dibawah!" Kata Oma sembari membalikkan badan serta tersenyum licik merasa idenya akan berhasil.
❤️❤️❤️❤️❤️Kira-kira apa ide Oma ya wkwk