
Malam hari Arga baru saja tiba dirumahnya terlihat sang istri sedang menata makanan di meja makan.
"Selamat malam sayangku!" Ucap Arga lalu menghampiri Retha di meja makan.
"Malam, mau makan dulu atau mandi dulu?"
"Kalau makan kamu dulu bagaimana?" Kata Arga sembari tersenyum nakal.
"Om mesum!" Geurutu Retha kemudian dia menuangkan air ke dalam gelas masing-masing. Dan Arga dia hanya terkekeh mendengar gerutuan dari Retha.
"Aku mandi dulu setelah itu makan malam." Ujar Arga kemudian berlalu menuju kamar mereka untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Tiga puluh menit kemudian Arga baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Arga memang laki-laki tapi dia juga sangat menjaga kebersihan diri apalagi tentang mandi bisa sampai satu jam jika Retha tidak menyuruhnya selesai.
"Besok hari libur, kau ingin pergi jalan-jalan kemana?" Tanya Arga lalu duduk di kursi makan yang berhadapan langsung dengan Retha.
"Tidak aku sedang tidak ingin keluar, aku punya kejutan untukmu esok hari!"
"Kejutan? Untukku?" Tanya Arga sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan untuk pak Yuda." Kesal Retha pada suaminya itu.
"Mana?" Tanya Arga antusias.
"Kau tidak mendengarkanku ya aku kan bilang besok berarti ya besok huh!"
"Tapi aku ingin sekarang saja sayang!" Ucap Arga mengerucutkan bibirnya sudah seperti anak bayi laki-laki yang sedang merajuk pada istrinya.
Retha pun memelototi Arga karena kesal suaminya itu selalu saja merajuk seenaknya.
"Iya iya besok ya besok!"Kata Arga pasrah dia sedang tak ingin membangunkan singa yang sudah terlelap.
Setelah selesai makan mereka menonton televisi diruang keluarga terlebih dahulu sebelum menutup mata untuk tidur.
"Sayang kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" Tanya Retha yang sedari tadi tidak hentinya mengunyah mangga muda didepannya itu. Padahal Arga sudah melarang untuk makan buah mangga tersebut karena terlalu masam sehingga dapat mengganggu pencernaannya.
"Sebenarnya aku ingin laki-laki tapi aku terserah Tuhan saja mau memberi laki-laki atau perempuan yang terpenting kau dan bayi kita sehat, itu sudah cukup!"
"Lalu kau ingin berapa anak?"
"Sebanyak-banyaknya!" Jawab Arga asal yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya.
"Dasar kau kira aku induk kucing!"
"Ha-ha-ha bukan begitu sayang maksudku aku memang ingin banyak anak darimu, sebanyak yang kau bisa memberikan padaku!"
"Kau tidak takut jika aku memberimu banyak anak akan membuat kau bangkrut karena memberikan makan pada mereka?"
"Tidak karena aku sangat kaya dan tidak akan bangkrut!" Ujar Arga dengan pongahnya.
Retha pun mencebik kesal tapi memang benar adanya maupun seberapa banyak anak mereka itu tidak akan membuat Arga bangkrut seketika. Karena yang Retha tahu banyak aset yang dimiliki oleh Winata group di Indonesia belum lagi yang ada di Italia yang merupakan pusat dari perusahaan mereka.
__ADS_1
"Ayo sayang tidur sudah terlalu larut malam tidak baik untuk kesehatanmu!"
"Gendong?"
"Baiklah ayo!" Tentu saja Arga dengan senang hati akan menggendong Retha seperti bayi koala itu.
Sesampainya di kamar Arga segera menidurkan Retha dengan hati-hati diatas ranjang. Lalu menyelimuti tubuh Retha dengan selimut tebal milik mereka. Tak lupa Arga mengecup kening Retha sebelum ikut berbaring dan memejamkan mata.
"Sayang kau sudah tidur?" Tanya Retha sambil memiringkan badannya ke arah Arga.
"Ada apa?" Tanya Arga balik tapi masih dengan memejamkan matanya. Sebetulnya dia sudah sangat lelah dan mengantuk tapi hormon Retha ketika sedang hamil dan susah tidur membuatnya harus bersiap ketika Retha menyuruhnya apapun.
"Tolong usap perutku baby-nya rindu pada daddynya?"
"Hem..." Setelah itu Arga pun mengusap-usap pelan perut Retha yang sudah kelihatan sedikit menonjol. Sebetulnya bukan itu yang Retha inginkan, dia ingin Arga menyentuhnya lebih tepatnya melakukan hubungan suami istri yang sudah lama tidak mereka lakukan karena dokter melarangnya. Tapi Retha dengan sejuta gengsinya enggan mengatakan itu dia beranggapan jika dia yang meminta terlebih dahulu Arga akan besar kepala.
Hingga hampir waktu dini hari Retha masih belum juga memejamkan matanya. Apalagi ketika dia sudah tidak merasakan tangan Arga yang mengusap perutnya lagi.
"Dasar menyebalkan disuruh mengusap begitu saja malah tidur coba kalau disuruh olahraga malam pasti sampai pagi dia tidak akan tidur!" Geurutu Retha kemudian dia tidur membelakangi Arga.
Pagi harinya Retha bangun terlebih dahulu, semenjak hamil dan pulang dari rumah sakit membuat Retha jarang tidur nyenyak. Dia pun mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang perlahan mulai masuk kedalam kamarnya melewati celah-celah kecil jendela.
Setelah semua nyawanya terkumpul Retha pun bangun dan menuju ke kamar mandi. Tampak hari ini begitu cerah seperti hatinya saat ini karena akan memancing bersama suaminya.
Selesai mandi Retha segera mengganti pakaiannya, kali ini dia memakai dress tanpa lengan warna coklat. Tak lupa dia juga memakai topi untuk menghalau sinar matahari yang akan membakar kulit wajahnya. Setelah itu dia membangunkan Arga agar laki-laki itu segera bersiap-siap.
"Sayang ayo bangun!" Kata Retha sambil menggoyang-goyangkan bahu Arga.
"Ayo bangun katanya kau mau melihat kejutan dariku?"
"Tiga puluh menit lagi sayang aku masih sangat mengantuk!" Ucapnya yang masih setia memejamkan matanya.
"Tidak!"
"Dua puluh menit!" Ucapnya lagi tapi masih setia dengan mata terpejamnya.
"Ck, tidak cepat bangun sekarang!"
"Sepuluh menit, aku janji!"
"Iya sudah tidur sana lebih baik aku memberikan kejutan itu pada pak Yuda saja kalau tidak pada pak Fajar saja pasti mereka lebih suka!" Kata Retha kemudian dia hendak berlalu meninggalkan Arga tapi dengan cekatan Arga menarik pergelangan tangan Retha sehingga membuat Retha terjatuh di atas tubuhnya. Dengan segara Arga medekap tubuh Retha dalam pelukannya agar dia tidak kabur lagi.
"Morning kiss dulu!" Kata Arga sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Bangun dulu!" Tawar Retha tapi Arga hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Baiklah."
CUPP
Retha mencium singkat bibir Arga. Padahal itu sudah bukan ciuman pertama mereka tapi tetap saja membuat pipi Retha merona. Dengan gemas Arga mengigit ringan pipi Retha itu.
__ADS_1
"Kau merona seperti tomat sayang dan kurasa pipimu bertambah besar dan semakin kenyal sama seperti ini!" Kata Arga sambil meremas lembut pantat Retha.
"Hey kau om-om mesum menyebalkan!" Retha pun memukuli bahu dan dada Arga. Yang semakin membuatnya gemas karena tingkah Retha yang sebentar lagi menjadi ibu tapi masih juga seperti remaja belasan tahun.
"Cepat mandi sana aku menunggumu diruang keluarga, aku juga sudah menyiapkan baju untuk kau gunakan. Dan satu lagi jangan mandi terlalu lama!"
"Baik bos!" Ujar Arga kemudian melepaskan pelukannya dari Retha.
Setelah itu Retha segera keluar untuk menemui pak Yuda dan mengambil barang pesanannya. Dia mencari-cari pak Yuda di pos penjaga depan rumah tetapi beliau tidak ada disana. Kemudian dia pun mencari di rumah belakang tempat para pelayan dan orang-orang yang bekerja pada Arga tinggal.
"Oh nyonya muda ada perlu apa kemari, anda bisa menelepon dari rumah utama tidak perlu datang kemari!" Ucap terkejut bi Liya salah satu pelayan yang bertugas membersihkan halaman depan itu.
"Tidak apa-apa bi, aku kesini hanya ingin bertemu pak Yuda, apa beliau ada di dalam?"
"Ada nyonya muda, sebentar saya panggilkan anda bisa kembali ke rumah utama terlebih dahulu nanti agar pak Yuda menyusul saja!" Kata bi Liya lagi bukan bermaksud wanita paruh baya itu untuk mengusir nyonya mudanya tapi jika sampai tuan muda mereka tahu jika Retha ke rumah belakang bisa-bisa dia akan marah.
"Tidak aku tunggu disini saja aku hanya ada sedikit keperluan dengannya."
Akhirnya bi Liya pun masuk ke dalam rumah tersebut dan tak lama kemudian pak Yuda datang.
"Apa nyonya muda mencari saya?"
"Iya pak, mana pesanan saya kemarin?"
"Oh sebentar saya ambilkan nyonya muda!" Pak Yuda pun kembali ke dalam tak lama kemudian beliau kembali dengan membawa sebuah tas yang berukuran sedikit panjang.
"Semuanya sudah lengkap didalam nyonya muda dan untuk ikannya kemarin saya sudah menyuruh orang-orang tersebut memasukkan ke dalam kolam renang!"
"Terimakasih banyak pak!" Ucap Retha kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah utama dan menunggu Arga di ruang keluarga.
"Nyonya muda mau dibuatkan sarapan sekarang atau nanti?" Tanya salah satu pelayan yang biasa memasak makanan untuk mereka.
"Nanti saja selesai memancing."
Tak lama kemudian Arga keluar dari kamar dan menghampiri Retha. Retha sempat dibuat terpana oleh tampilan Arga saat ini. Dia menggunakan kaos berwarna hitam yang mencetak jelas otot lengannya lalu menggunakan celana pendek dibawah lutut berwarna cream. Ah calon Daddy anaknya ini memang benar-benar tampan, batin Retha.
"Apa itu sayang?" Tanya Arga pada Retha yang sedang duduk di sofa tak lupa dia juga memberikan kecupan di kening Retha.
"Alat memancing."
"Jadi kau memberikanku kejutan alat memancing ini?" Tanya Arga lagi yang tidak mengerti akan tingkah Retha itu.
"Iya aku ingin memancing hari ini!"
"Tapi aku tidak tahu kemana kita harus memancing sayang aku belum menyewa tempat untuk itu!"
"Tak perlu kita sekarang punya kolam ikan sendiri, ayo kesana!" Ajak Retha tapi Arga hanya diam bergeming. Dia masih belum mengerti apa yang di maksud Retha.
"Kolam ikan sendiri? di rumah ini?" Retha pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat kemudian dia menarik tangan Arga untuk keluar dari pintu samping.
"KEJUTAN!!!" Ucap Retha ketika mereka sampai dipinggiran kolam renang. Arga membulatkan matanya dengan sempurna. Terkejut dengan apa yang sekarang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
"Sayang kau membuat kolam berenang Ki menjadi kolam ikan ini?"