
"Pacaran?" Tanya mommy Retha memastikan apakah ada yang salah dengan pendengarannya.
"Yes mom!"
"Apa kau yakin sayang? Kau tahu betul kan bahagia resiko orang pacaran?"
"Orin sudah siap dengan semua resikonya mom." Jawab Orin tak kalah meyakinkan mommynya yang sepertinya masih khawatir dengan keadaannya.
"Mom Orin sudah lama sembuh, mommy nggak perlu khawatir lagi! Terakhir konsultasi kata dokter Febrian Orin sudah sembuh bukan?" Mommy Retha pun hanya mengangguk.
Tentu saja mommy Retha sangat khawatir dengan keadaan Orin meskipun mommy Retha sudah tahu siapa yang akan menjadi kekasih putrinya hanya saja mommy Retha masih takut jika kedepannya akan terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan. Bukankah manusia tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan kita selanjutnya bahkan kehidupan esok hari saja tidak ada yang tahu kecuali sang pencipta.
"Apa kamu mencintai orang itu?"
"Aku nggak tahu mom, mungkin ini yang dinamakan cinta atau bukan Orin tidak tahu. Yang Orin rasa hanya perasaan nyaman dan takut kehilangan."
Orin mengerti raut wajah khawatir mommynya. Bagaimana tidak khawatir dulu anaknya pernah menderita post-traumatic stress disorder dan butuh waktu untuk proses kesembuhannya. Tentu saja sang mommy tidak ingin hal itu terjadi pada putri satu-satunya.
Orin menjadi teringat bagaimana dulu dia menjalani kehidupannya. Bahkan bertahun-tahun Orin melakukan home schooling. Dan sudah banyak kali dia melakukan terapi.
"Mommy tidak usah khawatir ya? Orin sudah besar sekarang. Orin sudah bisa menjaga pikiran Orin." Ucap Orin meyakinkan mommynya yang tampak masih tidak rela jika dirinya berhubungan dengan orang lain.
__ADS_1
Mommy Retha hanya tersenyum guna meyakinkan putrinya jika dirinya tidak khawatir. Mommy Retha hanya takut saja putrinya belum pernah memiliki kekasih pengalaman dekat dengan seorang laki-laki saja tidak pernah kecuali orang yang sudah mengenalnya sejak lama.
"Memang sekarang Orin sudah tidak takut lagi berdekatan dengan orang baru?" Tanya mommy Retha.
"Tidak mom, entahlah ketika berdekatan dengannya rasanya tidak seperti dengan orang lain." Jawabnya sambil tersenyum dimana membuat sang mommy menggoda putrinya itu.
"Kalau begitu coba tunjukkan pada mommy bagaimana raut wajah tampan pria yang sudah melelehkan hati putri satu-satunya mommy?"
"Emm aku mau mandi dulu mom!" Ucapnya sambil berlari meninggalkan mommynya yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Orin.
"Ah sepertinya aku harus cari tahu sendiri ternyata dia gercep juga!" Monolog mommy Retha ketika Orin sudah melenggang pergi meninggalkan dirinya.
Sementara itu Orin berlarian masuk ke dalam kamarnya untuk menghindari pertanyaan mommynya. Sungguh dia masih belum siap ketika mommy Retha mengajukan pertanyaan itu. Rasanya ada sedikit rasa malu dalam dirinya bukan malu karena wajah sang pria tapi karena profesinya sebagai gurunya sendiri.
Pak Marcel si cabe
Selamat sore menjelang malam, jangan lupa makan dan belajar ❤️
Awww Orin benar-benar merasa seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Rasanya seperti mimpi tapi itu semua nyata. Bahkan hanya beberapa kata saja tapi bahagianya sudah seperti mendapatkan sebuah hadiah pulau pribadi.
"Gimana gue nggak makin suka kalo diperhatiin kayak gini terus! Kan jadi tambah sayang deh!" Monolog Orin sambil berguling-gulingan di atas ranjang layaknya bocah kecil.
__ADS_1
"Balas nggak ya? Kalo nggak dibalas nanti gue dikira sombong tapi kalo dibalas gue harus balas gimana dong!"
Akhirnya setelah beberapa lama berperang dengan pikirannya sendiri Orin pun membalas pesan tersebut. Awalnya hanya ingin mengatakan terimakasih tapi rasanya satu kata itu sangat sulit untuk dituliskan. Oh ya Tuhan seperti inikah rasanya jatuh cinta lama-lama bisa gila sendiri gue! Gumam Orin sambil mengetik beberapa kata di ponselnya.
Dilain tempat Marcel tak henti-hentinya tersenyum sembari menatap ponselnya dengan lekat. Rasanya dia sendiri sudah tidak sabar dengan jawaban yang akan Orin ucapkan. Tetapi dilubuk hatinya yang terdalam dia sudah yakin jika Orin pasti akan menerima cintanya. Anggaplah kali ini dia memiliki tingkat kepercayaan tinggi diri lagi pula siapa yang akan menolak pesona guru muda yang sukses di bidang kuliner seperti dirinya.
"Eleh-eleh pak Marcel teh naon senyum-senyum sendiri?" Tanya bi Ira sembari membawakan nampan yang berisi obat-obatan Marcel serta teh yang diminta oleh pria itu. Sebenarnya tadi memang bi Ira belum sepenuhnya pulang dia hanya ingin mengatakan hal itu saja sesuai dengan perintah bossnya.
"Eh bi gimana tadi lancar nggak?"
"Lancar atuh pak, kayaknya si nona teh juga suka sama bapak tapi masih malu-malu. Ih kalo inget wajah nona Orin teh jadi inget wajah bibi waktu masih gadis pas suami bibi nembak bibi dulu!"
"Bibi bisa aja. Pokoknya nanti kalau udah lancar semuanya dan beres bibi bakalan dapat bonus deh dari saya!"
"Wah nggak usah repot-repot pak, bibi juga ikhlas bantuin bapak. Lagipula bonus yang kemarin waktu bapak kasih buat bantu biaya sekolah cucu bini juga masih kok pak!" Kata bi Ira tidak enak meskipun dia tahu menolak pemberian dari Marcel pun tidak ada gunanya.
"Itu beda bi kan itu bonus kemarin karena bibi udah rajin bantuin saya. Sekarang tugasnya kan beda lagi!"
"Ah pak Marcel dari dulu emang baik benget sih, semoga makin lancar rejekinya!"
"Iya bi ya udah bi Ira sekarang boleh pulang kasian cucu bibi pasti udah nungguin!"
__ADS_1
"Tenang aja pak udah ada kakeknya yang jagain." Jawab bi Ira Sambil mengedipkan sebelah matanya. Ya seperti itulah hubungan Marcel dengan asisten rumah tangganya. Marcel sendiri juga terkenal baik dilingkungan tempatnya tinggal. Apalagi dengan para karyawan dia juga terkenal sangat loyal.