
Sementara itu ditempat lain Orin dan juga teman-temannya sedang pergi menuju tempat yang sudah mereka rencanakan. Mereka terbagi menjadi dua mobil. Orin bersama dengan Aneta, Alex, Felys dan juga Lingga. Sementara mobil lainnya diisi oleh sahabat-sahabat Alex.
Hawa dingin tampak kentara di dalam mobil yang dinaiki oleh Orin. Bagaimana tidak sebelum berangkat, mereka sempat berdebat lebih dulu. Lebih tepatnya Aneta yang sangat kesal dengan Orin. Aneta merasa Orin memang sengaja melakukan ini tapi dia masih belum mengerti mengenai tujuannya.
Aneta melirik Alex yang sedang duduk dibalik kemudi mobilnya dengan ekor matanya sangat gengsi jika harus langsung menengok ke arah laki-laki itu. Awalnya Aneta tidak mau duduk disamping Alex, yang benar saja dia harus duduk disamping musuh bebuyutannya sendiri. Tapi dengan segala akal licik Orin membuat Aneta berdecak pasrah. Orin beralasan jika dirinya tidak mau duduk disebelah Alex dengan beralasan jika Marcel akan marah padanya. Sedangkan Felys dia juga beralasan jika dirinya tidak mau duduk berjauhan dengan Lingga. Alhasil sekarang dirinya lah yang harus mengorbankan kekesalannya dengan duduk bersanding dengan Alex.
Dering ponsel Orin, mengalihkan pandangan mereka yang ada di mobil. Orin segera melihat siapa yang menghubunginya. Dan alhasil nama Marcel lah yang terlihat.
"Sedang dimana?" Tanya Marcel ketika Orin sudah mengangkat panggilan tersebut.
"Lagi di jalan sebentar lagi sampai!" Jawabnya. Dia tidak perlu memberitahu lagi kemana mereka akan pergi sebab sebelum berangkat pun Orin sudah meminta izin terlebih dahulu dengan Marcel. Awalnya mereka semua ingin mengadakan pesta kelulusan di Puncak tapi mengingat Orin yang pasti tidak diizinkan akhirnya mereka memutuskan untuk menggantinya di Ancol saja.
"Jangan terlalu lelah, have fun! Nanti aku akan menjemputmu!"
__ADS_1
"Baiklah!"
Setelah mengatakan itu, Orin kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Orin tak pernah menyangka jika hari seperti ini akan tiba. Hari dimana dia menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabatnya dan juga teman barunya-Alex dan sahabatnya.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi pun sampai, Alex segera mencari tempat yang strategis untuk parkir mobil dan diikuti oleh mobil dibelakangnya.
"Kenapa parkir disini sih, nanti jalannya jauh!" Aneta sudah dengan mode siap bertengkarnya.
"Minta gendong Alex aja kali Net kalo lu kecapekan!" Ucap Felys, gadis itu setuju dengan Orin jika ingin menjodohkan mereka. Sebab Felys sendiri juga tahu jika Alex adalah laki-laki baik, Lingga sering menceritakan bagaimana sikap loyal Alex pada semua sahabatnya.
"Enak aja lu ya curut!" Kesal Aneta kemudian membanting pintu mobil yang sayangnya itu adalah mobilnya sendiri.
"Udah ah jangan berantem, yuk kita kesini kan mau senang-senang!"
__ADS_1
Akhirnya mereka pun sampai di Segarra Seaside Escape yaitu salah satu restoran yang ada di kawasan pantai karnaval di Ancol bay city di ujung Utara Jakarta. Mereka memilih tempat ini sebab terletak di tepi pantai dimana menunjukkan pemandangan yang mampu mencuci mata mereka dari padatnya jalanan ibukota yang biasa mereka lewati.
"Wah emang nggak salah sih kita kesini, suasananya indah banget!" Kata Bryan sahabat Alex. Mereka semua segera mencari tempat duduk yang strategis untuk menikmati keindahan pantai itu. Bagi mereka yang notabenenya seorang pelajar, tentu datang ke tempat seperti ini adalah hal jarang mereka lakukan. Apalagi mereka adalah kaum milineal yang lebih banyak menghabiskan waktunya di club malam ataupun mall-mall besar ibukota. Lagipula tempat ini berada di pinggiran kota jadi mereka harus membutuhkan waktu ekstra agar sampai disini.
Setelah mendapatkan tempat yang menurut mereka strategis, mereka segera memesan makanan untuk mengganjal perut mereka yang sejak tadi sudah keroncongan meminta untuk segera diisi. Untung saja mereka juga sudah berganti pakaian, jadi tidak terlihat aneh jika banyak orang yang melihat.
Selesai memesan makanan, mereka pun berbincang-bincang. Bukan berbincang-bincang lebih tepatnya beradu argument antara Aneta dengan Alex. Sedari awal dua anak manusia itu selalu memiliki pendapat yang berbeda dalam segala hal.
"Eh lu Lex, jangan berantem terus napa sama Aneta? Entar lama-lama lu bisa jatuh cinta lho!" Peringat Leon yang notabenenya lebih tua dari Alex. Dan Leon inilah yang selalu menjadi penengah jika sahabat-sahabatnya itu berbeda pendapat.
"Idih gue cinta sama petasan banting ini? Ya kali mending gue pacaran noh Sama pohon kelapa!" Ucapnya sambil menunjuk pohon kelapa yang sedang bergoyang karena tiupan angin.
"Iyuhh lu juga jangan sok kegantengan deh, lagipula siapa yang mau sama playboy cap minyak urut kayak lu! Ganteng kayak Zayn Malik playboy nggak masalah nah lu? Udah ganteng maksa playboynya nggak ketulungan lagi!" Balas Aneta dirinya juga tidak mau kalah dengan Alex. Orin hanya menggelengkan kepalanya, mereka sepertinya sudah saling tertarik satu sama lain tapi kenapa harus ada benteng diantara mereka.
__ADS_1
*Lanjut besok pagi ya guys, author lagi kurang enak badan 🙏