Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
64


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan penuh drama, mereka melanjutkan perjalanan kencannya. Retha mengajak Arga untuk pergi ke Mall terbesar yang ada di ibukota. Tanpa sepengetahuan Retha ternyata mall tersebut juga milik suaminya itu.


Hari ini Retha ingin menghabiskan sehari penuh untuk berkencan. Mulai dari sarapan bersama lalu jalan-jalan di Mall seperti pasangan muda-mudi umumnya dan menonton film di bioskop. Inilah keinginan Retha yang sebenarnya. Dari awal pernikahan mereka, mereka belum pernah menghabiskan waktu menonton film di bioskop.


Sesampainya di Mall mereka sedikit kesulitan untuk mencari tempat parkir. Banyak kendaraan berlalu-lalang keluar masuk di Mall tersebut. Setelah berputar-putar akhirnya mereka menemukan tempat parkir yang kosong. Sebetulnya Arga bisa saja langsung menghubungi manager Mall tersebut untuk meminta tempat parkir khusus tapi Arga tidak melakukan hal tersebut karena pasti Retha akan menolaknya.


Setelah selesai memakirkan mobilnya mereka bergegas keluar. Tak lupa Retha memakaikannya topi. Dia tak ingin wanita-wanita liar diluar sana melirik suaminya yang sekarang menjadi pusat perhatian itu.


"Sangat tampan, ayo masuk!" Puji Retha lalu mereka masuk kedalam mall. Tentu saja mereka menjadi sorotan empuk bagi para wanita maupun laki-laki yang sedang berkunjung di mall tersebut.


"Mau kemana?" Tanya Arga.


"Kita ke kedai es krim dulu ya?" Kata Retha dengan sorot mata memohon karena ini belum terlalu siang bisa saja Arga tidak memperbolehkan makan es krim.


"Baiklah." Kata Arga pasrah.


Kemudian mereka berjalan menyusuri tempat kedai es krim. Banyak pasang mata yang mencuri pandang ke arah mereka. Ada yang terang-terangan menatap penuh damba pada Arga dan juga Retha. Dan banyak pula yang mencuri-curi pandang ke arah mereka.


Sebenarnya Arga risih jika mereka memandangnya secara intens. Apalagi sekarang Arga memakai pakaian menyebalkan ini yang menurutnya mengurangi kadar kharismatik pada dirinya.


"Mau beli dimana?" Tanya Arga saat mereka sudah sampai didepan kedai es krim.


Mata Retha seolah sedang menilai dan menimbang es krim yang cocok untuk dimakan. Kemudian tatapan matanya tertarik pada sebuah kedai es krim bertuliskan Cold Stone Creamery.


"Kita kesana saja!" Ucapnya sambil menarik lengan suaminya itu dengan penuh antusias.


Kemudian Retha memesan beberapa cup es krim yang membuat Arga agak keheranan. Padahal mereka hanya berdua tapi Retha memesan 5 buah cup es krim.


"Kau yakin akan menghabiskan semua es krim ini?" Tanya Arga tampak ragu. Bagaimana bisa wanita sekecil Retha tentunya dengan perut yang kecil bisa menghabiskan es krim sebanyak itu.


"Tentu saja! Mau bertaruh?" Tantang Retha pada suaminya itu.


Arga pun merasa gengsi mana mungkin dia menolak taruhan dari istrinya yang sekarang berlipat-lipat menyebalkannya itu.


"Siapa takut!"


"Baiklah baiklah, bagaimana kalau kau kalah kau harus mengakui ketampanan seseorang pengunjung disini?" Tantang Retha dengan lantang. Dia tahu bahwa suaminya tidak mau mengakui bahwa ada orang lain yang tampan selain dirinya.

__ADS_1


"Aku setuju, tapi jika kau kalah kau harus menciumku ketika aku berdehem dan itu berlaku untuk sepanjang hari ini. Bagaimana?"


Retha tak langsung menjawab dia tampak ragu dengan tantangan suaminya itu. Mencium suaminya sepanjang waktu dan sekarang mereka sedang berada di Mall bukankah itu akan menyebalkan.


"Kau tidak berani? Aku sudah tau kau pasti pengecut!" Provokasi Arga dia ingin Retha menerima tantangan ini lalu Arga akan berlaku curang agar Retha kalah.


"Mana mungkin aku tidak berani, baik aku akan menerima tantangan darimu!"


Arga pun tersenyum licik, dia sudah merencanakan sesuatu agar Retha kalah dan menerima tantangan darinya.


"Sekarang kita mulai saja!" Ajak Retha.


Kemudian dia dengan tergesa-gesa makan satu cup es krim dengan cup yang lainnya. Dia hanya punya waktu dua menit untuk menghabiskan lima cup es krim tersebut. Sebetulnya tidak terlalu sulit jika menghabiskan satu cup es krim tersebut karena cup es krim tersebut berukuran kecil. Tapi karena terburu-buru dan berpacu oleh waktu dia menjadi kurang konsentrasi.


Saat Arga hendak melancarkan aksinya, tiba-tiba saja seorang pelayan yang sedang membersihkan lantai dengan tidak sengaja menyenggol lengan Retha hingga membuat es krim yang ditangan Retha tumpah.


"Maafkan saya, saya tidak sengaja!" Kata pelayan tersebut dengan penuh penyesalan.


Retha pun membuang nafasnya perlahan, sebenarnya dia ingin meluapkan kekesalannya karena kecerobohan dari pelayan tersebut tapi dia juga menyadari jika pelayan tersebut tidak sengaja melakukan hal itu.


"Iya sudah tidak apa-apa lupakan saja!" Jawab Retha pasrah.


"Your time is up!" Ucap Arga membuat Retha langsung menoleh kearahnya. Dilihatnya ponsel tersebut, benar saja Retha sudah melewatkan beberapa detik dari waktu yang ditentukan.


Retha pun medelik kesal, dia tidak mau untuk mengakui kekalahannya begitu saja.


"Kau curang!" Sarkasnya.


"Aku? curang? mana mungkin, kau tidak melihatku yang sedari tadi hanya diam." Ucap Arga lalu menunjuk dirinya sendiri untuk mempertegas kata 'aku' yang dia berikan.


"Iya, seharusnya kau memberhentikan dulu timer-nya setelah insiden tadi selesai kau baru menyalakan lagi!" Gerutu Retha yang masih bersikukuh pada kemenangannya.


"Kau ini yang licik, sudah kalah tidak mau mengakui kekalahannya!"


"Oke oke kali ini aku mengakui kekalahan tapi jangan harap ada lain kali yang seperti ini lagi!"


Arga pun tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah menang jadi dia akan melakukan sesuai taruhan tadi.

__ADS_1


"Ehem..."


Retha masih saja diam dan melanjutkan makan es krimnya. Sepertinya dia lupa akan perjanjiannya tadi.


"Ehem..."


Akhirnya Retha menengok ke arah Arga sambil menaikkan sebelah alisnya mungkin menanyakan 'ada apa'.


Arga pun berdecak kesal bagaimana bisa mereka baru saja membuat perjanjian tapi Retha sudah melupakannya.


"Mana janjimu? Jangan bilang itu hanya omong kosong mu sayang!" Kata Arga sambil menekan kata 'sayang'.


Dan sekarang Retha baru teringat perjanjian yang dimaksud suaminya itu. Perjanjian dimana dia akan melakukan hal gila didepan umum untuk pertama kalinya.


Cup


Retha mengecup sekilas pipi kanan suaminya.


"Bukannya tadi aku sudah berdehem dua kali kenapa hanya mendapat satu ciuman!" protes Arga pada Retha.


Retha pun mendengus kesal, hari ini pasti Arga akan mengerjainya habis-habisan. Dia harus berfikir keras untuk menghindari hukuman-hukuman dari Arga selanjutnya.


Cup. Retha mengecup kembali pipi Arga.


"Ayo kemana kita selanjutnya?"


"Nonton di bioskop." Ujar Retha dengan wajah berbinar. Berbeda dengan Arga dia tampak sedikit kurang suka karena memang Arga tidak menyukai tentang bioskop maupun perfilman itu sendiri.


Saat sudah berada diluar kedai es krim, Arga pun berulah lagi, dia berdehem dengan cukup keras.


"Ehem..."


Sontak Retha membulatkan matanya, bisa-bisanya suaminya itu menghukumnya di tempat yang begitu ramai.


Cup. Retha mengecup kembali pipi suaminya dengan cepat.


"Awas kalau kau berdehem lagi ditempat yang banyak orang seperti tadi!" Ancam Retha namun hanya dibalas dengan mengangkat kedua bahunya acuh oleh Arga.

__ADS_1


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju bioskop yang berada dilantai tiga.


__ADS_2