
"AWAS!"
*CYIIIITTTTT
BRAKKKKK*
Orin merasakan guncangan hebat pada mobil yang dia tumpangi. Akibatnya dirinya pun terpelanting hingga jatuh di kolong mobil. Seketika Orin pun menangis dan juga menjerit karena ketakutan. Dia sudah tidak memperdulikan apa yang akan orang-orang itu perbuat padanya. Sekarang dia merasakan nyeri pada seluruh tubuhnya apalagi sikunya yang terbentur itu.
Seorang anak laki-laki yang tengah berdiri di sisi lain halte pun begitu terkejut ketika melihat sebuah mobil menabrak sisi lain dari tempatnya berdiri. Dilihatnya mobil tersebut tampak rusak parah bagian depan dan beberapa sisi lainnya. Karena hujan turun begitu deras membuat orang-orang enggan keluar rumah.
"Wah harus gimana nih! Lihat apa pergi aja ya!" Monolog laki-laki tersebut. Rasanya dirinya ingin pergi saja dari tempat itu membiarkan orang-orang yang ada didalam mobil. Bukan karena apa-apa dia merasa malas jika nanti sampai polisi datang lalu menunjukkan sebagai saksi. Lagipula saat ini dirinya sedang mencari pelanggan untuk mengojek guna membeli beras esok hari.
"Ah biarin aja deh, tuh orang pasti mabuk udah tahu halte masih aja di tabrak!" Ucapnya lalu hendak meninggalkan tempat kejadian, biarlah dirinya hujan-hujanan daripada harus ikut dibawa ke kantor polisi. Lagipula pasti nenek sudah menunggunya.
Saat baru beberapa langkah hendak meninggalkan tempat tersebut untuk mengambil motornya, tanpa sadar telinganya mendengar suara seseorang anak kecil yang sedang menangis. Awalnya dia bergidik ngeri, berpikir jangan-jangan itu suara anak kuntilanak. Tapi jika dipertajam lagi pendengarannya, suara tersebut berasal dari dalam mobil.
"Kok ada yang nangis! Jangan-jangan...!" Tanpa berpikir panjang anak laki-laki tersebut menghampiri mobil yang sudah dalam keadaan setengah hancur.
Dilihatnya dari kaca jendela mobilnya, terdapat dua orang laki-laki duduk di depan. Tapi yang membuat anak itu tidak mengerti kenapa mereka menutup wajahnya.
"Kayaknya pingsan deh!" Anak laki-laki tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba untuk mencari bantuan. Tapi nihil. Malam ini benar-benar sepi bahkan tak seorangpun yang sedang melintas. Anak laki-laki tersebut pun berganti melihat bagian jok belakang. Matanya membulat ketika melihat seorang anak kecil yang sedang menangis apalagi dengan posisi anak tersebut terjepit antara jok depan dan belakang. Yang lebih mengejutkannya lagi, para orang dewasa tersebut memakai penutup wajah semuanya.
__ADS_1
"Mereka pencuri?" Monolog anak laki-laki itu pada dirinya sendiri. Dia masih mengamati gadis kecil tersebut, matanya membulat melihat darah mengalir dari kening gadis tersebut.
"Ya Tuhan, mereka penculik bukan pencuri!" Ucap anak laki-laki tersebut.
Anak laki-laki tersebut pun mengetuk ketuk jendela mobilnya, berharap anak kecil tersebut melihat kearahnya. Ya gadis kecil tersebut melihat kearahnya tapi tampaknya gadis tersebut masih shock dengan apa yang terjadi.
Kesal karena gadis tersebut tidak merespon, akhirnya anak laki-laki tersebut mencoba peruntungannya untuk membuka paksa pintu mobil. Beberapa kali percobaan tetap saja gagal namun dirinya tak menyerah begitu saja apalagi melihat pandangan sendu dari gadis kecil tersebut. Seakan dari sorot matanya mengatakan 'tolong aku'.
Akhirnya setelah beberapa kali percobaan pintu mobil tersebut pun terbuka. Setidaknya dia bisa bernafas lega meskipun belum bisa menyelamatkan sepenuhnya. Anak laki-laki tersebut mencoba mengulurkan tangannya, berharap gadis kecil yang terhimpit kok itu menerima uluran tangannya. Tapi sepertinya gadis itu takut dengan dirinya.
"Hey gadis kecil jangan takut padaku, oke? Disini aku akan menolongmu!"
"Perhatikan sebentar wajahku, kau bisa melihatnya bukan jika wajahku ini bukan wajah penjahat!" Ucap laki-laki tersebut masih meyakinkan Orin yang tetap diam tak bergeming.
Setelah beberapa saat, akhirnya Orin pun menerima uluran tangan laki-laki didepannya itu. Dirinya masih kecil belum memahami mana orang baik dan mana orang jahat dia hanya menggunakan instingnya saja.
Orin tampak masih terisak, matanya pun juga tampak masih sembab. Perlahan Angga mulai menarik Orin untuk segera keluar dari mobil tersebut.
"Kok jadi berat gini sih!" Gerutu Angga karena merasakan tarikan yang berat pada tubuh Orin. Padahal hanya gadis kecil tapi kenapa seberat ini. Pikirnya.
Orin menggerak-gerakan kakinya yang tertahan di belakang. Angga yang menyadari itu pun segera melakukan tindakan, sebelum mereka para penculik benar-benar tersadar.
__ADS_1
"Oh ya Tuhan, maafkan aku paman tapi tindakanmu ini salah!" Ucap Angga kemudian memukul tengkuk salah satu pria yang menegang kaki kecil Orin hingga membuatnya tidak bisa beranjak dari tempat tersebut. Setelah pria itu pingsan Angga segera membawa Orin menjauh dari minim tersebut. Dia menggendong tubuh kecil Orin di bagian depan layaknya seekor ibu kangguru yang sedang menggendong anaknya.
"Emm jangan menangis lagi gadis manis kita setidaknya sudah aman, lebih baik aku membawamu kemana ya rumah sakit atau kantor polisi?" Tanya Angga tapi Orin tak menjawab apapun dia masih menangis dipangkuan Angga. Orin memeluk erat tubuh Angga yang sudah lumayan basah. Angga memilih untuk duduk terlebih dahulu di halte.
"Ah melihat keningmu seperti ini, lebih baik aku membawamu ke rumah sakit saja!" Angga pun kembali menggedong Orin menuju motornya. Sesampainya di motor Angga tampak terlihat bingung, untung saja hujan sudah mulai reda.
"Bagaimana caranya membawamu ke rumah sakit ya?" Angga tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak kehilangan akal Angga mengambil jaket yang berada di jok motornya lalu mengikat jaket tersebut antara tubuhnya dan tubuh Orin. Selesai mengikat Orin dengan tubuhnya, Angga segera melajukan motornya meninggalkan tempat tersebut.
"Jangan menangis lagi, oke? Aku bukan orang jahat." Sepanjang perjalanan Orin tak henti-hentinya untuk menangis, melihat itu Angga pun menjadi resah. Dia tidak tahu bagaimana caranya mengehentikan gadis kecil yang tengah menangis.
Sementara itu Daddy Arga tak henti-hentinya mengumpat pada jalan yang dilaluinya. Padahal dia sudah menyuruh sopir untuk bergerak dengan cepat tapi rasanya lambat sekali.
"Lebih cepat lagi pak Yas!" Kesal Daddy Arga pada sopirnya itu.
"Baik tuan!"
Kemudian Daddy Arga kembali melihat ponselnya, dia tampak mengerutkan keningnya ketika melihat titik koordinat dari ponsel Orin berganti tempat.
"Brengse* kemana lagi mereka!"
Tak butuh waktu lama, akhirnya Orin dan Angga pun sampai di rumah sakit yang dimaksud. Rumah sakitnya tidak terlalu besar sebab berada di pinggiran kota. Angga segera memarkirkan motornya di sembarang tempat lalu menggendong Orin masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Suster cepat tolong!" Teriak Angga meminta tolong pada suster jaga disana. Dua suster tampak lari tergopoh-gopoh membawa bankar kosong menghampiri Angga dan juga Orin. Saat Angga hendak menaruh Orin diatas brankar rumah sakit, Orin tak melepaskan pelukannya pada Angga. Angga pun mengerti jika sekarang Orin hanya mempercayakan dirinya padanya.
"Aku akan menjagamu, tenanglah ini di rumah sakit. Kita akan aman dan mereka tidak akan menyakitimu lagi!" Ucap Angga sembari mengusap kepala Orin, menyalurkan ketenangan pada gadis manis yang baru ditemuinya itu.