Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 64


__ADS_3

Sudah beberapa hari orin telah kembali ke aktivitasnya sebagai seorang pelajar. Namun sedikit berbeda karena kali ini dia diantar jemput oleh seorang sopir. Dulu dia sangat tidak menyukai berada dalam satu mobil dengan orang lain sekalipun itu sopir tapi untuk sekarang dia tidak bisa menjujung tinggi egonya tersebut karena bagaimanapun juga dia tidak ingin menghawatirkan orang-orang yang menyayanginya.


Hari ini sekolah masih sama seperti hari-hari sebelumnya, belajar dan belajar menjadi rutinitasnya. Apalagi sekarang dia yang sudah menginjak kelas dua belas dan sebentar lagi akan menjalani ujian nasional. Beberapa waktu lalu dia juga sudah menjalani beberapa ujian try out.


"Bentar lagi kita bakalan pisah guys, jadi sedih deh gue!" Ucap Aneta sembari memasukkan nasi goreng kemulutnya. Sekarang mereka sedang berada di kantin sekolah setelah menyelesaikan beberapa tugas dari guru.


"Iya nih, gue jadi kehilangan sahabat gue yang paling nyebelin dong!" Kini suara Felys menimpali. Sekarang Felys lebih sering berkumpul dengan sahabat-sahabatnya sebab dia sudah putus dengan kekasihnya.


"Apa maksud Lo?" Tanya Aneta sewot.


"Ish mulai berantem lagi kan!" Kata Orin menengahi kedua sahabatnya itu sebab jika mereka dibiarkan pasti akan ada adu mulut yang berbuntut lebih panjang lagi.


"Felys duluan yang ngajak berantem Rin!" Ucap Aneta membela dirinya sendiri.


"Lu biasanya juga gitu! Eh iya Rin lu mau lanjut kuliah dimana?"


"Nggak tahu." Jawabnya sembari mengangkat bahunya tanda memang dia benar-benar belum mengerti. Sebenarnya bukan belum mengerti tapi dia tidak yakin dengan pilihannya sendiri.


"Lu mah enak Rin anak orang kaya mau kuliah dimana aja orang tua lu pasti oke-oke aja!"


"Bener banget tuh!"


"Siapa bilang! Gue pernah lagi tanya buat kuliah di luar kayak kakak tapi sama mommy nggak boleh!"


"Iya lah lu kan anak cewek satu-satunya pasti mommy lu nggak bakalan kasih izin!"


"Hmm." Jawab Orin singkat. Entahlah saat di tengah keramaian seperti ini, entah kenapa dia merasa seperti sendiri. Sejak tadi pandangannya berputar entah kemana, mencari sosok seseorang yang sejak tadi tidak memperlihatkan dirinya.

__ADS_1


"Lu cari siapa sih Rin? Dari tadi gue lihat lu nengok sana nengok sini! Awas tu kepala entar copot!" Ucap Felys sambil terkekeh.


"Enggak lihat siapa-siapa kok." Jawabnya lalu segera memutar kepalanya untuk menghadap teman-teman yang ada di depannya.


"Eh tuh lihat deh, pak Marcel lagi jalan sama si uler keket!"


deg...


Orin pun segera melihat kearah pandangan Felys, dan dia membulatkan matanya melihat Marcel sedang berjalan dengan Salsa salah satu guru muda yang ada di sekolahnya. Yang lebih membuatnya kesal adalah tangan Bu salsa yang tampak sedang menggandeng lengan Marcel dan Marcel sendiri tidak merasa keberatan. Oh Ya Tuhan sepertinya setelah ini dia harus mempertanyakan ini!


"Buset dah! Lu kenapa jadi beringas gini Rin?" Tanya Felys ngeri ketika melihat bagaimana Orin meremas tissue yang ada didepannya.


"Eh!" Orin pun terhenyak dari lamunannya dan segera membuang pandangannya.


Kesal. Tentu saja dia kesal. Bagaimanapun juga Marcel adalah kekasihnya meskipun mereka seperti orang yang tidak terlalu akrab ketika berada di sekolah sesuai kesepakatan mereka. Tapi tetap saja seharusnya Marcel tak seperti itu kan? Dasar laki-laki tidak bisa melihat yang bening sedikit. Sungutnya dalam hati.


"Tahu tuh si Orin lihat Pak Marcel sama Bu salsa udah kayak lihat suaminya sama pelakor!" Kata Aneta, gadis itu mulai menggoda Orin yang terlihat begitu meredam emosinya.


"Gue duluan!" Ketusnya kemudian berjalan meninggalkan kedua temannya. Hatinya benar-benar terbakar api cemburu.


"Lah tuh anak nggak jelas benget deh!" Keluh Felys yang tak mengerti dengan sikap Orin. Dia tahu semua murid perempuan disini juga menyukai Marcel tapi tidak berlebihan seperti Orin. Bagaimanapun juga Marcel gurunya kan.


"Udah biarin aja. Yang terakhir duduk bayar ke mbak Dewi ya!" Ucap Aneta sembari meninggalkan Felys yang masih terbengong dengan ucapan Aneta.


"Hey kadal lu kibulin gue ya?" Teriak Felys setelah mengerti apa yang dimaksud Aneta. Dengan langkah kesal Felys pun segera membayar makanannya dan juga milik teman-temannya. Sebenarnya dia bukan kesal karena harus mengeluarkan uang jajan lebih tapi kesal saja kedua temannya meninggalkannya begitu saja.


"Awal lu ya lampir bakal gue bales!" Dengusnya kemudian meninggalkan area kantin untuk mencari kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


Sementara itu Marcel merasa tidak nyaman dengan adanya Bu Salsa. Dia memang tahu semenjak awal dia menginjakkan kakinya di sekolah ini Bu Salsa memiliki ketertarikan lebih padanya dan bahkan Bu Salsa sendiri memberikan kode yang terang-terangan padanya.


"Eh maaf bu, ini masih di lingkungan sekolah tidak enak jika dilihat para murid!" Katanya sembari melepaskan tangan Bu Salsa yang sedari tadi menempel pada lengannya.


"Ya nggak apa-apa atuh pak! Biar keliatan mesra gitu!"


Mesra apanya? Yang ada habis ini pasti aku bonyok sama Orin. Apalagi sekarang gadis itu sedang giat-giatnya latihan bela diri. Batin Marcel.


Mereka pun berjalan menyusuri koridor-koridor sekolah. Marcel pun segera mempercepat langkahnya untuk segera tiba di tempat tujuan mereka.


Sementara itu Orin berjalan sembari menghentakkan kakinya, dia benar-benar kesal. Atau jangan-jangan dia sedang cemburu? Sebab selama ini dia memang tidak pernah cemburu dengan Marcel karena pria itu juga tidak terlihat dekat dengan wanita lain dan dia juga tampak dingin dengan wanita selain dirinya.


"Rin lu ikut gue ada yang mau gue omongin!" Ucap Alex sembari menarik tangan Orin untuk mengikutinya.


"Apa sih Lex, lepasin tangan gue!" Kesalnya sembari menarik tangannya yang dipegang oleh Alex. Alex pun tak patah semangat dia tetap menarik tangan Orin meskipun mendapatkan perlawanan dari gadis itu. Sudah cukup lama dia ingin mengatakan ini, tapi dia masih bisa menahannya tapi lama-kelamaan kesabarannya juga habis.


"Lex sakit!" Rintihnya masih sembari mengikuti jalan Alex.


Sekarang mereka sudah berada di taman belakang sekolah. Sepi tentu saja tempat ini jarang didatangi oleh anak-anak karena tempatnya yang agak jauh dari gedung utama sekolah mereka. Alex pun segera melepaskan tangan Orin ketika mereka sudah sampai di tempat yang dituju.


"Duduk!" Ucapnya dengan dingin, sementara dirinya sendiri sudah duduk sejak tadi. Orin sedikit mengernyitkan keningnya heran, dia tahu betul Alex itu orangnya bagaimana. Selama mereka kenal, Alex tidak pernah berucap dingin padanya bahkan Alex terkenal cerewet saat bersamanya.


Alex segera mengeluarkan ponselnya, lalu mencari sesuatu di dalam sana. Setelah ketemu Alex segera memberikan ponselnya pada Orin, memperlihatkan sesuatu yang ada didalam sana padanya.


"Apa sih Lex?" Tanya Orin tak mengerti dengan sikap Alex yang ini.


"Lu lihat apa yang ada di hp gue!"

__ADS_1


Orin pun segera membulatkan matanya melihat gambar yang ada di ponsel Alex. Tidak. Ini tidak mungkin. Selama ini mereka selalu bermain cantik!


"Lu da-dapet ini dari mana?" Tanya Orin terbata-bata. Entah kenapa sekarang jantungnya berdegup dengan kencang merasa jika hal ini tidak akan baik-baik saja untuknya.


__ADS_2