
Setelah percakapan yang cukup berat mereka memutuskan untuk membersihkan diri dan tidur siang. Saat memasuki villa dilihatnya Jerry sudah tertidur pulas di kamar tamu.
Matahari mulai masuk kedalam peraduannya. Hari ini tugasnya sudah selesai, sekarang bulan yang bersinar terang akan menggantikan tugasnya.
Retha mengerjapkan matanya ternyata hari sudah hampir gelap diliriknya sang suami masih tertidur pulas dengan memeluk perutnya.
Ketika hendak bangkit dari tidurnya, tiba-tiba saja Arga malah mengencangkan pelukannya.
"Jangan bangun dulu, aku mau kayak gini, bentar lagi ya!" Ucapnya dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Retha pun membelai rahang kokoh milik suaminya. Menurutnya tidak ada celah keburukan yang ada pada wajah suaminya. Dia tampan bahkan sangat tampan. Sorot matanya yang tegas, hidung yang mancung, sepasang alis tebal serta bibir yang begitu seksi. Rasanya ingin sekali Retha menutup wajah suaminya dengan kantung plastik ketika mereka sedang berjalan. Retha pun terkikik sendiri dengan apa yang barusan dia fikirkan.
"Ada apa?" Tanya Arga yang penasaran kenapa tiba-tiba istrinya itu tertawa.
"Tidak ada."
"Bohong!" Kemudian Arga bangun dari tidurnya dan langsung menindih tubuh Retha. "Cepat katakan ada apa?"
"Baiklah, aku hanya membayangkan bagaimana jika aku menutup wajahmu dengan kantung plastik ketika sedang berjalan-jalan. Wajahmu ini terlalu tampan sayang!" Jelas Retha.
"Tapi juga menyebalkan dan seenaknya sendiri!" Batin Retha.
"Oh tentu saja sayang, kau seharusnya bersyukur mendapatkan paket komplit sepertiku ini."
"Apa maksudmu?" Tanya Retha tidak mengerti.
"Lihat aku tampan dan juga kaya." Ucapnya penuh percaya diri.
"Iya tapi kau sangat menyebalkan dan seenaknya sendiri. Minggir aku mau lihat Jerry dulu!"
"Tidak boleh." Ucap Arga tegas lalu mendaratkan bibirnya dileher Retha dan meninggalkan beberapa jejak tanda kepemilikan disana.
"Aku menginginkanmu." Kata Arga serak menahan gairah yang terpancar dari sorot matanya.
__ADS_1
Retha membulatkan matanya karena ucapan Arga. Bagaimana tidak ini sudah hampir gelap dan pasti sebentar lagi Steffy dan Justin akan datang untuk menjemput Jerry. Tapi apa boleh buat ketika suami meminta haknya bukankah sebagai istri kita harus menurutinya.
Retha menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah mendapat persetujuan dari Retha Arga langsung melancarkan aksinya. Dia mencium Retha dengan penuh nafsu.
Saat hendak melepaskan pakaian Retha tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu kamar dengan tidak sabaran. Awalnya Arga mengabaikan tapi lama kelamaan gendang telinganya serasa mau pecah mendengar teriakan-teriakan dari Jerry.
"Hello ma pa, apa kalian ada didalam?"
"Pa ma ini Jerry yuhuuuu..."
"Aku sudah bangun pa ma, ayo keluarlah aku menunggu kalian bangun daritadi."
Teriak Jerry dari luar pintu sembari tangannya mengetuk-ngetuk pintu, ah sepertinya bukan mengetuk lagi lebih tepatnya menggedor dengan sekuat tenaganya mungkin.
"Oh shit bocah sialan!" Umpat Arga sambil turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk menuntaskan gairahnya yang tertunda. Retha hanya bisa tertawa melihat penderitaan yang Arga rasakan.
"Iya sayang mama didalam, sebentar mama bukain pintu dulu!" Teriak Retha kemudian turun dari ranjang dan membuka pintu.
"Ma lapar!" Ucapnya memelas dengan wajah yang disedih-sedihkan.
Terlihat disana ada beberapa pelayan yang sedang sibuk untuk membuat makan malam. Retha pun menggiring Jerry untuk duduk di ruang tengah sembari menonton TV.
Tak beberapa lama Arga keluar dari kamarnya. Dia sudah berganti pakaian. Kini dia sudah menggunakan kaos oblong warna grey dan celana pendek. Rambutnya yang masih basah menambah kesan tampannya. Apalagi dengan otot-otot perut yang tercetak jelas dari balutan kaos oblongnya.
"Papa kenapa cemberut?" Tanya Jerry polos.
"Tadi saat papa mau bersenang-senang tiba-tiba ada tikus kecil yang menggangu." Katanya sembari berjalan ke arah Retha lalu merebahkan diri dipangkuan sang istri.
"Benarkah? kenapa tidak kau lempar saja tikus itu?"
"Sebetulnya aku ingin memukulnya tapi aku kasian melihatnya, nanti mommy dan dad mu akan menjemputmu kau sudah berkemas?"
"Belum pa, apa mama dan papa akan segera kembali ke Jakarta?" Tanyanya.
__ADS_1
"Iya mungkin lusa kita akan kembali ke Jakarta."
Saat Retha hendak berdiri untuk membersihkan diri tiba-tiba saja Jerry bertanya "Ma ada dengan lehermu? Apa kau tadi digigit serangga?"
Sontak Retha pun terkejut dan langsung menutupi lehernya yang penuh tanda merah akibat perbuatan sang suami.
"Sial, ini pasti ulah Arga dasar menyebalkan." Batin Retha.
"Iya Jerry tadi mama digigit serangga besar sekali." Ucap Retha lalu melirik tajam pada suaminya. Arga hanya menggedikkan bahunya lalu membuang wajah karena menahan tawa melihat wajah Retha yang sudah merah padam.
Retha segera meninggalkan tempat itu agar Jerry tidak bertanya macam-macam yang mungkin nanti akan membuatnya kesulitan untuk menjawab.
"Pa memang disini ada serangga yang besar ya? Sebesar apa serangganya?" Tanya Jerry penuh dengan rasa penasaran.
"Sangat besar, sebesar manusia tapi dia hanya akan menggigit wanita cantik. Sekarang cepat berkemas sebelum mommy mu datang dan memberimu ceramahnya."
Akhirnya Jerry pun berdiri lalu menuju kamar tamu untuk membereskan barang-barangnya. Arga bangkit dari duduknya lalu menuju kamar untuk menyusul sang istri.
Sesampainya dikamar Arga merebahkan dirinya diatas ranjang dan memainkan ponselnya. Tampak Retha sudah selesai dari membersihkan diri lalu menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian yang akan digunakan.
Lama Retha membolak-balikkan baju yang ada di lemari tapi tak kunjung juga mengambilnya.
"Kenapa?" Tanya Arga heran karena sedari tadi Retha tak kunjung mengambil bajunya.
"Bajunya tidak ada yang cocok."
Arga pun menghampiri istrinya lalu bersandar di lemari sebelahnya.
"Sebanyak ini tapi tidak ada yang cocok?" Tanyanya lagi.
"Iya, semua baju disini tidak berkerah." Katanya sambil mendengus.
Sekarang Arga paham kenapa Retha tidak segera mengganti pakaiannya. Retha malu jika nanti Steffy ataupun Justin melihat tanda kemerahan yang ada dilehernya.
__ADS_1
"Oh sayang aku tahu sekarang kau pasti malu dengan ini kan? Kau tidak perlu malu perempuan yang mempunyai suami wajar jika mereka memiliki tanda kepemilikan." Jelasnya.
Retha mencebikkan bibirnya menirukan gaya bicara suaminya itu.