Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 84


__ADS_3

Akhirnya malam pun tiba, gadis yang berbalut gaun gaun dengan aksen bunga itu sejak tadi tak henti-hentinya mondar-mandir di dalam kamarnya. Entah kenapa malam ini jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, dia merasa akan ada sesuatu hal yang terjadi entah hal baik ataupun buruk dia tidak tahu. Kini dia kembali mematut dirinya di depan cermin, sedikit menata riasannya yang sebenarnya masih baik-baik saja tapi karena rasa gugup dan juga gelisah membuatnya menjadi kurang percaya diri.


"Udah cantik banget kok gue!" Pujinya pada diri sendiri, mau bagaimana lagi dia masih enggan beranjak dari dalam kamarnya padahal sebentar lagi mereka akan berangkat.


Setelah memastikan penampilannya sempurna, Orin segera mengambil salah satu koleksi tasnya dan kemudian menyelempangkannya di sebelah bahunya.


"Udah siap sayang?" Tanya mommy Retha saat melihat Orin turun dari lantai atas.


"Udah mom, mau berangkat sekarang? Mana Daddy?"


"Daddy udah nunggu di dalam mobil. Berangkat sekarang aja ya, kasihan nanti yang lain kalau nunggu lama-lama!" Mereka berdua pun berjalan beriringan keluar dari rumah. Dua wanita berbeda generasi itu terlihat sangat cantik malam ini meskipun hanya menggunakan pakaian yang simple.


Mereka pun masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah disiapkan oleh Daddy Arga. Sebuah mobil dengan jenis Lexus LM tentunya yang memiliki desain mewah dan juga fitur canggih.


"Anak Daddy cantik banget deh!" Puji Daddy Arga yang melihat Orin masuk kedalam mobil.


"Anaknya siapa dulu dong! Mommy Retha," Jawabnya sambil terkekeh. Dia sengaja menggoda daddynya.


"Kok anak mommy sih! Kan Daddy juga ganteng!"

__ADS_1


Orin pun terkekeh daddynya yang sudah berumur itu masih saja kekanakan. Mudah merajuk.


"Iya-iya daddyku tertampan!" Ucap Orin sambil tersenyum.


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun meninggalkan pelataran rumah mewah tersebut diikuti dengan sebuah mobil SUV hitam dibelakangnya. Daddy Arga sengaja untuk membawa bodyguard saat ini. Bukannya Daddy Arga tidak sanggup jika ada sesuatu dijalan tapi dia lebih baik mencegah jika sesuatu akan terjadi pada putri dan juga istrinya. Apalagi mereka adalah sasaran empuk dari mereka-mereka yang tidak menyukainya.


Sebenarnya kemanapun dia wanita itu pergi mereka selalu diikuti oleh bodyguard hanya saja mereka tidak mencolok seperti kebanyakan bodyguard. Kejadian yang pernah dialami Orin dimasa lalu membuatnya memiliki trauma tersendiri. Tapi beberapa waktu yang lalu dia sempat lengah karena tidak menyuruh bodyguard untuk menemani Orin ke sekolah dan pada akhirnya hal yang tidak diinginkan pun terjadi lagi.


Sepanjang perjalanan Orin hanya terdiam, gadis itu masih bergulat dengan pikirannya sendiri. Entah kenapa rasanya untuk malam ini rasa percaya dirinya menguar begitu saja.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit mobil yang mereka tumpangi pun sampai di sebuah restoran mewah. Mereka pun segera turun dan masuk ke dalam restoran tersebut. Interior mewah serta desain restoran tersebut membuat Orin berdecak kagum. Meskipun bukan pertama kalinya dia pergi ke restoran mewah tapi tempat ini sungguh sesuai dengan seleranya.


"Selamat malam semua?" Sapa Orin pada semua orang yang sudah berkumpul disana. Tampak Aneta, Felys, Alex dan juga sahabat-sahabatnya. Orin tidak menyangka jika Marcel akan mengundang Alex dan sahabat-sahabatnya dia kira hanya Aneta dan Felys saja. Dia juga tidak mengerti sejak kapan Marcel dan juga Alex menjadi dekat.


Sementara Orin membulatkan matanya melihat penampilan sang Oma. Bukannya apa-apa tapi malam ini Oma terlihat berbeda dari biasanya. Malam ini Oma Rani menggunakan dress yang membalut tubuhnya yang sudah sedikit keriput karena usia. Dan juga jangan lupakan tas mewah serta perhiasannya yang mencolok mata itu.


"Oma nggak salah kostum ya?"


Oma pun mengernyitkan keningnya mendapat pertanyaan yang tidak dimengerti dari cucunya itu. "Maksud kamu gimana sih sayang?"

__ADS_1


"Oma menor banget, emang mau godain temen-temen cowok aku ya?"


Oma pun terkekeh sementara itu opa Johan hanya menggelengkan kepalanya mendengar percakapan dua wanita beda generasi itu.


"Hari ini kan hari spesial jadi Oma juga harus tampil spesial dan juga maksimal dong!" Ucapnya sambil kembali duduk di kursinya. Oma memang sudah lama mengetahui hubungannya dengan Marcel bahkan mereka juga sudah sangat dekat. Entah bagaimana caranya sepertinya Marcel memang mempunyai semacam sihir yang mampu membuat orang sekitarnya menjadi nyaman.


Setelah selesai menyapa Oma dan opanya, Orin pun berganti menyapa sahabat-sahabatnya. Malam ini mereka juga tampak menakjubkan dengan para perempuan yang menggunakan dress dan para lelaki menggunakan setelan jasnya.


"Lama banget sih lu Rin, nggak tahu apa kita udah pada laper banget!" Gerutu Felys yang memang tidak bisa menahan rasa laparnya itu.


"Kita? Lu aja kali curut. Emang dasar ya lu tuh perut apa karet sih kok nggak pernah kenyang kenyang. Dan yang paling gue nggak ngerti kenapa si Lintang tuh juga bisa cinta banget sama modelan kayak lu gini?" Kata Aneta yang memang tidak mengerti dengan isi perut sahabatnya itu.


"Eh kudanil gini ya, cinta itu buta dan mereka menerima orang-orang yang mereka cintai itu apa adanya dan nggak pamrih. Dan satu lagi, gue cantik terus baik juga! Makanya Lintang suka banget sama gue!" Jawab Felys dengan percaya diri sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Lintang yang sedang duduk dihadapannya. Dan laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan absurd kekasih dan juga teman-temannya.


"Udah deh jangan mulai berantem ya! Ya udah gue kesana dulu ya nggak enak kayaknya dari tadi pak Mercel nungguin gue!" Pamitnya kemudian berjalan ke ujung meja lainnya yang sudah ditempati oleh Marcel dan daddynya.


Sedari tadi Orin tak henti-hentinya menyunggingkan senyumnya melihat keakraban mereka semua dalam satu meja panjang. Suasana hangat tercipta begitu saja.


"Lama banget sih!" Gerutu Marcel ketika Orin baru saja mendudukan pantatnya disebelah pria tersebut.

__ADS_1


"Maaf ya tadi macet!" Bohongnya, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kan dia mengatakan jika dirinya lah yang macet karena tiba-tiba rasa percaya dirinya hilang begitu saja.


"Kamu cantik banget!" Ucapnya lagi tapi kini diiringi dengan senyum manis yang keluar dari mulut Marcel. Laki-laki itu memandang penuh memuja pada sang kekasih. Orin yang mendengar pujian dari Marcel pun tersipu malu. Padahal ini bukan pertama kalinya Marcel mengatakan jika dirinya cantik tapi entah kenapa apapun yang dikatakan Marcel malam ini membuat jantungnya berdegup kencang.


__ADS_2