
Setelah Arga mengatakan itu para dokter segera melakukan tugasnya. Mereka segera melakukan pembius pada Retha dan melakukan operasi Caesar.
Waktu dua jam terasa begitu berat ketika kita menunggu sebuah kepastian. Sama seperti Arga sekarang menunggu kepastian dari dokter yang sedang menangani istrinya. Lampu operasi masih menyala yang menandakan operasi memang belum selesai dilakukan.
"Hufttt!" Arga menghembuskan nafasnya dengan kasar. Untung tadi dia sudah mengabari mama serta ibu mertuanya. Untuk mamanya mungkin akan datang besok sore sedangkan ibu mertuanya besok pagi karena ini sudah larut malam dan tentu saja angin malam sangat tidak baik untuk kesehatan ibu mertuanya.
Arga hanya bisa berharap yang terbaik untuk anak serta istrinya. Mereka adalah satu-satunya harta yang paling dicintainya. Mereka adalah bulan yang selalu menerangi kegelapan hidup Arga.
"Selamat malam tuan muda, maaf saya membawa tuan kecil datang kemari karena sedari tadi tuan kecil tidak mau tidur dan rewel!" Ucap Vita yang sedang mendorong kereta dorong Noel.
"Oh ya kembalilah ke rumah biar Noel ikut bersamaku saja!" Jawab Arga.
Pengasuh Noel pun mengikuti perintah dari Arga. Dia pun kembali ke rumah, toh disana sudah ada Leo sang asisten serta banyak pengawal. Dan dia pun sudah menyiapkan seluruh keperluan dari anak asuhnya itu.
"Putraku sayang kau ingin ikut bersama Daddy ya, baiklah sekarang kita menunggu mom disini dan kau jangan rewel lagi!" Arga pun mengambil Noel dari dalam kereta dorongnya.
Kedatangan Noel membawa angin segar untuk Arga. Meski sebenarnya dia belum lega sepenuhnya tapi kedatangan Noel sudah membuatnya lebih tenang. Arga pun sesekali menggoda Noel yang sedang memegang botol susunya itu dimana membuat anak itu mencebikkan bibirnya.
Entah memang kebetulan atau bagaimana, sejak beberapa bulan Noel tinggal bersama mereka, Arga sudah bisa meraba sifat dan sikap anak itu. Noel cenderung tidak banyak bicara dan hanya mau berbicara dengan orang-orang terdekatnya saja. Dan dia juga memiliki mata indah bak elang yang mampu menatap tajam orang yang diajak bicaranya.
Setelah menunggu beberapa saat kemudian lampu ruang operasi pun padam itu berarti operasi sudah selesai. Dengan segera Arga menggendong Noel melangkah menuju pintu yang dimana sekarang seorang dokter keluar dari sana.
"Selamat tuan, bayi anda lahir dengan selamat!" Kata sang dokter sembari menjabat tangan Arga.
__ADS_1
"Terimakasih, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Arga dengan nada kental akan rasa khawatirnya.
"Istri anda masih dalam pengaruh obat bius tuan jadi beliau belum sadar."
"Baiklah apa aku boleh masuk untuk melihat istriku?"
"Tentu saja tuan dan bayi anda sedang dibersihkan setelah itu perawat akan membawa bayi anda ke ibunya!"
Arga pun segera masuk dan menyusul Retha di dalam tak lupa dengan Noel yang berada di gendongannya. Arga sedikit terkejut ketika melihat Noel sudah tidur padahal baru saja anak itu merajuk padanya dan sekarang sudah terpejam menikmati mimpi indah. Arga pun menyuruh Leo yang sedari tadi berada dua langkah darinya untuk membaringkan Noel di kereta dorong serta menjaganya untuk beberapa saat karena dia hanya ingin berdua dengan istrinya.
Hati Arga sedikit perih ketika melihat Retha kembali tergeletak di atas brankar rumah sakit untuk kedua kalinya dan dia hanya bisa berharap untuk tidak ada yang ketiga kalinya. Rasanya dunia sudah semakin menyempit ketika Retha harus kembali berbaring di ranjang itu.
Dengan hati-hati Arga menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah Retha. Kemudian dia mengecup kening istrinya itu. Dia bangga memiliki istri sesempurna Retha.
"Terimakasih sudah menjadi istri serta mom yang hebat untuk anak-anak kita!" Tak henti-hentinya Arga mengucapkan rasa terimakasihnya pada Retha. Baginya sudah banyak perubahan pada dirinya semenjak dia mengenal Retha.
Banyak yang Arga katakan pada Retha dan juga tak henti-hentinya dia mengecup seluruh wajah istrinya itu. Sampai dia tidak sadar jika Retha sudah mulai membuka matanya.
"Ar...!" Ucap Retha ketika Arga mengecup punggung tangannya itu.
"Hey sayang kau sudah bangun? Terimakasih Tuhan kau sudah membawa kembali istriku!" Ucapnya kemudian merengkuh tubuh Retha yang masih lemah itu.
"Tetaplah disini aku akan memanggilkan dokter!" Dengan segera Arga memencet tombol disamping brankar tempat Retha berbaring.
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian dokter dan seorang perawat yang sedang menggendong bayi pun segera masuk. Sang dokter segera memeriksa keadaan Retha.
"Istri anda sudah baik-baik saja tuan, perkembangannya sangat baik!" Kata sang dokter sambil tersenyum. Dan Arga pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ah ya ini putri anda dan letakkan diatas dada ibunya agar dia merasakan kehangatan dari ibunya!"
Arga pun mengambil alih bayi dari perawat tersebut. Sedikit ada rasa takut serta takjub yang Arga rasakan pasalnya ini pertama kalinya dia menggendong tubuh bayi yang baru beberapa jam lahir itu.
"Lihat dia mempunyai wajah yang cantik sama sepertimu!" Ucap Arga kemudian menyerahkan putrinya pada Retha.
"Tentu saja dia mirip denganku aku sudah membawanya selama sembilan bulan ini!" Jawabnya kemudian membawa bayi itu diatas dadanya.
"Baik kalau begitu kami pamit untuk undur diri terlebih dahulu, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan anda nyonya!"
"Terimakasih banyak dokter!" Jawab Retha.
"Oh ya dimana Noel? Apa dia mau tidur di rumah dengan pengasuhnya?"
"Tidak dia ikut kemari tadi sekarang dia tertidur dan Leo yang menjaganya."
"Kau ingin memberi nama apa pada putri kita?" Tanya Arga kemudian. Untuk saat ini Arga sendiri tidak memiliki rekomendasi nama untuk anaknya sendiri.
"Orin Quenby Winata bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Bagus." Jawab Arga dan dia tidak henti-hentinya juga untuk menciumi bayi yang baru lahir dengan berat 3,2 kilogram itu.