Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
Zzzzz


__ADS_3

"Sana bentar sayang, aku mau masak sarapan dulu!" Ucap Orin menghindar pelukan dari belakang sang suami.


Orin tak mengerti sejak kepulangan sang suami kemarin siang, suaminya itu bak gurita yang selalu menempel padanya. Katanya dia sangat merindukan sang istri. Padahal mereka baru tak bertemu dua hari tapi kata prianya mereka sudah seperti tak bertemu bertahun-tahun.


Kemarin siang suaminya sudah pulang dan langsung menjemputnya di rumah orang tuanya tapi mereka baru kembali saat sore hari sebab Orin masih melanjutkan acara membuat kue kering dengan sang mommy.


Setelah kepulangannya dari rumah orang tua Orin, Marcel tak henti-hentinya menempeli sang istri. Bahkan tadi malam pria itu memeluknya begitu posesif.


"Aku masih rindu sayang!" Jawabnya sambil mencium bahu Orin yang masih tertutupi dress rumahan.


"Iya-iya nanti lagi ya! Aku mau lanjut buat sarapan dulu. Nanti kamu terlambat ke kantornya!"


"Aku hari ini kerja dari rumah kok lagipula kemarin kan baru pulang, masih capek sayang!"


Orin pun membalikkan badannya karena merasa tangan suaminya sudah mulai nakal dan meraba-raba kemana-mana. Padahal mereka tadi malam sudah bercinta hingga beberapa ronde, apa suaminya masih mau lagi? Sebetulnya Orin juga tidak keberatan tapi entah kenapa karena hamil dia menjadi sensitif dan sedikit agresif dalam bercinta.


"Mau aku pijat?"


"Mau banget!" Jawab Marcel dengan suara manjanya. Padahal biasanya sang istrilah yang akan bermanja-manja padanya. Bahkan tak jarang Marcel harus membujuk Orin karena dia harus datang ke kantor tetapi wanita itu masih mau bergelayut dilengannya.


"Tapi nanti ya aku harus siapin sarapan dulu buat kita?"


"Baiklah." Dengan wajah lesu Marcel pun duduk di kursi makan sambil mengamati sang istri yang tengah menyelesaikan membuat sarapan.


Dulu Marcel mengira Orin adalah wanita manja yang tidak pandai di dapur dan tidak tahu-menahu mengenai pekerjaan rumah. Tapi ternyata salah setelah menikah Orin mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Ternyata dulu waktu di rumah tantenya, Orin banyak belajar disana. Meskipun awalnya dia merasa kesusahan tapi seiring berjalannya waktu Orin pun terbiasa dengan itu semua. Bahkan sekarang pun wanita itu tidak mengizinkan sang suami untuk menyewa jasa asisten rumah tangga.

__ADS_1


Tak lama kemudian sarapan yang dibuat Orin telah selesai. Dua mangkuk bubur ayam dengan kuah soto. Marcel menatap kagum wajah sang istri. Katanya Orin semakin cantik ketika sedang memasak apalagi dengan peluh yang sebesar biji jagung itu akan menambah kesan seksi untuknya.


"Selamat makan sayang!" Ucap Orin sambil menaruh mangkuk itu didepan Marcel.


"Sayang suapi aku dong!" Pinta Marcel dengan wajah melasnya tentu saja Orin akan luluh melihat wajah suaminya itu.


Orin pun menuruti apa yang diinginkan oleh Marcel. Dengan telaten dia menyuapi sang suami sambil sesekali mengarahkan suapan itu pada mulutnya sendiri karena memang dia sendiri juga sedang lapar akibat percintaan semalam mereka.


"Oh ya sayang kapan kita harus periksa kandungan ke dokter lagi?"


"Dua Minggu lagi sayang. Ini kan sudah menginjak usia delapan bulan dan sebentar lagi sembilan."


"Kamu jangan capek-capek ya sayang kasihan kamu dan anak kita nanti!" Kata Marcel saat melihat wajah lelah Orin. Meskipun Orin mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan tidak merasa lelah sedikit pun tapi Marcel cukup mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya. Maka dari itu setiap malam Marcel selalu menawarkan diri untuk memijat Orin ya meskipun nanti dia juga meminta imbalan pada istri cantiknya itu.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Marcel bersikeras untuk membantu Orin membersihkan dapur. Meskipun awalnya Orin menolak namun dengan sikap tidak mau dibantahnya Marcel akhirnya Orin pun menuruti ucapan sang suami. Orin yang membersihkan meja makan sementara Marcel yang mencuci mangkuk serta panci yang tadi digunakan.


"Sayang sudah selesai? Kita ke kamar yuk badan aku capek banget!" Rengek Marcel, Orin pun hanya bisa mengikuti sang suami yang sudah berjalan ke arah kamar mereka. Sebenarnya Orin tadi hendak mencuci baju Marcel tapi karena sepertinya Marcel yang sangat kelelahan dan wajahnya yang kusut itu membuat Orin menjadi tidak tega.


Sesampainya di kamar Marcel segera menelungkupkan tubuhnya diatas ranjang. Tak lupa sebelum itu dia melepas kaosnya dan melemparkannya di meja rias dekat ranjang. Marcel memang lelah, tidak hanya lelah raganya saja tapi pikirannya juga. Tapi entah kenapa saat melihat tubuh istrinya membuat gejolak laki-lakinya timbul begitu saja apalagi dengan perut buncit Orin.


Orin pun segera mengolesi tangannya dengan minyak khusus untuk memijat yang tidak memiliki bau menyengat seperti pada umumnya. Biasanya Marcel lah yang akan memijatnya namun kali ini malah sebaliknya. Disela-sela Orin memijat Marcel mereka terlibat percakapan mengenai anak-anak mereka untuk kedepannya.


"Sayang pijat kepalaku juga ya? Aku sangat pusing!"


Orin pun tersenyum kemudian berkata "Berbaringlah di pahaku, aku akan memijat kepalamu!"

__ADS_1


Tanpa disuruh dua kali Marcel segera merebahkan kepalanya diatas paha Orin. Dia melingkarkan tangannya posesif di perut besar sang istri. Sesekali dia menciumnya dan mengajak anak mereka berbicara seperti yang disarankan oleh dokter obgyn tempat Orin periksa.


"Sayang jangan seperti itu! Ini geli!" Kata Orin saat Marcel mencium perutnya dan meraba bagian dada Orin dari luar.


"Sepertinya 'dia' berkembang dengan baik! Lihat ukurannya semakin besar dan padat!" Kata Marcel dengan vulgar dimana membuat semburat merah di pipi Orin timbul. Padahal mereka juga sering membicarakan mengenai hal-hal di atas ranjang tapi Orin tetap saja merasa panas jika Marcel mengatakan itu apalagi dengan nada yang menggoda.


Marcel pun duduk diatas ranjang setelah merasa cukup dengan pijatan Orin pada kepalanya. "Sayang aku juga merasa pegal dibagian lain!"


"Sini aku pijat lagi! Dibagian mana yang pegal?"


"Disini!" Jawabnya sambil mengarahkan tangan Orin pada bagian pusakanya yang sudah mengeras.


"Ih sayang mesum!"


"Sayang ayo katanya mau pijit!" Ucap Marcel kini laki-laki itu sudah memangku istrinya diatas pahanya sambil menghadap kearahnya.


"Kamu semakin nakal ya?"


Tanpa basa-basi Marcel pun melahap bibir ranum Orin. Meskipun mereka sudah berciuman ribuan kali tapi rasanya Marcel tidak akan pernah puas. Bibir Orin bagai morfin untuknya. Tangannya pun tak ingin tinggal diam dan mulai masuk kedalam gaun rumahan Orin. Perlahan dia mulai membuka satu persatu kancing bagian depan. Sedangkan Orin mengalungkan tangannya pada leher Marcel.


Selesai mencium bibir Orin, perlahan Marcel menurunkan ciumannya pada leher kemudian turun lagi sambil di bagian dada Orin. Marcel melahap dua buah dada Orin dengan lahap. Entah kenapa Marcel sangat menyukai dua benda kenyal itu.


Setelah puas Marcel menurunkan kembali ciumannya pada perut Orin sambil sesekali merabanya dimana membuat Orin menggelinjang hebat.


"Sayang papa kangen kalian, papa boleh kan jenguk kalian lagi?"

__ADS_1


__ADS_2