Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
40


__ADS_3

Kemudian dia menangkup kedua sisi wajah istrinya. Diusap sisa-sisa air mata dengan ibu jari. Hatinya begitu sakit melihat istrinya menangis dia merasa gagal menjadi suami karena tidak bisa menjaga istrinya.


"Jangan menangis kau akan terlihat jelek jika menangis terus-menerus!" Kata Arga sambari mencium mata pipi bibir dan dagu Retha.


"Gaunku rusak hiks hiks hiks, kau tidak akan memarahiku kan?"


"Tidak nanti kita bisa membeli gaun seperti itu lagi. Tapi aku akan marah jika kau lemah seperti itu, kenapa kau tidak melawannya?"


"Aku takut untuk melawan, mereka anak-anak orang kaya. Orang tua mereka donatur tetap dikampus ku!"


Arga pun berdecak kesal "Jadi kau takut karena mereka lebih kaya darimu? Hei suamimu ini lebih kaya dari mereka!"


"Benarkah?"


"Hei kau tidak percaya padaku, apa kau tahu siapa pemilik kampus itu?" Retha menggeleng kepalanya sebagai jawaban.


"Milikku, kampus mu itu berdiri ditanah milikku."


"Iya kah? kenapa tidak bilang dari tadi dulu,"


"Kau tidak tanya." Jawabnya acuh.


Retha pun mendengus kesal atas sikap suaminya. Tapi dia juga senang atas berkat bantuan suaminya dia dapat menyelesaikan skripsi dengan cepat. Arga selalu mengganggu Retha setiap dia ingin mengerjakan skripsi. Alhasil sebagai hukuman dari Retha dia memberikan tugas skripsi itu pada suaminya.


"Kau pasti haus kan? minum ini!" Arga menyerahkan satu botol jus jeruk kesukaan Retha. Retha menandaskan satu botol juas jeruk dengan satu tegukan. Dia benar-benar haus, acara tadi sungguh menguras energinya.


Setelah menandaskan satu botol jeruk tiba-tiba saja dia merasakan kantuk yang amat sangat. Dia pun menguap berkali-kali.


"Kau mengantuk? tidurlah dulu nanti aku akan membangunkanmu setelah sampai!" Kata Arga sembari menepuk pahanya agar menjadi bantal sang istri. Retha hanya bisa menurut saja, dia benar-benar sudah mengantuk. Tak butuh waktu lama setelah Retha merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami dia langsung terlelap.


Arga yang mengetahui istrinya sudah terlelap pun mengecup kening sang istri.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku harus melakukan ini!"


"Roy kita ke bandara sekarang!" Perintah Arga pada sopirnya.


Kemudian Arga melihat pakaian Retha tidak mungkin dia membawa Retha dengan pakaian seperti itu bisa-bisa nanti dikira dia melakukan kekerasan dalam rumah tangga.


Setelah perjalanan cukup lama akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai diparkiran bandara.


"Roy kamu bisa keluar lebih dulu! ada yang ingin aku lakukan dengan istriku."


"Baik Tuan." Roy sang sopir pun keluar dari mobil dan menunggu sang tuan di samping mobil.


Setelah melihat Roy keluar dari mobil Arga segera mengambil paper bag yang ada dibelakang mobil. Dia selalu menyiapkan pakaiannya dan pakaian istrinya dimobil bagaian belakang untuk menghindari hal-hal seperti ini.


Direbahkan tubuh sang istri di jok belakang. Dia berjongkok menghadap istrinya.


"Ck sedang tidur saja cantik seperti ini!" Gerutu Arga.


Kemudian dia mengambil pakaian yang ada didalam paper bag dan dia segera melepaskan gaun yang Retha pakai.


Setelah selesai mengganti pakaian istrinya dia segera menggendong sang istri masuk ke dalam bandara. Disana sudah ada Leo sang asisten.


"Bagaimana?" Tanyanya pada sang asisten.


"Semuanya sudah siap tuan muda, mari disana pesawatnya!"


Leo mengarahkan sang tuan muda agar mengikuti jalannya. Mereka berdua naik pesawat bussnies class.


Hari ini Arga akan mengajak sang istri untuk pergi berlibur ke Bali sesuai perjanjian mereka. Karena sang istri takut untuk naik pesawat maka dari itu Arga mencampur minuman Retha dengan obat bius.


Arga pun memasuki pesawat diikuti oleh sang asisten. Setelah sampai didalam pesawat Arga segera mencari tempat duduk sesuai nomor mereka. Arga mendudukan Retha dikursi penumpang disampingnya dengan sang asisten duduk dibelakangnya.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam akhirnya mereka sampai di Bandara Ngurah Rai Bali. Retha masih tidur karena obat bius. Arga segera menggendong Retha dan berjalan keluar pesawat. Sesampainya diluar Leo segera mengarahkan ke mobil yang akan mereka tumpangi.


Arga meminta untuk menyetir sendiri karena dia tidak ingin diganggu oleh siapapun saat liburannya berlangsung. Dia segera mengarahkan mobilnya ke villa milik keluarganya.


Hari sudah menjelang sore, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai ke villa di Uluwatu Bali. Arga segera menggendong tubuh Retha dan meletakkannya diatas ranjang dengan hati-hati.


Villa yang mereka tempati terletak ditebing yang menyuguhkan langsung pemandangan laut. Villa ini merupakan salah satu aset milik Winata group. Tentu saja villa ini merupakan villa spesial khusus untuk keluarga Winata.


Tak lupa dia mengganti pakaian Retha dengan piyama tidur. Setelah selesai mengganti pakaian Retha dia bergegas membersihkan dirinya sendiri. Dia membutuhkan air dingin untuk meleburkan sesuatu yang mengeras dibawah sana akibat mengganti pakaian istrinya.


Setelah selesai membersihkan diri, dia ikut merebahkan tubuhnya disamping sang istri. Arga memberikan kecupan di kening Retha sebagai penghantar tidur. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Retha esok pagi. Tak butuh waktu lama Arga juga ikut terlelap disamping sang istri, memeluk posesif sang istri.


Matahari mulai muncul dari persembunyiannya menggantikan sang rembulan. Sinarnya mencoba menusuk masuk melalui celah jendela.


Retha mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Saat kesadarannya penuh, dia mulai melihat disekelilingnya. Dia baru menyadari jika ini bukan kamarnya. Dilihatnya sang suami masih terlelap.


Retha segera bangkit dari tidurnya, dibuangnya lengan sang suami yang menindih perutnya. Dia berjalan mendekati sebuah pintu kaca yang mengarah pada lautan yang biru.


Kemudian dia mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin. Seingatnya kemarin dia pulang dari acara wisuda terlebih dahulu karena insiden lalu saat perjalanan dia merasa haus dan minum setelah itu dia mengantuk dan tertidur. Jangan-jangan saat tertidur ada penculik datang dan mereka menculik Arga dan dirinya lalu dibawa ke tempat asing ini, pikir Retha.


Dia segera berlari menghampiri suaminya yang masih terbaring di ranjang. Dia segera menepuk-nepuk pipi Arga agar dia segera bangun.


"Arga bangun kita diculik, cepat buka matamu!"


"Hei bangun, kenapa kau masih bisa tenang kita sedang diculik Arga!" Kata Retha sembari mengguncang bahu Arga.


Akhirnya setelah mendapat guncangan dari sang istri dia pun terbangun.


"Hoamm ada apa?" Tanyanya santai.


"Kita harus segera menghubungi papa Arga kita sedang diculik. Dimana ponselnya? jangan-jangan mereka membuang ponsel kita, bagaimana ini?"

__ADS_1


Kemudian Arga meraih tubuh Retha didudukan di atas ranjang yang berhadapan dengannya langsung.


"Lihat aku, kita tidak sedang diculik tapi sedang liburan di Bali!"


__ADS_2