
"Apa jangan-jangan ponsel gue ada yang nyadap ya! Tapi kayaknya nggak mungkin juga gue udah pasang keamanan full!"
"Atau gue cek cctv apartemen aja ya?" Gumam Alex pada dirinya sendiri yang sejak tadi memikirkan kesalahpahaman antara dirinya dan juga Orin.
Alex pun segera membuka ponselnya, dia membuka aplikasi mengenai cctv yang ada di apartemennya. Dia mulai memutar tayangan beberapa hari yang lalu. Tidak ada yang aneh, semuanya sama saja. Teman-temannya datang berkunjung dan itu saja.
"Eh!" Alex menghentikan tayangan cctv tersebut, dia mengerutkan keningnya tak lupa juga memperbesar video yang sedang dia putar.
"Ini kan Edo, kenapa dia otak-atik hp gue kayak gitu? Biasanya kalo pinjem pasti dia ngomong dulu, kenapa ini kayak dia lagi lakuin sesuatu ya!" Alex semakin memperbesar video tersebut, dia teringat kejadian ini dua hari yang lalu. Saat itu sahabat-sahabat Alex sedang berkumpul di apartemennya, disana dia melihat Bryan, Leon, Andre, Lingga dan juga Edo.
Disana dia melihat Edo sedang membawa ponsel miliknya, Edo tampak melihat ke sekitarnya. Alex mengerutkan keningnya dia ingat, waktu itu dia dan juga para sahabatnya sedang berkumpul.
"Lebih baik gue baçk up pesan gue aja, siapa tahu disana entar gue nemuin petunjuk!"
Alex segera meraih ponsel yang satunya, yang biasa dia gunakan untuk mengirim pesan. Dia mengotak-atik dan tak lama matanya membulat. Dia terkejut ketika dia mengirim foto-foto Orin pada Edo. Alex memang memberitahu segalanya pada sahabat-sahabatnya karena menurutnya sahabatnya adalah segalanya untuknya mereka selalu ada disetiap dirinya membutuhkan. Tinggal di Indonesia hanya dengan opa dan omanya membuatnya merasa kesepian.
"Brengsek!" Umpatnya kemudian dia menghubungi seseorang.
"Dimana lu?" Tanyanya dengan tidak sabaran. Dia menghubungi Edo untuk meminta kejelasan padanya. Dia tidak menyangka jika Edo melakukan hal ini padanya, padahal dia sudah menganggap Edo seperti keluarganya sendiri. Dia juga selalu ada ketika Edo membutuhkan bantuan apapun tapi ternyata dia salah sudah menganggap Edo sahabatnya. Mana ada sahabat yang tega menjatuhkan sahabatnya sendiri.
"Lagi di kafe biasa sama temen-temen juga. Tadi kat-" Belum sempat Edo melanjutkan ucapannya, Alex terlebih dahulu memtuskan panggilannya. Dia benar-benar marah saat ini, dia tidak menyangka jika Edo setega itu padanya. Bagaimana mungkin ketika didepannya Edo bak seorang dewa yang selalu mendukung hubungannya dengan Orin tapi ternyata dibelakangnya Edo menusuknya.
__ADS_1
Dengan langkah tergesa-gesa Alex segera mengambil jaket dan juga kunci motornya. Masalah ini harus segera diselesaikan dan dia juga harus segera membersihkan namanya dihadapan Orin. Dia memang menyukai Orin tapi dia tidak mungkin untuk mempermalukan Orin seperti itu.
Alex segera memacu kendaraannya ke kafe biasanya dirinya dan juga para sahabatnya menghabiskan waktu. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa uang dilakukan Edo, rasanya Alex enggan untuk mempercayainya yang ternyata orang terdekatnya lah yang sudah menusuknya tapi mau bagaimana itu adalah kenyataannya.
Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya motor yang ditumpangi Alex pun sampai di kafe yang dimaksud. Dengan langkah tegapnya Alex berjalan memasuki kafe itu. Dengan kasar Alex mendorong pintu tersebut, persetanan dengan pintu harga dirinya lebih penting lagipula dengan mengenal sangat baik pemilik kafe tersebut.
Buggh...
Tanpa basa-basi Alex memukul rahang Edo begitu saja dimana membuat Edo tersungkur karena tidak siap dan juga terkejut mendapatkan serangan mendadak. Semua yang ada di sana pun segera berdiri seketika. Terkejut dengan Alex yang tiba-tiba datang lalu memukul Edo.
"Brengsek lu Do!" Umpatnya kemudian mencengkeram kedua kerah Edo dan memukulinya kembali. Sahabatnya yang lain pun segera melerai mereka ketika kesadarannya mulai pulih dari keterkejutannya.
"Lo masih tanya maksud gue apa? Dasar penghianat!" Hardiknya kemudian hendak melayangkan pukulan lagi, namun dengan sigap Leon yang memiliki badan sedikit lebih besar dari Alex segera menarik sahabatnya itu. Dia tahu jika dibandingkan dengan Alex, Edo tidak ada apa-apanya laki-laki tersebut bisa kalah telak dengan beberapa pukulan saja dari Alex.
"Lex, sabar ini ada apa? Jelasin dulu lu kenapa?"
Bryan, Andre dan juga Lingga pun melakukan hal yang sama. Mereka juga tampak sedang membangunkan Edo yang jatuh tersungkur.
"Gue nggak bisa sabar lagi Le, día bener-bener udah kelewatan."
"Gue nggak ngerti apa yang Lo maksud Lex?"
__ADS_1
"Dia, si penghianat itu yang udah nyebarin foto Orin ke sekolah. Lo nggak perlu bohong lagi gue udah ada buktinya!" Seketika Edo pun menegang mendengar ucapan Alex. Sepertinya tindakannya sudah diketahui oleh Alex.
"Gue bisa jelasin semuanya Lex!" Ucapnya kemudian membersihkan sudut bibirnya yang sobek.
"Gue nggak butuh penjelasan dari lu brengsek!"
"Tapi gue perlu buat lu denger penjelasan gue! Gue terpaksa lakuin itu semua karena gue diancem sama Vanessa."
BRAKKKKK
Alex yang mendengar nama itupun seketika membuat emosinya memuncak kembali. Wanita itu benar-benar membuat dirinya pusing.
"Jelasin!" Ucapnya dengan dingin lalu mendudukkan kembali dirinya di kursi yang sudah disediakan.
"Jadi beberapa hari yang lalu, Vanessa dateng ke gue. Dia ngancem bakalan celakain adik gue kalo gue nggak nurut. Dan terpaksa gue lakuin apa yang dia minta tapi gue bener-bener nggak tahu darimana dia tahu tentang foto-foto Orin!"
Alex pun mengusap wajahnya dengan kasar, nanti dia akan membuat perhitungan dengan Vanessa tapi sekarang yang terpenting dia harus menjelaskan ini semua pada Orin.
"Sorry Lex, gue terpaksa lakuin ini semua, gue bingung harus gimana lagi! Gue mau ngomong sama lu tapi Vanessa terus ngancem gue dan lu tahu sendiri kan kalo Vanessa tuh orangnya nekat?"
"Besok gue mau lu jelasin ini semua ke Orin! Gue mau balik dulu!" Katanya kemudian meninggalkan tempat itu begitu saja. Dirinya masih ingin sendiri untuk mengambil keputusan terbaik nantinya. Sebenarnya dia juga tidak tega dengan Edo, tapi bagaimana lagi dia juga harus memberikan pelajaran pada sahabatnya itu. Agar setelah ini tidak ada kejadian seperti ini lagi. Tidak ada persahabatan yang tega menjual informasi pada orang lain seperti yang dilakukan Edo meskipun dia tahu itu terpaksa.
__ADS_1