
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua murid. Bagaimana tidak ditunggu-tunggu, hari ini ialah hari terakhir mereka melaksanakan ujian Nasional yang berarti sebentar lagi mereka akan menamatkan pendidikan sekolah menengah atas. Hari yang paling ditunggu-tunggu setelah tiga tahun penantian mereka. Tak terkecuali Orin dan sahabat-sahabatnya, bahkan mereka sudah merencanakan pesta kecil-kecilan sebagai penutup ujian Nasional. Padahal mereka sendiri belum tahu bagaimana hasilnya nanti.
"Gimana rencana kita nanti siang jadi kan?" Tanya Aneta ketika mereka sama-sama baru sampai di sekolah. Hari ini Orin sengaja menyuruh Aneta menjemputnya untung saja rumah mereka satu arah jika tidak mungkin Aneta akan mengomel sepanjang perjalanan sama seperti petasan banting yang dimaksud Alex.
"Jadilah, gue juga udah bilang ke Lingga juga!" Jawab Felys.
"Lah lu ngapain ngajakin Lingga?" Tanya Aneta dengan nada tidak suka. Bukan dia tidak suka dengan Lingga tapi dia lebih tidak suka dengan sahabatnya yang bucin terhadap Lingga itu.
"Gue yang nyuruh, nanti sama Alex and gengnya juga. Lingga udah kasih tahu ke temen-temennya belum?"
"Udah kata mereka sih sebenernya udah ada acara tapi mereka batalin aja dan ikut kita aja katanya!"
"Bagus deh!"
"Eh bentar bentar kalian kok gak ngomong ke gue kalo aja curut and the gengnya?" Kesal Aneta Sambil membayangkan wajah Alex yang menurutnya menjengkelkan itu.
"Ini juga udah ngomong Net!"
"Tapi kenapa baru ngomong Orin sayang? Ah nyebelin lu pada!" Kesalnya. Entah kenapa sedari dulu Aneta tidak menyukai keberadaan Alex mungkin karena Alex yang sering bergonta-ganti pasangan padahal Orin tahu jika itu adalah salah satu cara Alex agar dirinya cemburu tapi mau bagaimana lagi Orin tidak memiliki rasa sama sekali dengan Alex jadi menurutnya percuma dan sia-sia saja dia tidak akan cemburu.
"Udah lah sana masuk ke kelas lu pada!" Usir Orin pada dua sahabatnya itu. Jika tidak seperti itu mungkin Aneta masih akan mengomel dan membuat telinga Orin panas.
Dilain tempat seorang laki-laki tengah duduk di kursi kebesarannya. Sedari tadi jari-jarinya tak henti-hentinya menggeser layar iPad yang dia pegang. Ya laki-laki itu adalah Marcel. Sedari kemarin Alex sibuk membuat kejutan pesta perpisahan Orin nanti rencananya dia akan melamar Orin setelah perpisahan sekolahnya. Sebenarnya dia masih ragu sebab belum mengungkapkan jati dirinya sesungguhnya tapi Marcel sudah bertekad untuk mengikat Orin terlebih dahulu, urusan dia memanfaatkan ketidaktahuan Orin biarlah dipikirkan nanti saja.
"Mending tanya ke Aurel aja deh! Siapa tahu dia punya solusi!" Gumamnya kemudian meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang. Setelah pesan terkirim Marcel kembali menatap layar iPad nya. Kemudian dia memijat pelipisnya, ternyata ini lebih sulit dari yang dia bayangkan.
"Permisi!" Ucap seorang wanita dari luar ruangan Marcel bekerja. Hari ini dia sedang berada di kantor pusat. Lebih tepatnya lantai dua restoran utamanya. Dia sengaja menjadikan salah satu restorannya sebagai kantor sekaligus agar mempermudah dalam pengawasan.
"Masuk."
"Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya Aurel salah satu staf bagian keuangan.
__ADS_1
"Saya perlu bantuan dari kamu." Jawab Marcel tanpa basa-basi, dia harus segera menyelesaikan ini dan bertemu dengan Orin. Dua Minggu tidak bertemu rasanya rindu amat sangat.
"Bantuan apa ya pak?"
"Duduk dulu!" Perintahnya kemudian membalikkan Ipad-nya ke arah Aurel.
"Tolong bisakah kamu memilih salah satu restoran ini yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat melamar?" Tanya Marcel sedikit malu-malu. Bagaimana tidak ini pertama kalinya dia meminta pendapat seseorang mengenai hal pribadinya. Biasanya laki-laki itu akan memutuskan sesuatu dengan sendirinya mengingat dirinya hanya sebatang kara.
"Maaf pak jika saya lancang, tapi apa tidak sebaiknya bapak melamar kekasihnya di restoran kita saja maksud saya di restoran pak Angga. Selain untuk menghemat lagipula keamanan dan kebersihannya juga sudah terjamin!"
Marcel pun menganggukkan kepalanya, kenapa tidak kepikiran dari awal. Padahal dia memiliki cukup banyak restoran dan kafe yang tersebar di seluruh pelosok Jakarta.
"Jika bapak menginginkan konsep lain, nanti bisa kita rubah untuk konsepnya sesuai dengan yang bapak inginkan. Bagaimana?"
"Iya saya setuju, saya ingin di restoran yang bawah saja nanti tentang konsepnya saya akan email ke kamu. Oh ya saya juga minta tolong ke kamu untuk makanan dan juga lainnya akan saya serahkan semuanya ke kamu? Bagaimana sanggup?"
"Sanggup pak, untuk berapa orang kira-kira pak?"
"Baik pak, ada lagi?"
"Em saya butuh cincin untuk pertunangan nanti apa kamu bisa memilih mana yang pas?"
"Mohon maaf pak, untuk itu saya tidak bisa karena saya tidak tahu bagaimana selera kekasih bapak. Tapi tenang saja saya punya rekomendasi tempat yang bagus untuk bapak membeli cincin nanti. Bagaimana pak?"
"Iya saya akan kesana nanti."
"Baiklah kalau begitu saya pamit terlebih dahulu nanti alamat toko perhiasannya saya kirim lewat pesan saja pak!" Setelah mengatakan itu Aurel pun keluar dari ruangan Marcel. Dia cukup merasa senang bisa menjadi salah satu orang yang terlibat diacara besar Marcel karena selama ini Marcel sudah cukup banyak membantu dirinya dan keluarganya lagipula Marcel bukanlah boss dingin seperti orang-orang kebanyakan.
Tak lama kemudian ponsel Marcel pun berdering, sebuah pesan masuk yang ternyata dari Aurel. Setelah mendapatkan alamat dari Aurel, Marcel segera keluar dari ruangannya dan menuju alamat yang dimaksud. Dia sudah tidak bisa menunda di hari-hari lainnya lagi.
Setelah perjalan cukup panjang sekitar satu jam setengah karena tempatnya yang cukup jauh dan juga kemacetan yang sudah akrab dengan daerah ibukota, Marcel sampai ditempat tersebut. Sebuah toko perhiasan yang cukup besar.
__ADS_1
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu pegawai yang langsung menyambut kedatangan Marcel.
"Iya saya butuh cincin untuk pertunangan saya!"
"Oh baiklah, bapak bisa tunggu disana terlebih dahulu saya akan membawakan beberapa modelnya."
Marcel pun mengikuti arahan dari pegawai tersebut untuk duduk di salah satu sofa yang disediakan. Marcel juga yakin jika toko perhiasan ini menjual barang-barang mereka dengan kwalitas terbaiknya. Tak lama kemudian pegawai tersebut sudah kembali dengan membawa beberapa contoh model cincin pertunangan yang akan ditunjukkan pada Marcel.
"Ini cincin pertunangan yang kami miliki pak, apa mungkin mempunyai konsep cincin sendiri?"
"Tidak mbak, saya pilih salah satu dari ini saja." Jawab Marcel jujur karena memang dirinya tidak memiliki konsep apapun dan sebetulnya saja ini acara yang cukup terbilang mendadak.
Marcel pun mengamati cincin-cincin yang ada tersebut, semuanya indah dan dia bingung harus memilih yang mana. Cukup lama Marcel mengamati semuanya akhirnya pilihannya jatuh pada cincin berlian yang memiliki hiasan mahkota ditengahnya.
"Saya memilih yang ini saja mbak!" Tunjuknya pada salah satu cincin tersebut.
"Baik pak, ini adalah cincin keluaran terbaru dari toko kita. Ada 6 berlian kecil serta 105 berlian mini yang ada di dalam cincin ini. Berat totalnya adalah 4,3 gram dan terbuat dari 18K white gold." Ucap pegawai tersebut menjelaskan tentang cincin yang dipilih oleh Marcel.
"Ya ya, dimana saya bisa lakukan pembayaran?"
"Baik pak mari ikuti saya!" Marcel pun kembali mengikuti pegawai tersebut ke bagian kasir.
"Ada lagi yang mau dibeli pak?" Tanya pegawai bagian kasir itu.
"Tidak."
"Baik jadi totalnya 27juta pak, mau cash atau debit?"
"Debit saja." Jawabnya kemudian mengeluarkan salah satu kartu yang ada di dalam dompetnya.
"Terimakasih." Ucap pegawai tersebut dengan ramah.
__ADS_1
Fyuh. Akhirnya Marcel bisa bernafas sedikit lega, bagaian terpenting dari acaranya sudah siap.