
Seminggu sudah pasca operasi dan selama itulah Arga tidak pernah meninggalkan tempat Retha. Dia mengembalikan kembali hak dan wewenang dirinya atas perusahaan kepada papanya.
Saat ini Retha sudah dipindahkan ketempat perawatan tentunya dengan fasilitas VVIP karena kondisinya yang semakin berangsur membaik. Tetapi Retha juga masih menjalani serangkaian terapi untuk memulihkan kondisinya. Contohnya saja hari ini dia akan melakukan terapi psikis tentunya dengan ditemani sang suami tercinta.
"Sudah siap sayang?" Tanya Arga sembari menyisir rambut panjang milik Retha.
Retha pun mengangguk antusias, sebenarnya dia sudah sangat bosan berlama-lama di rumah sakit tapi mau bagaimana lagi suami arogannya melarangnya untuk pulang.
"Baiklah." Ucap Arga kemudian mengendong tubuh Retha ala bridal style menuju kursi roda. Arga begitu hati-hati saat membawa tubuh Retha karena saat ini hanya bukan Retha saja yang perlu dia jaga tetapi ada nyawa lain yang juga harus dia perhatikan.
Setelah itu mereka menuju tempat terapi dimana biasa mereka lakukan. Hari ini Retha akan melakukan terapi psikis guna membantu dirinya beradaptasi lebih baik secara mental.
Mereka menyusuri sepanjang lorong rumah sakit melewati taman yang begitu sejuk dan juga indah.
__ADS_1
"Berhenti dulu Ar, kita ke taman sebentar ya!"
Kemudian Arga pun melihat ke arah jam tangannya, masih ada waktu lima belas menit sebelum terapi dilakukan.
"Oke sayang." Arga pun mendorong kursi roda Retha menuju taman setelah itu mencari tempat yang teduh.
"Kapan kita akan pulang Ar, aku bosan disini!" Kembali Retha dalam metode merengeknya. Sejak kehamilan ini Retha memang selalu berubah-ubah dalam perilaku kadang seperti orang dewasa tapi kadang juga seperti anak kecil yang mudah merajuk bila keinginannya tidak dituruti.
"Kalau kau sudah sembuh!" Jawab Arga kemudian berjongkok didepan istrinya sembari mengelus pipi Retha yang terlihat masih sedikit pucat.
"Iya aku tahu kau sudah sembuh tapi sembuhmu harus benar-benar yang sembuh, jadi sabar sebentar lagi saja ya!"
Retha pun mengerucutkan bibirnya kesal, selalu seperti itu Arga menyuruh untuk bersabar dan bersabar.
__ADS_1
"Hemm tapi setelah ini belikan aku es krim!" Pinta Retha sambil tetap mengerucutkan bibirnya semakin membuat Arga gemas.
"Tidak untuk es krim."
"Apa sih kau ini semuanya tidak boleh, ini tidak boleh itu tidak boleh, menyebalkan!" Gerutu Retha karena permintaannya tidak dituruti.
"Hey lihat aku!" Ucap Arga kemudian meraih dagu Retha agar menghadap kearahnya. "Ini untuk kebaikan kita semua, kebaikan aku dirimu dan juga anak kita yang ada disini!" Imbuhnya sembari mengelus perut Retha yang masih rata.
Entahlah menurut Retha akhir-akhir ini Arga lebih dewasa dari yang biasanya. Dia selalu menyikapi dengan sabar sifat dan kelakuan Retha yang berubah-ubah setiap waktu.
"Yuk sudah waktunya terapi sayang, jadi tersenyumlah!" Ujarnya kemudian mencium kening Retha dengan sayang. Retha hanya diam tak bergeming ada perasaan senang yang menggelayuti hatinya atas perlakuan Arga. Tapi dia menampik atas perasaan itu yang ada didalam hatinya sekarang hanya sebal oleh suaminya karena tidak belikan eskrim.
Tak lama kemudian mereka sampai didepan pintu tempat Retha akan terapi. Kali ini yang akan membimbing terapi Retha adalah seorag pria muda dengan wajah tegas namun juga tampan. Terbesit ide gila dari Retha untuk mengerjai suaminya itu.
__ADS_1
**HAYOO MENURUT KALIAN RETHA SEDANG MEMIKIRKAN IDE APA YA 🤔