
Sampainya di rumah dengan segera Retha masuk ke dalam kamarnya. Dia benar-benar bingung harus berbuat bagaimana. Memang untuknya sekarang uang bukanlah hal yang sulit dia dapatkan tapi bagaimana caranya menjelaskan ke Arga karena bagaimanapun dia adalah kepala rumah tangga yang harus tahu segala hal yang terjadi dengan keluarganya.
Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri akhirnya Retha memutuskan untuk mengambil uang yang ada di brankas rumahnya. Tak lupa dia meletakkan uang itu di sebuah koper yang biasa Arga gunakan untuk membawa dokumen penting. Persetanan dengan pertanyaan Arga nanti yang terpenting sekarang adalah keselamatan nyawa putrinya. Yang semakin membuatnya gugup adalah penculik Orin sedari tadi menerornya dengan ancaman-ancaman yang membuat Retha tak mampu untuk berpikir jernih.
"Pak tolong antarkan saya ke alamat ini!" Perintah Retha pada pak Yuda sopirnya yang selalu siap sedia jika Retha membutuhkan.
Dengan segera pak Yuda pun mengantarkan Retha ke alamat tersebut.
"Pak lebih cepat lagi!"
"Ini sudah sangat cepat nyonya muda, akan sangat berbahaya jika mengendarai mobil lebih cepat lagi!"
"Tapi pak nyawa Orin dalam bahaya! Jika kita terlambat menyelamatkannya entahlah apa yang akan mereka lakukan pada putriku!" Ucap Retha mulai melemah bahkan suaranya yang tadi menggebu-gebu sekarang menjadi sebuah gumaman-gumaman tidak terlalu jelas.
"Apa tidak sebaiknya tuan muda tahu tentang ini nyonya muda. Mungkin beliau akan memberikan solusi yang terbaik untuk putrinya?"
"Tidak pak, jika kita memberitahu Arga mereka akan menyakiti putriku. Dan lagipula pagi tadi Arga bilang jika akan ada urusan penting mengenai perusahaan dan kemungkinan sekarang dia sudah berangkat ke luar kota."
Pak Yuda pun juga menampakkan raut wajah yang khawatir. Setelah dua jam perjalanan akhirnya mereka pun tiba ke dalam sebuah perumahan yang bisa dibilang elit. Retha tampak mengernyitkan dahinya, apa mungkin para penculik Orin memberikan alamat yang salah? Bukankah jika dalam penculikan biasanya yang diculik akan dibawa ke tempat yang jauh dari perumahan dan biasanya yang berada di pinggiran hutan.
"Pak Yuda apa ini sudah sesuai dengan alamat yang tadi saya tunjukkan?" Tanya Retha yang masih tidak percaya.
"Benar nyonya muda disini alamatnya." Jawab pak Yuda yang masih mengemudikan mobilnya masuk kedalam perumahan tersebut. Tidak banyak rumah yang ada ditempat itu bisa dibilang hanya beberapa saja tapi tampaknya tempatnya sangat menyenangkan dan penuh ketenangan.
"Sebetulnya siapa sih mereka? Kenapa membawa Orin ke tempat ini!" Gumam Retha pada dirinya sendiri.
Akhirnya mobil pun berhenti tepat di depan sebuah rumah. Ah sepertinya bukan rumah tapi istana karena arsitekturnya yang lebih menyerupai istana itu.
"Em pak sepertinya salah rumah, kenapa di rumah ini?" Tanya Retha lagi yang masih ragu-ragu.
"Benar nyonya muda nomor rumah sudah sesuai dengan alamat tadi."
Retha masih terdiam sembari mengamati rumah tersebut dari dalam mobil. Rumah dengan desain mewah gaya Eropa serta pagar-pagar besi berwarna hitam yang mengelilingi rumah tersebut. Retha semakin tidak mengerti sebenarnya orang seperti apa yang telah menculik Orin. Bahkan mereka memiliki rumah yang lebih besar dan mewah dari rumah Arga tetapi mengapa mereka masih menculik Orin. Apa ini semua perbuatan rekan bisnis Arga? Jika itu benar mereka sudah kelewatan karena mencampur adukkan urusan bisnis dengan pribadi.
08123456****: Cepat masuk dan jangan lupa bawa uangnya!
Sebuah pesan singkat kembali masuk ke ponsel Retha. Dengan segera Retha pun keluar dari mobil itu. Awalnya pak Yuda akan menemaninya tapi Retha melarang karena para penculik itu berucap jika Retha membawa seseorang meskipun itu bukan Arga mereka tidak akan segan-segan untuk menyakiti Orin.
__ADS_1
Dengan langkah hati-hati sembari memperhatikan sekeliling Retha mulai memasuki pekarangan rumah tersebut. Sebetulnya rumah tersebut bisa dibilang menyenangkan tapi jika dalam suasana seperti ini rumah tersebut menjadi berbanding terbalik menjadi rumah yang menyeramkan.
Sesuai dengan perintah yang dikirimkan oleh penculik tersebut Retha pun masuk kedalam rumah. Awalnya dia ragu-ragu apakah keputusan yang sudah diambil tersebut akan sesuai dengan rencananya atau malah sebaliknya yang akan menyeretnya ke dalam masalah yang lebih rumit lagi.
Saat membuka pintu tampak suasana hening melanda. Rumah tersebut rapi dan sepertinya memang berpenghuni karena terlihat dari lantainya yang tampak putih mengkilat itu. Baru saja Retha melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tiba-tiba suara mengejutkan masuk ke indera pendengarannya.
Duarrr!!!!
"Selamat ulang tahun!" Ucap mereka secara serempak dimana membuat Retha semakin bingung dan masih dengan posisinya yang membatu.
"Selamat ulang tahun mommy!" Kata Orin sembari tersenyum memperlihatkan gigi putihnya itu.
Retha masih saja bungkam mengamati satu persatu wajah orang-orang yang berada di sana. Tampak semua orang tersenyum tulus padanya mulai dari kedua mertuanya, ibu kandungnya sendiri dan juga suaminya yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum itu. Oh dia melupakan putranya yang juga ikut tersenyum itu meskipun masih kecil Noel sudah terlihat sangat gagah.
"Apa maksud ini semua Arga?" Tanyanya pada Arga. Dia masih tidak mengerti jika mereka memberikan kejutan padanya. Mungkin karena panik Orin di culik membuat pikirannya menjadi sulit mencerna sebuah peristiwa.
"Hey kau tidak ingat ya jika hari ini adalah hari ulang tahunmu?" Tanya Arga dia benar-benar tidak mengerti kenapa istrinya yang biasanya cerdas itu berubah menjadi telmi seperti ini.
"Ya aku memang tidak ingat sama sekali!" Ujarnya sembari tersenyum meringis.
"Lalu Orin? Bukan tadi kau minta bantuan karena di culik? Tapi sekarang kau malah ada disini dengan mereka semua? Aku benar-benar tidak mengerti!" Katanya sembari menggelengkan kepalanya agar pening yang datang tiba-tiba itu segera pergi.
"Hey sayang tersenyumlah ini hari ulang tahunmu kenapa kau malah menampakkan wajah menyeramkan itu?"
"Sekarang Arga coba kau jelaskan apa maksud dari semua ini?" Kesal Retha. Dia sudah panik mendengar jika Orin di culik tapi ternyata semua itu hanyalah sandiwara mereka semua dan tentu saja Retha sekarang mengerti siapa dibalik semua ini.
"Hehehe maaf jika sudah membuatmu khawatir tentang Orin. Itu hanya bagian dari rencana untuk membuat kejutan di ulang tahunmu hari ini."
"Oh ya Tuhan dan aku benar-benar terkejut dengan ini semua."
"Sudah sudah jangan berdebat dengan masalah Orin, sekarang Retha ayo tiup lilinnya!" Ucap mama Rani menengahi perdebatan mereka.
Dengan raut wajah yang masih panik Retha pun mengikuti perintah mama Rani dia meniup lilin yang menunjukkan angka 28 itu.
"Happy birthday mom semoga kau selalu bahagia dan kasih sayangmu pada kami tidak akan berubah!" Kata Noel yang sedari tadi sibuk memperhatikan mereka. Anak laki-lakinya itu tumbuh cenderung menjadi anak yang pendiam menurutnya.
"Oh terimakasih sayangnya mommy!" Ucap Retha lalu duduk mensejajarkan tingginya dengan Noel dan mengecup kedua pipi putranya itu.
__ADS_1
"Mom cium aku juga!" Kata Orin sembari merengek meminta cium dadi sang ibu.
"No, karena kau sudah membohongi mommy dan itu sangat keterlaluan Orin."
"Tapi mom itu semua ide dari Daddy aku hanya menurut saja!"
"Dan salahnya kau sudah menurut pada daddymu itu!" Kata Retha sebenarnya dia tidak marah pada putrinya itu hanya saja dia ingin mengerjai putrinya saja.
"Kau lihat dad gara-gara idemu itu aku jadi tidak mendapatkan cium dari mommy!" Keluh Orin pada daddynya itu.
"Enak saja kau menyalahkan Daddy, jika kau tidak setuju dengan ide Daddy kenapa tidak menolak dari awal?"
"Mom...!"
Karena tidak tega melihat putrinya yang sudah mulai memerah wajahnya itu Retha pun akhirnya mencium kedua pipi gembil Orin dimana membuat anak itu meloncat-loncat kegirangan.
*******
Setelah acara kejutan Retha selesai akhirnya mereka pun beristirahat karena hari sudah menjelang malam. Mereka semua bersiap untuk pesta barbeque nanti malam yang diadakan di taman belakang rumah.
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Retha kecuali keluarganya secara utuh berkumpul seperti ini. Meskipun tidak semuanya tapi Retha masih bersyukur di bertambahnya usia tahun ini dia diberikan nikmat yang luar biasa oleh sang pencipta.
Dan tak lupa Arga juga menjelaskan mengenai rumah itu. Rumah itu khusus Arga desainkan untuk Retha sebagai hadiah ulang tahunnya. Awalnya Retha menolak karena menurutnya itu terlalu berlebihan dan lagipula rumah lama mereka juga masih bagus. Tapi bukan Arga namanya jika tidak bisa membuat Retha luluh, akhirnya dengan segala upaya yang Arga berikan akhirnya Retha pun mau menerima rumah tersebut untuk mereka tinggali dimasa mendatang.
Retha pun tersenyum puas, sekarang cita-citanya sudah tercapai semua. Meskipun cita-citanya memliki sebuah restoran belum tercapai tapi cita-citanya memiliki keluarga kecil yang harmonis sudah tercapai.
*Bonus visual Arga dan Retha
*Orin kecil
*Noel kecil
__ADS_1