Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
Hhhhh


__ADS_3

Seorang pria yang tengah berbaring di sofa mulai mengerjapkan matanya ketika indera pendengarannya mendengar suara berisik yang dia kenal. Perlahan dia mulai membuka matanya menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya. Dimana dirinya sekarang? Dia merasakan tubuhnya yang berbaring kurang nyaman di atas sofa yang mana tak mampu menahan tinggi badannya yang lebih panjang dari ukuran sofa.


"Sudah bangun kak?" Suara itu entah kenapa dia merasakan ada nada mengejek didalamnya.


Marcel pun bangun menegakkan tubuhnya, begitu pandangannya menyapu sekitar dia baru sadar jika sekarang di rumah sakit. Dan lebih parahnya dia juga menyadari kenapa dirinya berbaring di atas sofa sempit itu.


"Ya Tuhan sayang!" Pekiknya kemudian melangkahkan kakinya ke dekat ranjang dimana sang istri tengah berbaring dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangannya.


Sementara Orin, entah dia harus bagaimana menyikapi sang suami yang tiba-tiba pingsan di ruang persalinan dan membuat kehebohan seluruh rumah sakit. Untung saja tak lama setelah itu keluarganya datang dan membawa Marcel ke ruangan yang sekarang di tempatinya.


"Maafkan aku...!" Ucapnya dengan nada penuh penyesalan. Bagaimana tidak dia sudah lama mengharapkan momen ini terjadi tetapi ternyata semua di luar ekspektasinya. Dia kira mendengar suara jeritan Orin akan melahirkan sama dengan suara biasanya ketika wanita itu bernyanyi tapi semua benar-benar di luar kendalinya. Ternyata suaranya lebih mengerikan dan banyaknya darah yang keluar membuatnya mual dan pusing seketika.


"Tak apa, tidak mau melihat anak kita?" Tanyanya. Dia tahu pasti suaminya itu menyesal atas apa yang terjadi. Dan karena dia tidak mau membuat suaminya kecewa, Orin pun mengalihkan pembicaraan.


"Benar aku belum melihat baby twins kita! Hasil jerih payah kita setiap malam!" Ucapnya tanpa tahu malu. Memang siapa yang harus membuatnya malu toh disana hanya ada keluarganya saja.


"Mana mom anak-anakku!" Marcel pun menggedong sang putra terlebih dahulu.


"Huh anak papa tampan sekali seperti papanya hmm!"


"Ish dasar nggak tahu malu kamu kak!" Cibir Noel melihat tingkah sang kakak ipar.


"Apa sih El, kamu itu belum pernah mengalami hal seperti ini jadi kamu belum tahu rasanya!" Belanya pada dirinya sendiri untuk mengurangi rasa malu yang sebenarnya sudah menggunung itu apalagi ada kedua mertuanya disana.

__ADS_1


"Tapi setidaknya aku nanti tidak akan pingsan sepertimu kak!" Masih mencibir sepertinya Noel memang memanfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk mengolok-olok sang kakak ipar yang perfeksionis itu.


"Sudah jangan ribut! El kasihan keponakanmu nanti tidurnya terganggu!" Ucap sang Daddy menengahi keributan diantara menantu dan anak sulungnya.


Begitulah mereka laki-laki yang berada di keluarga besar Winata. Mereka akan hangat saat bersama dengan keluarga tapi berbanding terbalik ketika berada di luar rumah. Mereka akan menjadi sosok yang dingin dan juga tegas.


"Sini kak, Andrew belum minum susu pasti dia lapar!" Kata Orin meminta sang anak untuk diberikan ASI miliknya.


Sementara Marcel dengan ragu memberikan putranya kepada sang ibu untuk diberikan ASI. Marcel ragu bukan karena apa, kedua payudara Orin adalah tempat favoritnya dan sekarang mungkin akan menjadi tempat favorit untuk anaknya juga.


"Udah deh kak, berbagi sama aja sendiri gapapa kali!" Kata Noel yang sepertinya mengerti dengan keraguan dari Marcel.


"Ish apa sih kamu!" Jawabnya kemudian menyerahkan sang putra pada Orin. Setelah itu dia mengambil putrinya yang sejak tadi berada di pangkuan mertua laki-lakinya. Bayi merah itu tampak menggeliat karena tidurnya yang terusik.


"Emmm anak papa, cantik banget sih!" Pujinya pada sang anak perempuan yang bahkan enggan untuk membuka matanya hanya bergerak menggeliat untuk mencari posisi yang lebih nyaman.


Kini mereka sudah berada di rumah sejak satu Minggu yang lalu. Dan sekarang Marcel lebih over protective pada anak dan juga istrinya. Marcel benar-benar tidak memperbolehkan Orin untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Bahkan dia sekarang menambah jumlah asisten rumah tangga dan juga baby sitter khusus untuk anak-anaknya.


"Sayang cepat mandi nanti kamu terlambat bekerja!" Kata Orin ketika dia sudah selesai membersihkan tubuhnya sementara sang suami masih berbaring di atas ranjang bersama dengan kedua buah hatinya.


"Aku hari ini masih libur sayang!"


"Ck, libur kok tiap hari bisa-bisa nanti kamu bangkrut!" Sungut sang istri ketika melihat suaminya yang akhir-akhir ini lebih banyak meluangkan waktunya untuk berada di rumah. Bahkan sejak melahirkan mungkin Marcel baru dua kali untuk pergi ke bekerja.

__ADS_1


"Nggak akan bangkrut sayang, aku udah taruh orang-orang yang punya loyalitas tinggi padaku untuk bekerja di bawah perintahku!"


"Lagipula aku sedang ingin bermain dengan mereka!" Imbuhnya kemudian mencium pipi kedua anaknya secara bergantian.


"Hish pasti bentar lagi si Andrew nangis kalau kamu cium!" Dan benar saja, bayi gembil laki-laki itu tiba-tiba saja menangis kencang dimana membuat papa dan juga adiknya terkejut. Entah kenapa Orin juga tidak mengerti sang putra itu sangat sensitif dengan laki-laki. Tidak hanya pada papanya saja tapi pada semua laki-laki yang mendekatinya. Dia akan menangis kencang ketika ada laki-laki yang menciumnya.


"Tuh kan apa kubilang!" Kata Orin kemudian menggendong sang putra lalu segera memberikan ASI agar putranya kembali tenang. Sementara Marcel menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda. Kemudian ikut duduk di samping istrinya di tepi ranjang dengan putrinya yang berada di pangkuan.


"Apa lihat-lihat!" Ketus Orin melihat tatapan sang suami yang tertuju pada buah dadanya.


"Masa belum boleh sih yang, aku udah puasa lama banget lho!" Rengek Marcel setelah tidak mendapat jatah sejak kedua anaknya lahir.


"Baru puasa satu Minggu, kata dokter baru boleh melakukannya lagi paling tidak enam Minggu setelah melahirkan!"


"Masa? Aku nggak percaya paling akal-akalan kamu aja!"


"Enak aja kalau nggak percaya tanya dokter sana!" Jawab sang istri dengan kesal karena sejak semalam sang suami sudah merengek minta jatahnya kembali.


Sementara Marcel mengerucutkan bibirnya kesal, bagaimana tidak sebagai laki-laki dewasa yang sudah beristri tentu saja dia merindukan sentuhan-sentuhan istrinya. Sentuhan yang biasanya dia dapatkan setiap malam.


"Ya sudah aku mau kerja aja daripada di rumah pengen terus!" Katanya kemudian mengembalikan sang putri di box bayi yang berada di kamar mereka. Orin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu. Meskipun usia Marcel sudah kepala tiga tapi tetap saja seperti abege jika berhadapan dengan istrinya.


"Mandi sana aku buatin sarapan dulu! Kamu mau sarapan apa?"

__ADS_1


"Sarapan kamu!" Jawabnya sambil terkikik kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan handuk yang bertengger di bahunya.


"Dasar mesum!"


__ADS_2