
"Selamat pagi!" Sapa Retha pada sang terapis tak lupa dia juga memasang senyum semanis mungkin.
"Selamat pagi!" Jawab sang terapis dengan sopan. Sedangkan Arga dia hanya diam sembari mengawasi.
"Bisa langsung kita mulai saja untuk terapi sesi hari ini?" Tanyanya.
"Bisa!" Kemudian Retha pun menoleh pada sang suami. "Kamu tunggu diluar saja ya jangan ikut masuk!" Perintah Retha pada Arga.
"Mana bisa aku harus ikut masuk lah!"
"Sayang ini tuh kemauan anak kita lho bukan kemauan aku!" Ucap Retha dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Tapi sayang..."
Retha pun mengerucutkan bibirnya tak suka.
"Baiklah, tapi awas jangan sampai lama-lama!" Ancamannya kepada sang terapis. Sang terapis pun hanya bisa tersenyum memaklumi akan kekhawatiran suami pada istrinya.
Didalam ruangan Retha pun memulai dengan serangkaian terapinya. Sedangkan sang suami diluar sudah uring-uringan tidak jelas. Baru duduk sebentar diruang tunggu sudah berdiri lagi. Rasanya waktu berputar begitu lama hari ini.
Satu jam sudah berlalu tetapi Retha juga masih belum keluar dari dalam ruangan tersebut semakin membuat agar lebih risau. Sedangkan yang didalam sedang asyik bergurau, Retha memang sengaja membuat Arga menunggu lama.
Karena rasa sabarnya sepertinya sudah habis, Arga pun menelepon dokter Kenan untuk meminta bantuannya.
__ADS_1
"Dimana?" Tanya Arga tanpa basa-basi ketika dokter mengangkat telepon.
"Santai dong bro! Ada apa? lagi dirumah hari ini libur."
"Bisa ke rumah sakit sekarang nggak?"
"Ngapain sih? Ogah kan udah gue bilang lagi libur, ngeyel banget sih nih bocah!" Geurutu dokter Kenan karena Arga sudah mengganggu waktu cutinya.
"Retha lagi terapi didalam daritadi belum keluar, mana terapisnya cowok lagi!" Geram Arga membayangkan wajah tampan Bram sang terapis tadi.
"Iya udah lah ga, namanya juga lagi terapi emang belum selesai mungkin, udah ganggu gue aja Lo!" Dokter Kenan pun mematikan panggilannya secara sepihak.
"Arrgghhh!" Arga pun kesal sendiri, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu.
"Mau keluar sekarang Re?" Tanya Bram karena sebenarnya dia juga tidak nyaman jika harus berlama-lama didalam bersama Retha.
"Sebentar lagi ya kak Bram, please?"
Bram pun hanya mampu menghela nafas sejenak dan menuruti permintaan Retha.
"Jadi kamu sedang hamil berapa bulan Re?"
"Dua bulan kak, emang kentara banget ya kalau aku lagi hamil?" Tanya Retha sambil memegang pipinya.
__ADS_1
"Adikku perempuan dan dia pernah hamil jadi aku tau bagaimana bentuk dan perilaku orang hamil!"
"Iya udah kak ayo keluar sekarang sebelum macan diluar mengamuk dan robohin ini rumah sakit!" Ucap Retha sambil cekikikan membayangkan wajah cemburunya.
Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan tersebut. Seperti mendapat angin segar Arga segera menghampiri mereka dan langsung mengambil alih kursi roda yang dibawa oleh Bram.
"Terimakasih kak Bram lain waktu pasti kita akan bertemu kembali!" Kata Retha sembari melambaikan tangannya karena Arga sudah mendorong kursi roda tersebut menjauh dari ruangan itu.
"Tidak ada lain waktu, jangan mimpi bisa ketemu dia lagi. Nanti malam kita pulang ke rumah!"
"Beneran?" Tanya Retha antusias pasalnya inilah yang dia inginkan sejak beberapa waktu lalu tapi Arga selalu menunda kepulangan mereka.
"Iya tapi kita ke dokter kandungan dulu, cek kehamilan kamu sayang!"
Retha pun mengangguk bahagia akhirnya dia bisa menghirup udara bebas. Setelah dari ruangan tersebut Arga segera mengarahkan ke ruangan dokter kandungan sesuai yang Arga minta.
Q: Author kenapa update nya lama banget sih?
A: Maaf ya kak akhir-akhir ini aku kurang dapet feel ketika nulis cerita jadi takut kalau ceritanya nggak masuk jadi aku revisi revisi terus.
Q: Updatenya kalau bisa tiap hari dong thor?
A: Bakalan author usahain kok buat update tiap hari 🙏
__ADS_1