Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
69


__ADS_3

"Kau tunggu saja diluar, percayakan Retha padaku!"


Setelah mengatakan itu dokter Kenan segera memasukkan Retha ke dalam ruang operasi. Tak lama kemudian seorang perawat perempuan keluar dan segera kembali dengan seorang dokter wanita.


Arga hanya bisa menangis sembari menyenderkan punggungnya ke tembok. Sungguh pikirannya begitu kacau, jika terjadi pada istrinya mungkin dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Kini pikirannya terbelah menjadi dua, yang satu memikirkan keselamatan Retha dan yang satunya memikirkan Ivanka wanita licik penuh tipu muslihat itu. Dia tahu betul jika ini adalah perbuatan Ivanka pasalnya ditempat Retha itu jarang bahkan tidak ada motor yang melintas karena disitu merupakan kawasan elite.


"Arrgghhh..." Arga meremas rambutnya sendiri, dia benar-benar marah pada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian muncullah papa dan mama dari Arga. Mereka tampak berjalan cepat disepanjang koridor rumah sakit.


"Bagaimana kondisi Retha Ar?" Tanya Mama Rani masih dengan nafas yang terengah-engah.


"Masih di ruang operasi ma!" Jawab Arga dengan suara rendah hampir tidak terdengar.


"Ikut papa, ada yang ingin papa bicarakan padamu!" Ucap papa Johan dengan tegas tanpa memandang anak laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Aku tidak mau, aku akan tetap disini menunggu Retha!"


"Ini tentang Retha, mau tidak mau kau harus tetap ikut aku." Kemudian papa Johan berlalu pergi ke taman yang ada di rumah sakit tersebut.


Setelah sampai di taman papa Johan pun duduk di bangku taman yang sudah di sediakan. Matanya menatap tajam ke arah depan seakan menyiratkan bahwa dia sedang dalam keadaan marah besar. Kemudian Arga duduk disamping papa Johan dengan masih menundukkan kepalanya.


"Ceraikan saja Retha!" Kata papa Johan dengan nada dingin dan tegas.


Arga yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah papanya. Dia tidak mengerti apa yang ada di pikirannya papa itu.


"Apa maksudnya pa?" Tanya Arga masih dengan raut kebingungan.


Arga pun sontak langsung berdiri, matanya menyiratkan kemarahan yang begitu besar. Dulu mungkin memang dia membenci perjodohan itu tapi untuk sekarang dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan pernikahannya.


"Aku tidak akan bercerai dengan Retha, apapun yang terjadi. Papa harus ingat itu, istriku hanya Retha."


"Dan satu lagi mungkin ini memang kesalahanku tapi aku akan berusaha memperbaikinya apapun akan kulakukan!"

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu Arga segera berlalu meninggalkan sang papa. Dia sudah marah dengan Ivanka apalagi sekarang papanya malah menyuruh untuk berpisah dengan Retha, omong kosong apa itu. Pikir Arga.


Sebetulnya papanya juga tidak akan tega jika harus memisahkan mereka tapi apa boleh buat papa Johan hanya menggertak Arga agar dia lebih bertanggung jawab pada istrinya dan benar-benar meninggalkan wanita iblis yang sudah banyak menguras hartanya.


Sesampainya didepan pintu ruang operasi, dilihatnya pintu masih tertutup rapat dan lampu masih menyala itu berarti operasi Retha masih berjalan. Dia bukan seorang dokter jadi dia tidak mengerti apa yang dokter lakukan pada Retha-nya.


Arga duduk bersimpuh dibawah sang mama yang sedang duduk di kursi tunggu. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di paha mama Rani hal yang dulu dia lakukan jika sedang keadaan bersedih. Bahkan dia lupa kapan terakhir kali dia melakukan itu kepada sang mama.


"Tenang sayang Retha pasti akan baik-baik saja!" Ucap mama Rani sambil mengelus sayang kepala anaknya itu.


"Ma aku takut, aku takut Retha meninggalkanku, aku sangat mencintainya, aku tidak mau kehilangannya!" Ujar Arga dengan sesegukan air matanya sudah tumpah begitu saja.


"Retha juga mencintaimu pasti dia tidak akan meninggalkanmu!"


"Tapi papa menyuruhku untuk meninggalkan Retha aku tidak mau ma!"


Mama Rani pun meraih kepala Arga agar menghadap kearahnya lalu mengusap air matanya. Arga yang terkenal acuh terhadap orang lain kini menangis untuk sang istri.

__ADS_1


"Hei dengarkan mama, papamu pasti punya alasan untuk itu. Papa ingin kamu lebih bertanggungjawab pada istrimu. Jadi jangan menyalahkan papa ya?" Arga hanya mengangguk paham. Ini memang kesalahannya mau tidak mau dia harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi.


__ADS_2