
"Pak Marcel?"
"Orin?" Tanya mereka bersamaan.
"Selamat datang di kedai Yummy kak, ada yang mau dipesan?" Tanya seorang pelayan menginterupsi mereka dan menyadarkan mereka dari keterpesonaan satu sama lain.
"Ehm apakah masih ada kursi kosong lagi?"
"Mohon maaf pak, semua kursi sudah terisi penuh. Ada kursi kosong tapi sudah ada yang reservasi."
"Emm bapak duduk disini saja tidak apa-apa." Ucap Orin entah keberanian darimana dia malah menyuruh Marcel duduk di depannya.
"Terimakasih!" Marcel pun ikut duduk berseberangan dengan Orin.
"Ada yang mau dipesan?" Tanya pelayan itu lagi.
"Spicy karaage ramen satu!" Jawab Orin kemudian menyerahkan buku menu tersebut kepada Marcel.
"Saya samakan dengan punyanya saja." Orin pun membulatkan matanya. Apa benar Marcel ingin menu yang sama dengannya?
"Ada lagi kak Orin?" Orin pun menggelengkan kepalanya sementara Marcel mengerutkan alisnya membuat wajah yang biasanya terlihat menjadi sangat lucu.
"Apa kamu sering makan disini?"
"Iya dulu bersama kakak tapi sekarang maka sedang di luar negeri jadi aku tidak punya teman makan." Jawab Orin diikuti dengan senyum manisnya.
"Aneta?"
"Día pemilih dalam hal makanan pak!" Jawab Orin kesal mengingat saat Aneta selalu menolaknya jika dia mengajak untuk makan malam. Menurut Aneta makan malam berat tidaklah sangat bagus karena wanita itu memang sangat menjaga penampilannya.
__ADS_1
Sedangkan Marcel hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Marcel begitu terpesona dengan penampilan Orin. Menurutnya Orin adalah sosok yang luar biasa. Gadis itu mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada disekitarnya.
"Silahkan dinikmati kak Orin!"
"Terimakasih."
Sebenarnya Orin tampak ragu dengan pesanan yang dia pesan. Bukan pesanannya tapi pesanan yang Marcel samakan dengan dirinya. Sementara Marcel meneguk salativanya dengan susah payah. Ramen itu tampak menggoda lidahnya tapi melihat biji cabai yang begitu banyaknya membuatnya jadi susah bernafas.
Sebelum makan Orin terlebih dahulu minum air mineral yang sudah dia pesan bersama dengan ramen tersebut.
Awalnya Orin saat canggung makan berhadapan dengan sang guru tapi apa boleh buat perutnya sendiri sudah lapar bahkan cacing-cacing diperutnya sudah demo sejak tadi.
"Silahkan dinikmati pak!"
"Ah ya!"
"Pak Marcel tidak apa-apa?" Tanya Orin tampak khawatir dengan raut wajah Marcel yang mulai memucat. Sementara Marcel hanya menggelengkan kepalanya sambil tetap memakan ramen tersebut. Dia cukup gengsi, Orin saja yang perempuan bisa makan makanan pedas sementara dirinya baru segitu saja sudah tidak kuat!
"Pak kalau bapak tidak suka, bapak bisa pesan yang lain!" Kata Orin lagi, kini wajah Marcel sudah penuh dengan peluh yang membasahi wajah tampannya.
"Awww...!" Pekik Marcel sambil memegangi perutnya yang rasanya sangat melilit.
"Pak bapak kenapa?" Tanya Orin yang kini sudah berdiri disamping Marcel. Raut wajah Orin benar-benar menunjukkan jika dirinya sangat khawatir dengan guru tampannya.
"Saya antarkan ke rumah sakit pak!"
"Tidak perlu, antarkan saja saya ke rumah." Akhirnya Orin pun menaruh beberapa lembar uang dan menaruhnya diatas meja sebagai pembayaran atas makanan yang mereka pesan. Dengan sekuat tenaga dia pun membopong tubuh menjulang tinggi itu untuk keluar dari kedai. Badan Marcel mulai melemas dan untung saja kesadarannya masih ada meskipun sudah mulai melemah.
"Pak, bapak bisa mengatakan dimana tempat bapak tinggal? Nanti biar sopir saya yang mengantar!"
__ADS_1
"Perumahan Oesman kompleks Kartika nomor 12b." Ucapnya sambil masuk ke dalam mobil Orin sementara mobilnya sendiri dia tinggal begitu saja.
Marcel benar-benar merutuki kebodohannya karena dirinya ingin terlihat wah didepan Orin tapi malah membuat dirinya sengsara apalagi sekarang melihat wajah Orin yang tampak khawatir itu.
"Pak bertahanlah!" Marcel pun hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ini sudah penyakit lama jika dia makan terlalu pedas asam lambungnya akan naik dan menyebabkan penyakit refluks asam lambungnya kambuh.
Orin mengusap peluh yang membasahi kening Marcel. Direbahkanya kepala Marcel di pangkuannya. Dia benar-benar khawatir, bagaimana jika Marcel tidak tertolong mungkin dia akan menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.
"Mang lebih cepat lagi!" Perintahnya pada sang sopir yang menurutnya terlalu pelan mengendarai mobilnya itu.
"Baik non."
Setelah kurang lebih tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka pun sampai di sebuah perumahan elit. Perumahan yang sebelas dua belas dengan yang ditempati oleh Orin. Mang Asep pun mencari nomor rumah yang tadi disebutkan oleh Marcel. Sampailah mereka disebuah rumah yang bisa dikatakan mewah dengan pagar tembok yang mengelilingi rumah tersebut.
Mereka pun turun dari mobil setelah mang Asep tiba tepat di depan rumah. Mang Asep turut membantu Orin membawa laki-laki yang beberapa kali pernah dia temui ketika mengantar ataupun menjemput nonanya.
Sampai didepan rumah Orin pun mengetuk pintu tersebut bermaksud siapapun yang berada didalam rumah segera untuk membukakan pintu. Bukan saja karena keadaan Marcel yang sudah darurat tapi karena badan Marcel yang tinggi dan besar tentu saja berat.
"Permisi!"
"Selamat malam, tolong bukakan pintunya lak Marcel sedang sakit!" Teriak Orin sambil mengetuk pintu tersebut dengan keras dimana membuat Marcel menyunggingkan senyumnya ditengah rasa sakit yang melanda perutnya.
"Di rumah ini tidak ada orang Rin, hanya ada saya dan asisten rumah tangga. Tapi ketika malam tiba seperti ini beliau sudah pulang!"
"Ambil kunci rumah yang ada disaku celana belakang!" Perintahnya dimana membuat Orin bersemu bagaimana mungkin dia mengambil sesuatu yang ada di belakang celana gurunya tapi mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu. Akhirnya dengan hati-hati Orin pun mengambil kunci tersebut lalu memasukkannya kedalam lubang setelah itu memutarnya sampai terdengar bunyi "klik" dua kali. Pintu pun terbuka memperlihatkan rumah mewah milik Marcel sesaat Orin terpesona dengan desain rumah serta perabotan yang ada di rumah tersebut. Sejenak Orin berfikir rumah Marcel adalah rumah impian yang sering dia bayangkan. Perlahan mereka pun masuk kedalam istana milik Marcel dan merebahkan tubuh jakung itu di sofa ruang tamu.
"Pak saya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa? Apa tidak sebaiknya kita panggilkan dokter saja!"
"Tidak perlu ambilkan obat saja yang ada di kotak p3k sebelah sana!" Ucapnya dengan menunjuk tempat tersebut. Orin pun berjalan ke arah dimana Marcel menunjukkan kotak tersebut. Sebelum kembali dia lebih dulu membuatkan teh hangat di dapur Marcel. Orin sempat kagum dengan dapur yang dimiliki Marcel. Dapur tersebut terlihat sangat bersih dan juga terawat.
__ADS_1