
"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan nona, Tuan?" Tanya salah satu asisten rumah tangga mereka sembari mengekor dibelakang Marcel.
"Mommy mana?" Tanya Marcel yang sudah panik itu apalagi mendengar nada khawatir dari asisten rumah tangga Orin membuatnya semakin panik.b
"Mom...!" Ucap Marcel mencari keberadaan mommy Retha, sebenarnya dia bisa saja langsung membawa Orin ke kamarnya tapi rasanya kurang pas jika seperti itu apalagi dia sudah lama tak menginjakan kakinya di rumah ini.
Mommy Retha yang sedang bersantai di dalam kamarnya pun segera berlarian keluar. Mendengar suara ribut-ribut dari lantai satu rumahnya. Apalagi dia sangat familiar dengan suara tersebut.
"Ya Tuhan ada apa ini Cel, Orin kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya mommy Orin bertubi-tubi sehingga membuat Marcel sendiri sulit untuk menjawab.
"Panjang mom ceritanya. Lebih baik kita bawa Orin ke kamar dulu. Mommy jangan lupa buat hubungin dokter Febrian!" Ucap Marcel bukannya dia tidak sopan dengan menyuruh mommy Retha untuk menghubungi dokter khusus yang selama ini menangani Orin tapi disaat seperti ini membagi pekerjaan akan membuat semuanya cepat selesai.
Marcel segera membawa Orin ke kamarnya begitu pula mommy Retha yang kembali ke lantai atas untuk mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Febrian. Semoga saja dokter Febrian sedang tidak ada pasien sehingga bisa cepat sampai disini. Gumam mommy Retha.
Sampai di depan kamar Orin, Marcel segera bi Yana untuk membuka pintu kamar Orin. Asisten rumah tangga tersebut sedari tadi tidak meninggalkan Orin, dilihat wajahnya jika dia juga begitu khawatir dengan keadaan Orin.
"Orin bangun sayang!" Ucapnya setelah merebahkan tubuh Orin di ranjang miliknya. Melihat wajah Orin yang pucat dan beberapa guratan merah dilengannya membuat hati Marcel serasa di cubit. Dia tidak bisa membayangkan betapa paniknya Orin sebelum dirinya datang.
"BI tolong bawakan air hangat ya!" Pinta Marcel pada bi Yana yang sedari tadi mengikuti mereka. Mendengar perintah Marcel, bi Yana segera melakukan apa yang dipinta oleh Marcel.
Tak lama kemudian mommy Retha pun menyusul ke kamar Orin. Air mata sudah membasahi pipinya yang masih terlihat mulus meskipun usianya yang kian bertambah.
"Orin sayang bangun nak!" Ucapnya kini mommy Retha sudah duduk di samping Orin. Air matanya sudah luruh sejak tadi. Bagaimana tidak, ibu mana yang tidak terkejut melihat putrinya pulang dengan keadaan seperti ini.
"Tenang mom! Orin pasti baik-baik saja!" Marcel menenangkan mommy Retha sebisa mungkin meskipun dirinya sendiri juga gelisah akan keselamatan Orin.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Tanya mommy Retha dengan sesegukan. Pandangannya tak lepas dari wajah pucat Orin.
"Tenangkan dirimu dulu mom, Orin gadis kuat aku yakin itu!" Jawab Marcel meyakinkan. Untuk saat ini dirinya masih bungkam mengenai apa yang terjadi dengan Orin sampai mommy Retha lebih tenang terlebih dahulu.
__ADS_1
"Maaf tuan nyonya, ini air hangatnya."
"Bawa sini bi!" Kata Marcel lalu meraih wadah berisi air hangat tersebut.
Dengan telaten Marcel membersihkan tangan dan juga wajah Orin. Dia tahu jika Orin tidak segera dibersihkan pasti dirinya akan kedinginan.
"Bagaimana dengan dokter Febrian apa bisa datang mom?"
"Iya dia sedang ada dalam perjalanan." Jawab mommy Retha yang masih menangisi nasib putrinya yang malang.
"Mom kau bisa mengganti baju Orin terlebih dahulu kalau tidak nanti dia akan kedinginan. Aku akan menunggu dokter diluar!"
Marcel pun keluar dari kamar Orin. Sebenarnya dia tidak ingin berjauhan dengan Orin tapi bagaimanapun juga dirinya tidak bisa egois. Orin butuh ganti pakaian sekarang.
"Kenapa disini dad?" Tanya Marcel terkejut melihat daddy Arga yang sedang bersandar pada tembok kamar Orin.
"Tidak masuk?" Tanyanya lagi melihat daddy Arga masih bergeming ditempatnya.
Begitulah yang dinamakan cinta. Cinta adalah sebuah emosi yang akan mengalahkan sebuah logika. Cinta mampu membuat seseorang menjadi kuat tetapi juga mampu membuat seseorang menjadi lemah. Mereka yang saling mencintai akan tertawa bersama-sama dan akan merasakan kesedihan bersama. Akan merasakan sebuah rasa yang bernama rindu jika tak saling bertemu.
Seperti Daddy Arga sekarang yang menyalahkan dirinya sendiri pada perbuatan yang memang bukan salahnya. Dia merasa bersalah pada orang-orang yang dicintainya. Bahkan dia tidak mampu melihat orang yang dicintai dan disayangi merasa terluka. Dan mungkin itulah yang dinamakan sebuah cinta sejati.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salahmu dad!" Kata Marcel menenangkan. Sebenarnya dalam hatinya sendiri Marcel merutuki kebodohannya sendiri. Kebodohannya yang membiarkan Orin pulang sendiri di waktu seperti itu. Seandainya saja dia tidak larut dalam urusannya sendiri. Ya seandainya saja. Seandainya, seandainya dan seandainya sebuah kata penyesalan namun tak mampu merubah sesuatu yang sudah terjadi.
Dan kini akibat sebuah seandainya yang sudah terjadi. Orin terbaring lemah diatas ranjangnya. Menyisakan luka hati yang begitu dalam berharap semuanya baik-baik saja.
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kita cintai berbaring lemah tak berdaya. Dan juga tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat orang yang kita cintai tertawa.
Begitu pula dengan Marcel, tidak ada yang lebih menyenangkan di hidupnya kecuali melihat senyum Orin dan tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat Orin menangis. Bagi Marcel, Orin adalah segalanya. Orin hidupnya, cintanya dan juga dunianya.
__ADS_1
"Dimana Orin om?" Tanya dokter Febrian yang baru saja sampai memecahkan keheningan yang terjadi antara Marcel dan Daddy Arga.
"Dia ada di dalam, masuklah Feb!"
Dokter Febrian pun masuk ke dalam kamar Orin.
"Sebaiknya Daddy masuk juga pasti mommy juga membutuhkan daddy. Aku akan pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaian!" Pamit Marcel hendak pergi meninggalkan kamar Orin. Sebenarnya dirinya sendiri sudah merasakan kedinginan sebab bajunya yang basah terkena air hujan.
"Jangan pulang tetaplah disini, bersihkan dirimu di kamar Noel dan gunakan pakainya juga. Bajumu basah kau bisa masuk angin nanti!" Sebenarnya Marcel ingin menolak dirinya sudah lama tidak menginjakkan kakinya di rumah ini meskipun di rumah mewah tersebut tidak ada yang berbeda semenjak kepergiannya.
"Baiklah aku akan ke kamar Noel. Tapi Daddy harus pergi menemui mommy, mommy membutuhkan daddy sekarang dan jangan pernah berfikir ini salah Daddy. Ini salah mereka yang mempunyai otak kotor."
"Tapi aku tidak mau melihat wajah sedih istriku!" Lirih Daddy Arga. Sungguh dirinya tidak mau melihat tangisan mommy Retha sebab itulah kelemahannya.
"Tidak seperti itu dad, mommy akan bersedih jika Daddy tidak segera pergi ke sana."
"Baiklah aku akan masuk dan segera bersihkan dirimu!" Marcel pun hanya mengangguk dan segera meninggalkan kamar Orin untuk membersihkan diri di kamar Noel. Marcel tahu semua tempat yang ada di rumah ini, tentu saja tahu dirinya juga pernah tinggal di rumah mewah ini. Meskipun sudah lama tetapi kenangannya masih ada dan dia ingat sampai sekarang.
***********************
Hay guys gimana nih menurut kalian ceritanya, masih menarik atau enggak?
Jadi di episode kali ini author mau nyempilin sedikit visual dari tokoh utamanya ya!!!
Orin Quenby Winata
Anggara Marcelio
__ADS_1
*Maaf kalau visualnya nggak sesuai sama imajinasi kalian✌️