
Untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu, tersirat rasa kekaguman dari masing-masing hati. Orin yang tampak memukau dengan dengan balutan dress berwarna hitam putih yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Sedangkan Marcel yang tampak berbeda dari biasanya. Jika biasanya dia memakai setelan kemeja dan celana bahan tapi untuk sekarang dia memakai celana berbahan jeans serta kaos berwarna putih yang membalut tubuh kekarnya dan juga kemeja flanel yang berwarna senada dengan gaun Orin.
Marcel pun berjalan menuju sang pujaan hati yang tengah duduk ditemani satu gelas orange jus. Perlahan tapi pasti Marcel mulai mendekati meja tersebut. Jangan ditanya seperti apa jantungnya sekarang jika boleh dikatakan Marcel sangat amatlah gugup. Keringat mulai membanjiri keningnya. Begitu pula dengan Orin dia menautkan kedua tangannya untuk mengusir rasa gugup yang bergemuruh didalam dadanya.
"Maaf sedikit terlambat, sudah menunggu lama?" Tanya Marcel sambil menarik kursi dan duduk di depan Orin.
"Be-belum pak!" Jawab Orin gugup. Bagaimana tidak aura Marcel hari ini memang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Balutan kemeja flanel yang mampu membungkus tubuhnya dengan apik. Dan apa itu? Potongan rambut yang berbeda dengan biasanya dan semakin membuat Marcel terlihat lebih keren.
"Gimana ujiannya?" Tanya Marcel basa-basi untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Lan-lancar pak!" Jawab Orin lagi entah kenapa sekarang lidahnya menjadi kelu dan membuatnya menjadi gagap. Padahal hari ini hanya menjawab pernyataan cinta Marcel bukan sedang akan melangsungkan pernikahan.
Hari ini dia harus benar-benar berterimakasih pada pihak kafe yang telah menyeting tempat sesuai dengan yang dia inginkan. Awalnya Marcel tidak mempunyai rencana untuk membuat makan malam romantis seperti ini tapi apa salahnya jika malam penuh kenangan mereka didampingi dengan makan malam romantis bukankah itu akan sangat menyenangkan, apalagi untuk para wanita.
Tak lama setelah Marcel duduk, datanglah dua orang pelayan yang membawa troly berisikan makanan serta minuman. Awalnya Orin juga terkejut sebab baru saja dia duduk tapi salah satu pelayan sudah memberinya segelas orange jus. Tapi sekarang dia mengerti pasti itu semua bagian dari rencana Marcel. Ah semakin jatuh cinta lah Orin pada pria pemilik rambut hitam legam itu.
__ADS_1
"Silahkan dinikmati!" Ucap salah satu pelayan wanita tersebut. Orin pun membulatkan matanya disini banyak sekali menu yang disiapkan. Yang benar saja Marcel ini apa ingin membuat tubuhnya gemuk seketika.
"Maaf jika pesanannya terlalu banyak, aku tidak terlalu mengerti makanan yang kau suka!" Bohongnya padahal dia sangat hafal apa yang disukai maupun tidak disukai oleh gadis cantik berbalut gaun hitam putih itu.
"Ah iya pak tak apa, terimakasih!" Jawabnya kemudian mereka pun mulai makan bersama. Mereka bisa bernafas lega sebab masih ada jeda waktu untuk mengusir rasa gugup dari diri mereka. Sesekali mereka berbicara dan tak jarang tertawa bersama. Jika ditilik kembali mereka memang lebih mirip sebagai sepasang kekasih daripada guru dan murid. Ternyata pesona Marcel memang masih melekat pada dirinya meskipun kini usianya sudah hampir mencapai kepala tiga.
"Beberapa hari ini sepertinya bapak jarang berada di sekolah, memangnya kemana pak?" Tanya Orin yang sudah tidak bisa membendung rasa ingin tahunya itu. Sebab semenjak Orin melaksanakan ujian tengah semester sekalipun dia belum pernah bertemu dengan Marcel.
"Saya ada urusan di luar jadi tidak datang ke sekolah. Apa kau begitu merindukanku hmm?" Tanya Marcel sambil mengerlingkan matanya menggoda Orin.
"Jadi kau tak merindukan guru tampanmu ini?" Tanya Marcel lagi dia masih saja menggoda Orin hingga membuat gadis itu salah tingkah apalagi sekarang wajah Orin benar-benar memerah menahan malu.
"Ti-tidak saya tidak merindukan bapak, fans-fans bapak saja yang sangat merindukan bapak!"
"Oh iya aku sampai lupa jika seluruh siswi di sekolah itu adalah fansku tapi hanya ada satu siswi yang tidak menyukaiku!" Ucap Marcel sembari memperlihatkan wajah sedih yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Siapa bilang saya tidak menyukai bapak?" Setelah mengatakan hal itu Orin baru sadar jika pertanyaannya itu menjadi sebuah ambigu. Oh tidak sebenarnya bapa yang tadi dia makan hingga tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri.
"Jadi kau menyukaiku kan hmm?"
"Ti-tidak bukan seperti itu maksud saya!" Kilah Orin masih tidak mau mengakui perasaannya. Mungkin dia terlalu gengsi untuk mengatakan perasaannya terlebih dahulu. Marcel pun tersenyum simpul gadisnya memanglah menggemaskan seperti ini jika sedang gugup dan apalagi itu bibirnya yang di monyong-monyongkan.
Marcel pun meraih tangan Orin menggenggamnya dengan erat seakan seperti jika dia melepaskan genggaman itu dia akan kehilangan Orin untuk selamanya. Sebenarnya kegiatan makan malam mereka belum sepenuhnya selesai sebab masih ada beberapa makanan di piring Orin yang belum dia sentuh.
"Orin jadi bagaimana dengan ucapanku kemarin, apa kamu mau menjalani hubungan lebih denganku?" Lama Orin masih diam tak bergeming. Lagi-lagi lidahnya kelu padahal jika dia hanya perlu menjawab 'ya' saja. Apalagi sekarang lehernya ikut-ikutan tegang dan tidak bisa digunakan sekedar hanya untuk mengangguk saja.
"Iya pak saya mau!" Jawab Orin dengan tegas sudah seperti bawahan yang sedang laporan pada atasannya.
"Terimakasih!" Ucap Marcel hampir saja laki-laki itu menitikkan air matanya tidak menyangka jika hubungannya dengan Orin akan berjalan sejauh ini.
"Terimakasih, aku tidak berjanji akan membuatmu selalu bahagia tapi aku berjanji jika akan selalu membuatmu bahagia dan tersenyum sepanjang waktu!" Kata Marcel kemudian mengecup punggung tangan Orin secara bergantian.
__ADS_1
"Saya juga terimakasih pak, bapak sudah mempercayakan hati bapak pada saya!" Jawab Orin dengan malu-malu. Rasanya bagaikan apa ribuan kupu-kupu yang sedang terbang di perutnya.