Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
67


__ADS_3

Akhirnya setelah lama menunggu, nama Retha pun dipanggil. Dia segera berdiri dan masuk ke ruangan dokter tersebut.


"Permisi!" Ucap Retha.


"Silahkan masuk nyonya." Sapa ramah dokter Sintia yang dia ketahui dari name tag di dadanya.


"Terimakasih."


"Silahkan duduk."


"Kalau boleh tahu apakah Anda datang sendiri, dimana suami anda?" Tanya dokter itu dengan sopan.


"Suami saya sedang bekerja dok, saya ingin membuat kejutan jika nanti saya benar-benar hamil." Kata Retha dengan wajah berbinar.


"Baiklah kalau begitu apa keluhan anda nyonya?"


"Akhir-akhir ini saya sering mual dan cepat lelah dok." Jawab Retha apa adanya karena memang itulah yang dia rasakan saat ini.


"Kapan terakhir kali Anda datang bulan nyonya?"


"Sekitar dua bulan lalu." Ucap Retha dengan polos.


"Kalau begitu mari saya periksa, silahkan berbaring di ranjang!" Kata sang dokter kemudian menyuruh seorang perawat yang sedari tadi berdiri mengamati mereka.


Kemudian Retha pun berbaring diatas ranjang tersebut. Perlahan sang dokter membuka dress yang Retha gunakan hingga menampilkan perut putih nan mulusnya. Setelah itu sang dokter mengoleskan sesuatu yang Retha yakini seperti sebuah jelly tapi dia tidak mengerti apa fungsinya. Dokter Sintia pun mengambil sebuah remote lalu menyalakan sebuah monitor yang ada didepan mereka.


Selanjutnya sang dokter mengarahkan sesuatu diatas perut Retha. Sebenarnya Retha merasa kurang nyaman tapi apa boleh buat jika ini merupakan prosedur pemeriksaan kandungan.


Sekarang tampak seperti ada sebuah kacang tanah dilayar monitor tersebut. Retha semakin bingung dibuatnya. Apalagi ketika dokter mengarahkan alat tersebut kesemua permukaan perut Retha.


"Selamat nyonya anda sedang mengandung kini usia kandungan nyonya sudah dua bulan. Sekali lagi selamat ya nyonya!" Ucap dokter tersebut dengan menyunggingkan senyumnya.


"A--apa sa--ya mengandung? sa--ya hamil dok?" Tanya Retha yang masih belum percaya.

__ADS_1


"Iya nyonya, lihat disini tampak seperti sebuah kacang tanah ini adalah embrio yang ada didalam rahim anda. Ini adalah calon anak anda." Jelas sang dokter.


Retha merasakan pelupuk matanya semakin memanas, tak lama kemudian air matanya lolos membasahi pipi mulusnya. Dia menangis, bukan tangisan kesedihan melainkan tangisan kebahagiaan. Tanpa sadar dia mengelus perutnya yang masih rata setelah dokter membersihkannya.


Kemudian dia bangkit dan duduk kembali dihadapan dokter tersebut. Sang dokter menjelaskan apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang tengah hamil muda seperti Retha ini.


"Jadi nyonya karena sekarang kehamilan anda masih memasuki tremister pertama anda harus menjaganya dengan hati-hati!"


"Baik dokter!"


"Dan juga hindari makanan yang sekiranya akan membuat anda mual. Mual di pagi hari untuk wanita yang sedang hamil apalagi masih memasuki tremister pertama itu wajar nyonya. Ini saya tuliskan resep obat nanti anda bisa menembusnya di apotik." Jelas Dokter Sintia kemudian menyerahkan sebuah kertas dan satu lembar foto hasil USG.


Retha masih memandangi foto hasil USG tersebut sepanjang perjalanan. Senyuman manis tak lepas dari wajahnya yang cantik.


Sesampainya di mobil sang sopir dengan sigap membuka pintu. Tampak sang sopir terlihat bingung ketika nyonya mudanya tersenyum sendiri melihat selembar kertas.


"Bagaimana nyonya muda hasilnya?" Tanya sang sopir yang sudah dilanda penasaran.


"Saya hamil pak Yud!" Jawab Retha dengan berbinar-binar.


"Ah iya aku sampai lupa dengan Arga, pak kita mampir ke supermarket terlebih dahulu ya saya akan membuat kejutan makan malam untuk Arga."


Akhirnya mobil mereka pun pergi meninggalkan pelataran parkiran mobil rumah sakit. Retha lebih suka kemana-mana sendiri dan hanya dengan sopir daripada harus ditemani oleh para bodyguard yang menurutnya aneh itu.


Ditempat lain Arga sedang menunggu kliennya di restoran sebuah hotel bintang lima. Dia menunggu sendiri karena Leo harus mengambil beberapa berkas yang tertinggal. Arga menikmati suasana damai yang ada di restoran tersebut.


Saat dia menyeduh kopi miliknya tiba-tiba saja ada seseorang dari belakang menutup matanya dengan tangan. Arga sangat terkejut tetapi dia pura-pura untuk tenang. Dia tahu betul siapa pemilik tangan itu karena dia mencium aroma parfum dari tubuh seseorang dibelakangnya.


"Jangan bertingkah macam-macam, lepas tanganmu!" Ucap Arga ketus dan dingin.


"Oh sayang ternyata kau masih mengingat wangi parfumku!" Kata Ivanka lalu duduk berseberangan dengan Arga.


"Pergi dari hidupku aku sudah muak melihat wajah dan tingkah lakumu."

__ADS_1


"Kau sebenarnya muak atau sangat merindukanku?" Tanyanya dengan nada sensual lalu menggenggam tangan Arga yang berada diatas meja. Dengan cepat Arga menarik tangannya lalu meletakkan dibawah meja.


"Pergilah sebelum aku benar-benar akan membuatmu menyesal lahir di dunia ini!"


"Sayang jangan seperti itu, kau membuatku takut!" Rengeknya.


Arga sudah benar-benar muak dengan tingkah Ivanka itu. Dia sudah berkali-kali menghela nafas kasar untuk meredakan emosinya.


"Pergilah aku tidak ingin ada gosip apapun tentang kita!" Ucap Arga masih dengan nada dingin dan enggan untuk menatap Ivanka. Jangankan untuk menatap melirik saja dia sudah jijik. Dia merutuki Leo yang sedari tadi belum kembali.


"Jika sikapmu tetap seperti ini, pasti akan memancing orang-orang untuk menatap ke arah kita sayang. Jadi bersikap baik dan tenanglah!"


"Jangan mengajariku sesuatu apapun. Aku tidak butuh diajari oleh jala*g menjijikan sepertimu!" Kata Arga acuh lalu dia memanggil pelayan hotel. Dan pelayan itupun segera datang menghampiri Arga.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya pelayan laki-laki itu dengan sopan. Pasalnya dia tahu siapa orang yang sedang berbicara dengannya itu.


"Bawa keluar wanita di depanku ini!"


"Baik Tuan." Saat tangan pelayan itu hendak menyentuh Ivanka dia dengan segera menepis tangan pelayan itu.


"Jangan sentuh aku, aku bisa keluar sendiri!" Kata Ivanka dengan nada sombong.


"Bagus kalau kau tahu diri, disana pintu keluarnya!" Ucap Arga sambil menunjukkan ke arah luar.


"Kau akan menyesal melakukan ini padaku Arga!" Ujar Ivanka penuh dengan nada peringatan.


Arga hanya menggedikkan bahunya tidak peduli. Baginya Ivanka sudah tidak berarti apa-apa untuk hidupnya. Hidupnya sekarang hanya tentang Retha, Retha adalah nyawa untuknya. Akhirnya Ivanka keluar dengan kemarahannya, pengusiran Arga sungguh sudah mencoreng harga dirinya.


Setelah perjalanan cukup panjang akhirnya Retha pun sampai di salah satu supermarket. Pak Yuda sang sopir sedang mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya namun sepertinya parkiran sudah penuh dengan terpaksa pak Yuda pun memarkirkan mobilnya diseberang supermarket tersebut. Retha pun turun dan berjalan menyeberangi jalan untuk sampai ke supermarket tersebut.


Retha begitu bahagia sebentar lagi dia akan menjadi sosok ibu. Retha dulu tidak pernah berfikir untuk menikah di usianya sekarang. Dia hanya berfikir tentang bekerja dan menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan ibu dan adiknya.


Dengan hati gembira Retha mengambil beberapa bahan makanan untuk dibuat makan malam spesial nanti. Setelah cukup lama berbelanja dan bahan yang akan dia gunakan sudah tercukupi Retha pun bergegas menuju kasir. Sesampainya di meja kasir Retha segera menyerahkan seluruh belanjaannya. Setelah semua selesai Retha segera keluar dari supermarket itu. Pak Yuda yang melihat itu segera menghampiri nyonya mudanya lalu mengambil tas berisi belanjaannya. Pak Yuda berjalan terlebih dahulu untuk menyimpan kantung belanjaan.

__ADS_1


Tetapi saat Retha hendak menyebrang jalan tiba-tiba saja ada pengendara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Retha tidak sempat menghindar dan...


BRUUGGHHH


__ADS_2