Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 38


__ADS_3

"Oh iya sayang tadi malam katanya kakak telepon kamu tapi nomor kamu tidak aktif memang ponsel kamu kemana? Udah rusak lagi?" Tanya Daddy Arga yang pandangan matanya tak beralih dari benda pipih atau yang lebih dikenal sebagai ponsel pintar itu.


"Emm nggak kok dad, tadi malam pas aku keluar eh tiba-tiba ponsel aku mati ternyata lowbat dan aku lupa nggak bawa power bank." Bohongnya padahal Orin memang dengan sengaja mematikan ponselnya. Dia sangat hafal dengan kelakuan kakaknya yang sering menelepon jika malam Minggu. Belum lagi jika nanti Jerry juga ikut menelepon dirinya bisa-bisa kencannya berantakan.


"Kan bisa pinjam punya mang Asep biar kakak kamu nggak khawatir!" Kini giliran mommynya yang berbicara. Orin pun mencebik kesal pasalnya dia sangat tahu mengapa mommynya mengatakan itu. Enak saja! Kencan pertama itu tidak boleh gagal. Itulah yang Orin pikirkan.


"Mang Asep juga lupa nggak bawa mom! Lagian kan mang Asep juga bawa ponsel sendiri kalau ada yang penting bisalah kasih tahu ke mang Asep."


Mereka pun menyelesaikan sarapan dengan diiringi canda tawa dari semua anggota keluarga. Inilah momen yang sering Orin rindukan bisa berbincang-bincang dengan keluarganya sendiri. Tetapi dia juga sadar akan kesibukan daddynya yang semata-mata ingin anak-anaknya hidup dengan layak.


"Daddy hari ini libur?" Tanya Orin pasalnya dia sangat tahu meskipun weekend sering kali daddynya tetap bekerja. Begitulah pekerjaan petinggi perusahaan semua kalender berwarna hitam tidak ada yang merah. Dan itulah yang tidak disukai Orin mereka bekerja tidak kenal waktu seperti daddynya sekarang.


"Iya tapi nanti mau ada meeting sebentar!"


"Pantesan baju Daddy kayak gitu!"


"Kayak gitu gimana?" Tanya Daddy Arga sembari mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Tuh masa iya atasannya rapi pakai kemeja, dasi lengkap sama jasnya tapi bawahnya pakai kolor sama sandal rumah!" Ucap Orin sambil bergidik ngeri melihat tampilan sang Daddy yang menurutnya tidak karuan itu.


"Hahaha sayang ini itu termasuk penghematan loh!"


"Penghematan apa sih dad?" Tanya Orin yang benar-benar tidak mengerti dengan maksud ucapan daddynya.

__ADS_1


"Jadi gini kalau Daddy nggak pakai celana bahan kayak biasanya Daddy tuh sama saja sudah menghemat pengeluaran untuk membeli sabun cuci baju sayang!"


"Emang gitu ya mom?" Kini Orin berbalik tanya pada sang mommy yang menurutnya menjadi hakim dalam debat hari ini.


"Jangan percaya dengan ucapan daddymu!" Jawab mommy Retha sembari membersihkan piring-piring kotor yang tadi mereka gunakan.


"Aku memang tidak percaya mom! Dan aku juga bingung kenapa mommy bisa mencintai Daddy yang seperti ini?"


"Heyy anak kecil, kalau mommy tidak mencintai daddymu ini mungkin kamu tidak akan ada. Lagipula bersyukurlah kau didapatkan dari hasil persemaian biji unggul!" Ungkap daddynya dimana membuat sang mommy ini tertawa karena tingkah narsis dari suaminya itu.


"Ih Daddy sekarang jadi PD banget sih!"


"Iya dong daddynya siapa dulu?" Ungkap Daddy Arga sambil menaikkan sebelah alisnya, Orin pun mencebik kesal lalu meninggalkan orang tuanya yang masih tertawa itu. Sejak tadi malam dia lupa menyalakan kembali ponselnya.


Sesampainya di kamar dia langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dia segera menyalakan ponsel tersebut berharap orang yang diharapkan benar-benar menghubunginya. Sembari menyalakan ponselnya dia berjalan ke arah balkon duduk di salah satu kursi yang sudah dipersiapkan oleh sang Daddy. Menghirup udara pagi bukankah baik untuk kesehatan jadi sekali-kali dia ingin melakukan hal itu apalagi hari ini hari libur yang benar-benar libur.


Tak lama kemudian ponselnya berbunyi, sebuah panggilan video masuk dari Marcel tampak menghiasi layar ponselnya. Orin pun segera merapikan penampilannya meskipun tidak terlihat secara langsung tapi kan juga malu jika terlihat berantakan di depan pacar sendiri. Apalagi mengingat bahwa Marcel adalah orang yang berfeksionis dalam hal apapun.


^^^"Selamat pagi?" Sapa Marcel dengan senyum merekah yang menghiasi wajahnya yang tampan. ^^^


"Pagi!" Jawab Orin sedikit gugup. Oh tidak kenapa masih sepagi ini tapi Marcel sudah terlihat begitu tampan. Jika dibiarkan berlama-lama seperti ini entah bagaimana nasib jantungnya nanti.


"Belum mandi ya?" Tebak Marcel dimana membuat Orin mengerucutkan bibirnya kesal. Memang tidak ada bedanya dirinya yang sudah mandi dan belum mandi. Batinnya kesal.

__ADS_1


"Hisshh udah dong! Nggak tahu ya udah cantik gini!"


Marcel pun tertawa dimana membuat Orin semakin kesal saja.


"Tahu kok, tuh bibirnya udah merah merekah kayak habis makan ayam mentah!" Goda Marcel pada Orin yang terlihat sangat kesal itu.


"Tau ih!"


"Hahaha jangan marah-marah dong, nanti cantiknya olah loh? Kamu udah sarapan belum?" Tanya Marcel dia tidak ingin Orin benar-benar marah padanya. Dia hanya mau menggoda saja sebab dia sangat suka melihat wajah Orin yang sedang merajuk itu.


"Sudah kok. Kamu udah makan?" Tanya Orin balik mengingat pria itu sendiri di rumah. Adapun bi Ira yang setiap hari datang tetapi akan pulang ketika matahari mulai tenggelam.


"Ini lagi mau buat sarapan." Jawabnya dan memang benar adanya. Sejak tadi Orin melihat Marcel sedang berkutat di dapur tapi dia tidak mengerti apa yang sedang pria itu lakukan.


"Emang bisa?" Ejeknya. Tentu saja dia bisa, dia kan manusia mendekati sempurna. Batin Orin.


"Bisa lah. Aku ini calon suami idaman loh! Bisa melakukan apa saja. Jangankan cuma buat sarapan, buat kamu mencintai aku saja bisa!"


Hwaaa! Rasanya Orin benar-benar terbang tinggi mendengar gombalan dari Marcel. Ternyata Marcel yang dingin itu hanya cassing-nya saja tetapi dalamnya begitu hangat.


Sementara Marcel juga tak henti-hentinya tersenyum. Memang usianya bukanlah remaja lagi tapi entah kenapa malah kini darah mudanya yang mengalir deras.


"Jangan banyak menggoda saya pak, nanti nasi gorengnya gosong loh!" Ucap Orin mengalihkan pembicaraan mereka. Rasanya dia benar-benar bisa terbang setinggi mungkin jika Marcel tetap saja menggoda dirinya.

__ADS_1


"Hahaha kamu jangan terlalu Ge-Er aku tidak sedang menggoda kamu. Lagipula yang aku katakan memang benar adanya kan, kalau aku ini pria serba bisa? Terutama pria serba bisa yang pertama kali masuk ke hati kamu?" Tanya Marcel yang kini sepenuhnya wajahnya memenuhi ponsel Orin dimana membuat Orin semakin ingin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kocak dari sisi lain Marcel.


"Benar sekali pak! Iya sudah kalau begitu lanjutkan dulu masaknya nanti kita sambung lagi!"


__ADS_2