
Selesai sarapan mereka memutuskan untuk kembali ke kamar Orin, sebenarnya ada rasa khawatir yang menyelimuti mereka sebab sejak semalam Orin belum juga membuka matanya. Tapi dokter mengatakan jika itu hanya efek obat penenang yang sudah dokter Febrian berikan kemarin untuk mengurangi serangan panik jika Orin sudah sadar.
Hari ini Daddy Arga lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumah saja. Meskipun keluarganya sedang mengalami masalah, tapi sebagai seorang CEO dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan Daddy Arga.
"Bagaimana mom apa ada sudah perkembangan mengenai Orin?" Tanya Marcel yang baru saja tiba di kamar Orin. Kemudian laki-laki tersebut duduk di sisi lain tempat tidur Orin.
"Belum ada." Jawabnya dengan lesu. Marcel pun hanya mampu menatap sedih pada dua orang tua di depannya ini. Mereka lebih segalanya daripada orang tuanya sendiri. Keluarga Daddy Arga lah yang memberikan pendidikan layak baginya hingga kuliah dan kuliah pun Marcel di luar negeri itu juga karena sebuah insiden. Bukan hanya pendidikan yang layak saja yang mereka berikan bahkan mereka memberikan kehidupan yang layak padanya dan sang nenek. Tapi sayang baru beberapa bulan menikmati kehidupan yang mewah, neneknya harus kembali pada sang pencipta. Awalnya tentu saja Marcel merasa sangat bersedih, nenek lah orang tua satu-satunya meskipun saat itu sudah ada Daddy dan mommynya. Nenek juga yang merawatnya sedari kecil belum mengerti apa-apa sampai belajar berjalan lalu bisa berlari. Namun dengan adanya Orin lah yang menguatkannya dulu saat sang nenek meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Dulu ketika Orin dan Noel masih kecil Marcel lah yang menjaga mereka berdua. Dua anak kecil itu akan menurut apa yang Marcel ucapkan terutama Noel yang memang pria kecil pendiam tidak banyak bicara.
"Bagaimana perkembangan usaha kafe mu Cel?" Tanya Daddy Arga sembari membawa laptopnya masuk ke dalam kamar Orin. Rencananya hari ini dia akan mengerjakan pekerjaannya di kamar Orin saja sebab jika mengerjakan di ruang kerjanya sendiri dia tidak bisa tenang dan juga daripada harus bolak-balik.
"Sejauh ini lumayan lah dad, rencananya aku ingin membuka sebuah cabang lagi di Bali. Tapi mengingat keadaan Orin seperti ini mungkin aku akan menundanya untuk beberapa bulan!"
"Kau tahu Cel, kenapa dulu aku mau mempertahankan dirimu di rumah ini? Karena aku tahu kau pria pintar dan juga bertanggungjawab. Jadi aku juga tidak keberatan jika kau mau menjaga Orin sampai akhir dari hidupmu." Kata daddy Arga. Tentu saja dia sangat setuju dengan hubungan mereka. Awalnya mereka hanya menganggap jika Orin lah yang suka dengan Anggara Marcelio itu dan menurut mereka lambat laun rasa suka itu juga akan hilang dengan sendirinya. Namun ternyata dugaan mereka semua salah, semakin hari Orin semakin menunjukkan rasa ketertarikannya dengan Marcel. Sedangkan Marcel dulu juga menganggap hal yang sama dan dirinya juga tahu diri dengan perbedaan strata mereka. Tapi ketika Daddy Arga mengetahui perasaannya pada Orin yang sesungguhnya dan beliau tidak keberatan akhirnya Marcel memperjuangkan hubungan mereka.
"Kenapa kalian tidak menikah saja?" Celetuk mommy Retha yang sedari tadi hanya sebagai pendengar obrolan dua orang laki-laki yang disayanginya itu.
__ADS_1
"Aku inginnya juga seperti itu mom, tapi antara aku dan Orin masih ada kesalahpahaman yang harus di selesaikan. Aku tidak ingin dianggap memanfaatkan ketidaktahuannya tentangku saat ini. Aku ingin hubunganku dengannya akan berjalan lancar ke depannya!"
"Daddy harap kedepannya hubungan kalian akan baik-baik saja. Dan juga untukmu Cek lebih baik kau katakan yang sejujurnya saja sebelum dia mengetahuinya dari orang lain, kau tahu kan bagaimana kalau Orin sudah marah!"
"Aku akan mencari waktu yang tepat dad, tapi tidak untuk saat ini. Lagipula sebentar lagi Orin juga akan ada ujian, aku tidak ingin pikirannya terganggu akan hal ini. Dan juga mereka belum memperkenalkanku pada kalian bukan?" Tanyanya dengan nada kesal dan mendapatkan sambutan gelak tawa dari kedua orang tua itu.
"Bersabarlah Cel, kau tahu sendiri hati Orin hanya untukmu. Lagipula ini pertama kalinya dirinya memiliki kekasih jadi wajar jika dia grogi. Apalagi usia kalian yang terpaut jauh itu!"
"Maksud Daddy Marcel sudah tua?" Tanyanya dengan nada pura-pura merajuk.
"Mom, Daddy sangat menyebalkan!" Adunya pada sang mommy yang hanya ditanggapi gelak tawa dari mereka. Mommy Retha merasa senang dan juga sedih secara bersamaan. Senang karena ada Marcel yang kembali berkumpul dengan keluarganya tapi juga merasa sedih karena putra pertamanya yang masih berada di luar negeri. Noel.
Saat sedang menikmati percakapan diantara mereka, tiba-tiba saja tangan Orin bergerak itu menandakan bahwa gadis itu sudah sadar dari pingsannya. Marcel yang melihat itu pun segera menggenggam tangan Orin.
"Tolong...tolong aku mereka akan membawaku pergi jauh!" Rancaunya sembari memundurkan tubuhnya hingga menabrak sandaran ranjang. Marcel yang melihat itu pun segera merengkuh tubuh Orin yang bergetar hebat itu. Sementara itu Daddy Arga segera berlari mendekati putrinya.
"Tenanglah mereka semua sudah tidak ada!" Ucap Marcel sembari menepuk pelan punggung Orin.
__ADS_1
"Mereka jahat, mereka melukaiku." Ucapnya masih dengan nada penuh ketakutan. Keningnya pun dipenuhi oleh bulir-bulir keringat sebesar biji jagung tersebut.
"Tenang sayang mereka tidak akan melukaimu lagi. Mereka sudah ada ditempat yang tepat!" Kini mommy Retha yang bersuara. Hati ibu mana yang tidak sedih melihat putrinya ketakutan seperti itu.
"Mom, mereka akan membunuhku!"
"Tidak, tidak ada yang bisa menyentuhmu lagi sayang. Ada aku disini! Sekarang tenanglah! Semuanya sudah baik-baik saja!" Kata Marcel tak henti-hentinya pria itu mencium puncak kepala Orin guna menenangkan hati gadis itu dari rasa takut.
"Kak Angga!" Batin Orin, entah kenapa tiba-tiba nama itu terlintas begitu saja di pikirannya. Apa mungkin karena dia merindukan sosok kakak dan juga pengisi hatinya itu.
Ketika Orin sudah mulai tenang, Marcel pun menguraikan pelukannya. Dilihatnya wajah gadis tersayangnya itu sangat pucat, bibirnya pun sama dan tampak bergetar menahan tangisnya. Marcel pun mengusap air mata Orin yang membasahi pipinya.
"Sekarang kau sudah tenang?" Orin hanya menganggukkan kepalanya, rasanya bibirnya masih kelu untuk menjawab. Begitu pun pikirannya yang masih terbayang-bayang kejadian sore kemarin.
"Sekarang minumlah terlebih dahulu!" Marcel menyerahkan segelas air putih pada Orin guna menenangkan gadis itu.
"Minum obatmu juga!" Ucapnya lagi kemudian menyerahkan beberapa butir obat untuk diminum oleh Orin. Obat tersebut terdiri dari obat anti depresan, obat anti serangan panik yang biasa juga diminum oleh gadis itu ketika ketakutan melandanya kembali.
__ADS_1