
Retha pun begitu terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang yang merengkuh pinggangnya. Ketika dia hendak memaki orang yang dengan lancang menyentuhnya, dia dibuat lebih terkejut lagi karena itu adalah suaminya sendiri.
"Sudah selesai belanjanya sayang?" Tanya Arga penuh penekanan di setiap katanya. Arga pun tersenyum kearah Retha tetapi Retha tahu itu bukanlah senyum yang sesungguhnya. Dibalik wajahnya yang tersenyum Retha mampu melihat amarah yang sudah ada di ubun-ubun dari sorot mata Arga.
"Ck selesai apanya? bahkan ini baru tiga puluh menit aku berada didalam tempat ini dan dia sudah datang untuk menjemput?" Geurutu Retha dalam hati.
"Belum ini baru tiga puluh menit aku ada disini, mana mungkin aku sudah selesai berbelanja." Kata Retha sambil melihat pelayanan yang tadi berbincang-bincang dengannya kini sedang menunduk.
"Mungkin saja selesai jika kau tidak asyik mengobrol dengannya." Ucap Arga sambil menunjuk pelayan laki-laki itu dengan dagunya.
Retha sekarang mengerti mengapa Arga tiba-tiba datang kesini, pasti dia cemburu. Retha pun melirik sinis pada Bima yang sedari tadi mengamati mereka, jika bukan gara-gara Bima pasti Arga tidak akan datang secepat ini.
Retha mengamati wajah pelayanan laki-laki yang sekarang lebih pucat lagi. Dia merasa bersalah, ternyata menjadi istri tuan muda tidak seenak yang dia bayangkan.
"Bukannya tadi kau bilang ada rapat? kenapa sekarang sudah ada disini?"
"Jadi kau tidak suka aku berada disini?" Tanya Arga sedikit kesal, ralat bukan sedikit kesal lagi tapi sangat kesal.
"Bukan seperti itu, sudahlah lebih baik kau ikut saja denganku berbelanja memilih oleh-oleh untuk anak-anak."
"Tidak mau, lebih baik sekarang kita pergi dari sini dan kembali ke Jakarta sekarang." Ucap Arga sambil menarik tas belanja yang dibawa Retha.
"Kau ini gila? aku belum selesai membeli oleh-olehnya." Kata Retha sambil berbisik-bisik karena jengkel pada suaminya.
"Biar Anna dan Melly yang menyelesaikan, kita langsung ke bandara saja."
"Ck, menyebalkan. Aku belum berkemas dan juga kita belum membeli tiket pesawatnya!" Ujar Retha sambil berjalan masuk kedalam mobil yang diikuti oleh dua pengawal wanita dan juga yang lainnya.
"Tidak perlu, diamlah kau itu cerewet sekali."
__ADS_1
Retha pun mendengus kesal pada suaminya. Bisa-bisanya tuan muda yang arogan ini menyuruhnya pulang sekarang juga padahal dia masih ingin menikmati suasana pulau Bali.
"Kalian belanjakan oleh-oleh untuk anak-anak, terserah kalian belikan apa. Minta kartu untuk membayar pada Bima." Jelas Arga kemudian masuk ke dalam mobil.
Anna dan Melly pun menganggukkan kepalanya sebagai pertanda jika mereka mengerti.
Setelah itu mobil yang ditumpangi Retha dan juga Arga pun meninggalkan pelataran pusat oleh-oleh tersebut. Kini mereka berada dalam satu mobil dengan Leo sebagai sopirnya.
Tiba-tiba saja Arga mencium pipi sebelah kanan Retha yang membuat sang empunya terkejut. Mungkin jika mereka hanya berdua saja Retha tidak masalah tapi disini ada seseorang lagi bukannya itu memalukan.
"Lihat didepan ada Leo, jangan seperti ini!" Ucap Retha didekat telinga Arga. Arga hanya mengangkat bahu acuh tak memperdulikan perkataan istrinya. Dia harus sering melakukan itu agar Retha terbiasa dengan sentuhan-sentuhan yang diberikannya secara tiba-tiba.
Kini Arga memeluk pinggang Retha dengan posesif dari arah samping sambil menyandarkan kepalanya dipundak sang istri. Entahlah akhir-akhir ini dia ingin bermanja-manjaan saja pada istrinya itu.
Tak beberapa lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di bandara internasional Ngurah Rai. Setelah itu mereka turun lalu diikuti oleh Leo dibelakang mereka.
Mereka berjalan menuju landasan terbang, disana sudah tampak sebuah jet pribadi dan beberapa orang awak pesawat yang menunggu mereka. Retha pun mulai panik ketika melihat jet pribadi tersebut, dia mulai merasakan pusing dan mual yang secara bersamaan. Arga yang sedari tadi menggenggam tangan Retha pun mulai menyadari jika istrinya sedang dilanda kecemasan.
Kemudian mereka memasuki bagian dalam jet pribadi tersebut. Diantara rasa panik dan juga cemas, Retha juga dibuat kagum oleh interior yang ada didalam jet pribadi tersebut. Bagaimana tidak jet pribadi tersebut tampak sangat berbeda dengan pesawat-pesawat yang biasa Retha lihat. Didalam kabin pesawat tersebut hanya ada enam buah kursi yang terlihat sangat mewah. Setelah itu Retha dan Arga duduk di kursi depan lalu disusul dengan Leo dan beberapa awak jet pribadi tersebut.
"Kenapa naik pesawat seperti ini?" Tanya Retha dengan gugup saat Arga mulai memasangkan sabuk pengaman.
"Rileks baby, karena menurutku ini akan lebih nyaman. Jangan khawatir disini juga ada tempat tidur, ruang makan dan juga ada teater multimedia. Nanti kita akan kesana jika jetnya sudah lepas landas." Jelas Arga pada istrinya itu lalu mengelus pipi Retha agar dia tenang.
"Kenapa kau tidak membiusku seperti kemarin saja, aku sangat takut Arga." Kata Retha dengan raut wajah pucat dan juga keringat yang bercucuran padahal didalam jet tersebut dilengkapi dengan AC tapi tetapi saja Retha merasakan panas.
"Karena aku tidak ingin membuatmu tergantung dengan obat bius jika ingin kemana-mana. Kau istriku, aku sering berpergian tidak mungkin kan aku meninggalkanmu sendirian di rumah begitu saja."
"Arga aku takut." Kata Retha ketika jet mulai lepas landas, matanya sudah berkaca-kaca seakan air matanya sudah ingin keluar begitu saja.
__ADS_1
"Tenang baby, pejamkan matamu dan bayangkan seperti naik mobil."
Kemudian Retha pun menuruti apa yang diucapkan Arga. Dia menutup matanya rapat-rapat sambil tangannya menggenggam eram lengan Arga.
Setelah pesawat berada di atas awan Arga menyuruh Retha untuk membuka matanya secara perlahan. "Sekarang buka matamu sayang, pelan-pelan nikmati saja!"
Perlahan Retha membuka matanya, meski tangannya masih memegang erat lengan Arga. Sekarang dia sudah tampak rileks meskipun ketakutan masih menyelimuti wajahnya. Sesekali dia masih memejamkan matanya untuk mencari kenyamanan tersendiri.
"Bagaimana sudah rileks baby?" Tanya Arga sembari mengusap sayang lengan istrinya itu.
"Sedikit, ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan." Ucapnya jujur.
"Aku bisa membuatmu lebih rileks dari ini sayang dan aku juga bisa membuang rasa takutmu itu?"
Retha tampak mengernyitkan keningnya tidak paham dengan yang dimaksud oleh Arga.
"Bagaimana caranya?" Tanya Retha kemudian.
"Ayo ikut aku." Ajak Arga lalu melepaskan sabuk pengaman yang dipakai Retha.
"Tidak tidak jangan dilepaskan nanti aku jatuh!" Ucapnya sambil menggenggam erat kursi penumpang jet tersebut.
"Tidak akan, sekarang kau pegang erat tanganku lalu berdiri aku akan menunjukan sesuatu yang indah padamu."
Kemudian Retha menuruti perkataan Arga dia segera berdiri lalu menggenggam erat lengan kokoh milik Arga. Perlahan mereka berjalan menuju belakang kabin pesawat. Disana tampak sebuah pintu dengan desain apik nan mewahnya. Kemudian Arga membuka pintu tersebut tampak sebuah ranjang berukuran king size beserta pernak-pernik yang biasa ada didalam kamar.
"Kita istirahat disini saja!" Lalu Arga mengajak Retha untuk berbaring diatas ranjang. Retha yang awalnya gugup kini sudah mulai terbiasa karena pesawat jet yang mereka tumpangi tampak seperti rumah yang diam tidak sedang bergerak sedikitpun.
Kemudian Arga ikut berbaring didepan Retha dia memeluk erat tubuh Retha lalu menenggelamkan wajah Retha pada dada bidangnya.
__ADS_1
"Baby aku ingin...!" Bisik Arga pada Retha yang juga memeluknya dengan erat.