Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 97


__ADS_3

Sebulan sudah sejak kejadian itu, Orin benar-benar menghindari Marcel. Gadis itu sekarang sedang berkuliah di Bandung. Orin mulai kembali menjalankan aktivitasnya seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Sedangkan Marcel laki-laki itu masih berusaha untuk meluluhkan hati calon istrinya meskipun Orin sudah membatalkan rencana pernikahan namun dirinya masih bersikukuh untuk membujuknya.


"Selamat pagi om tante dan Nayla?" Sapanya pada seluruh anggota rumah itu. Sekarang Orin sedang tinggal di rumah adik mommy Retha sebab mommy Retha juga pasti tidak mengizinkan jika dirinya menyewa rumah atau apartemen di sekitar kampusnya.


"Pagi Rin, bagaimana sudah siap melanjutkan hari-harinya?" Tanya Tante Metha adik dari mommy Retha. Tante Metha sudah memiliki rumah sendiri di Bandung, rumah yang sekarang ditinggali dirinya dan suami serta anak perempuannya yang bernama Nayla.


Orin menganggukkan kepalanya, dia sudah bersiap untuk melupakan masa lalunya terutama semua tentang Marcel dan Angga. Terkadang jika mengingat akan hal itu, dia merasa sebagai perempuan terbodoh yang ada di dunia. Bagaimana tidak bodoh, selama ini ternyata dia mencintai satu orang yang sama namun berkepribadian berbeda.


Sebenarnya ini sulit untuk Orin sendiri, mereka sudah cukup lama berkenalan. Tentang kenangan indah jangan ditanya lagi, mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk pergi ke tempat-tempat favorit mereka. Apalagi jika mengingat semua kelakuan manis yang pernah Marcel berikan padanya tapi ternyata rasa sakit hatinya mengalahkan itu semua. Egonya lebih besar dari sebuah perasaan yang di sebut cinta.


"Tadi malem Marcel datang kemari!" Kata Tante Metha. Ya sejak kepindahan Orin ke Bandung setiap harinya itu pula Marcel datang ke Bandung untuk meminta maaf pada Orin. Namun sampai sekarang gadis itu masih enggan hanya untuk sekedar menemuinya.


Orin hanya diam tidak menjawab sepatah katapun. Memangnya mau bagaimana lagi, Orin pernah mengusir Marcel tapi laki-laki itu tetap berdiri kokoh di depan pagar rumah. Sebenarnya Orin juga merasa kasihan, setiap pulang bekerja Marcel segera memacu mobilnya ke Bandung untuk meminta maaf padanya. Jarak Jakarta-Bandung memang tidak begitu jauh, tapi bagaimana pun juga pasti ada rasa lelah yang menghinggapi tubuh Marcel. Setelah seharian bekerja dirinya harus menunggu seorang gadis semalaman hanya untuk mendapatkan satu kata maaf.


"Biarin aja tan, usir aja kalo perlu!" Jawabnya pada akhirnya.


"Nanti kalau udah capek ya pasti nggak bakal dateng kesini lagi, sekarang aja masih kesini tapi bentar lagi juga dia lupa!"

__ADS_1


Ya. Orin selalu beranggapan jika apa yang dilakukan oleh Marcel adalah suatu tindakan terpaksa dan tidak tulus. Dan Orin tidak menyukai itu. Orin berpikir jika selama ini Marcel mendekatinya dan bahkan mengajaknya menikah hanya karena merasa bersalah bukan karena Marcel mencintai dirinya.


"Orin kamu bener-bener nggak mau maafin Marcel? Setidaknya kamu dengerin penjelasannya. Kasihan setiap hari Marcel harus bolak-balik Jakarta-Bandung nanti kalau lama-kelamaan dia bisa sakit!"


"Orin berangkat dulu Tan, udah siang nanti Orin telat!" Pamitnya kemudian mencium tangan Om dan tantenya. Tante Metha hanya bisa menghela nafasnya, merasa kasihan dengan Marcel tapi dia sendiri tidak bisa membujuk Orin anak itu terlalu keras kepala.


Keluar dari pagar Orin segera masuk ke dalam taksi online yang sudah dia pesan. Sebenarnya Orin bisa saja naik mobilnya sendiri tetapi karena jarak kampus dan rumah tantenya tidak terlalu jauh jadi dia memilih menggunakan taksi online saja lagi pula dia baru di kota itu, belum sepenuhnya tahu jalan-jalan yang ada.


Sementara itu di tempat lain Marcel benar-benar merasa frustasi, tidak ada yang bisa menggoyahkan hati Orin. Beberapa waktu lalu Marcel terpaksa menunda pernikahan mereka untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Mau bagaimana lagi, memaksa Orin juga tidak mungkin!


Marcel menyugar rambutnya, jangan ditanya bagaimana rasa tubuhnya sudah remuk seperti tak bertulang. Dia berdiri kemudian berjalan melihat suasana ramai jalanan ibukota dari jendela lantai dua di kantornya. Ramainya jalanan tak mampu menghibur hatinya yang sepi.


Setelah menempuh perjalanan dua jam, akhirnya Marcel pun tiba di kota kembang itu. Karena masih siang dan kemungkinan Orin juga masih berada di kampusnya, Marcel pun memutuskan untuk menjemput Orin di kampusnya saja.


Tiga puluh menit Marcel menunggu tapi tak kunjung melihat batang hidung Orin. Tadi dia sudah menghubungi Tante Metha menanyakan keberadaan Orin dan Tante Metha mengatakan jika Orin masih belum pulang.


Marcel memejamkan matanya sebentar, kini dia sedang menunggu Orin di dalam mobil depan kampusnya. Sejenak dia mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah. Tak lama kemudian dia kembali membuka matanya, tak ingin terlewatkan keberadaan Orin dan saat dia membuka matanya pemandangan di depannya sungguh membuat dadanya terasa panas. Orin sedang berdiri dengan seorang pria yang usianya mungkin dua tahun lebih muda dari Orin.

__ADS_1


Sementara itu Orin sedang menunggu taksi online pesanannya. Dan ketika dia menunggu di depan kampus tiba-tiba saja mobil berwarna merah menepi kearahnya. Dia tampak mengernyitkan keningnya, merk mobil tersebut tidak sama dengan merk mobil taksi onlinenya yang berarti itu bukan taksi yang dia pesan. Tapi kenapa mobil itu menepi?


Tak lama setelah itu, keluarlah seorang laki-laki dari dalam mobil tersebut. Laki-laki tampan yang memiliki kulit sedikit kecoklatan yang mana membuat wajahnya terlihat lebih manis. Orin ingat, laki-laki itu adalah salah satu senior di kampusnya. Mereka sama-sama dari jurusan seni hanya saja laki-laki itu dua tingkat diatasnya.


"Kak Bara?" Tanya Orin memastikan nama laki-laki tersebut.


"Ya, Orin kan? Ternyata kamu masih ingat denganku!" Ucapnya dengan percaya diri. Sementara itu Orin hanya tersenyum kaku menanggapinya. Laki-laki di depannya itu terlalu percaya diri, mengingat Ospek kemarin tentu saja semua mahasiswa-mahasiswi tahu laki-laki yang di klaim sebagai pria paling tampan sekampus itu.


"Mau pulang?"


"Iya!"


"Mau pulang bersama?"


"Ti-!" Belum sempat Orin melanjutkan ucapannya tiba-tiba seorang pria datang dan langsung menggenggam tangannya.


"Maaf, Orin akan pulang dengan suaminya!" Ucap pria itu dengan nada sambil tetap menatap pada pria yang sialnya juga tampan dan masih muda itu.

__ADS_1


Orin membelalakkan matanya mendengar ucapan Marcel, bagaimana tidak mereka saja gagal menikah dan sekarang dia sangat membenci pria itu dan sekarang pria itu mengaku sebagai suaminya. Dasar tidak tahu malu!


Sementara Bara mengernyitkan keningnya, benarkah gadis didepannya itu sudah menikah tapi jika dilihat-lihat lagi gadis itu tidak memakai cincin pernikahan. Tapi kenapa Orin tidak memberi respon apapun ketika laki-laki itu mengatakan suaminya jika mereka memang belum menikah?


__ADS_2