
Setelah sampai disamping pengendara tersebut Orin benar-benar dibuat terkejut. Kenapa dalam situasi seperti ini dia malah dipertemukan dengan orang ini?
"Pak cabe? Eh pak Marcel?"
"Kamu Orin ratunya terlambat kan?"
Dalam hati Orin benar-benar merutuki nasibnya hari ini. Keluar dari kandang singa dan sekarang malah masuk ke dalam kandang macan.
"Ngapain kamu malam-malam disini? bukannya belajar ini malah keluyuran."
"Sekali-kali saya juga butuh hiburan pak!" Jawab Orin dengan malas, haruskah dia berdebat dengan gurunya itu disaat seperti ini.
"Cih berhitung saja kamu tidak bisa kok mau cari hiburan!" Ucap Marcel dimana semakin membuat hati Orin benar-benar kesal. Tapi dia harus menahan emosinya untuk saat ini jalan satu-satunya agar dia bisa cepat sampai rumah adalah orang di depannya ini.
"Terserah pak Marcel saja saya tidak mau berdebat." Kemudian dia diam sebentar untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Pak saya sangat membutuhkan bantuan bapak? Jadi pak Marcel tolong bantu saya ya?" Pinta Orin dengan wajah memelas dia hanya bisa berharap jika guru bermulut pedas didepannya ini masih punya hati nurani untuk menolongnya. Sesungguhnya Orin sendiri juga sudah merasa lelah karena berjalan tadi apalagi ini sudah malam dan angin malam sejak tadi tak henti-hentinya untuk membelai kulit putihnya.
"Kalau saya tidak mau bagaimana?" Tanya Marcel balik. Dalam hatinya siapa yang menolak ketika dimintai tolong gadis secantik Orin tapi akal sehatnya menolak itu. Dia masih berprinsip jika mereka sangatlah berbeda.
"Lihat saja besok di semua media sosial atau apapun akan ada berita SEORANG GURU MENOLAK MEMBANTU MURIDNYA DAN SEKARANG SANG MURID MENINGGAL KARENA KECAPEKAN. Bapak mau seperti itu?"
"Jadi kamu butuh bantuan apa?" Tanya Marcel mengalah toh ini sudah diluar jam sekolah jadi setidaknya tidak akan ada gosip yang beredar.
"Pinjami saya uang pak, tadi tas saya ketinggalan di restoran."
"Apa jaminannya?" Tanyanya lagi dimana membuat Orin semakin tidak mengerti. Disaat seperti ini orang itu masih meminta jaminan padanya.
"Tunggu! Saya akan antar kamu pulang saja!" Ucap Marcel dengan suara beratnya. Orin pun tersenyum mendengar jawaban Marcel meskipun mulutnya pedas tapi ternyata dia masih memiliki sisi ke kebaikan yang luar biasa.
"Jangan Ge-Er dulu kamu, saya mau bantu kamu karena tidak ingin kamu besok bolos dengan alasan sakit."
__ADS_1
"Siapa juga yang Ge-Er!" Kesal Orin sambil mengambil helm yang diberikan oleh Marcel. Dengan susah payah akhirnya Orin pun bisa duduk di jok belakang motor Marcel. Bagaimana tidak dengan susah payah saat ini Orin sedang menggunakan dress yang pas ditubuhnya apalagi lalu naik motor sport milik Marcel.
Setelah itu Marcel pun melajukan motor sport miliknya. Motor yang dia beli hasil dari jerih payahnya sendiri. Jika mengingat akan nasibnya dia hanya bisa tersenyum kecut. Orang tuanya kala itu membuangnya karena mungkin kehadirannya tidak diinginkan jadilah dia tumbuh di panti asuhan yang sekarang dia tinggali.
Baru beberapa meter dia melajukan motornya tiba-tiba saja dia berhenti. Orin pun sedikit terkejut dia hanya bisa berharap jika gurunya itu tidak berubah pikiran lalu meninggalkannya di tepi jalan.
"Pakai ini! Saya tidak mau kamu kedinginan dan merepotkan saya nantinya!" Ucap Marcel sambil menyerahkan jaket yang sedari tadi dia pakai.
Orin pun menahan tawanya melihat kelakuan Marcel. Dia sebetulnya baik tapi sangat kaku untuk ukuran pria dewasa sepertinya. Dengan sigap Orin pun mengambil jaket tersebut sebelum Marcel kembali mengambilnya karena dia terlalu lama berfikir.
"Terimakasih!"
"Ya saya tahu saya adalah orang yang baik dan mengagumkan tapi saya harap kamu tidak jatuh cinta dengan saya. Itu semua akan sangat merepotkan!" Kata Marcel dimana membuat Orin melongo seketika. Ini pertama kalinya Marcel mengucapkan banyak kata sekaligus dalam percakapannya. Biasanya pria dingin nan kaku itu hanya mengucapkan beberapa kata dan tentu saja kata-kata itu sepedas cabai.
Tapi yang lebih membuat Orin terkejut adalah Marcel menyuruhnya untuk tidak jatuh cinta padanya. Yang benar saja, membayangkannya saja membuat Orin sudah bergidik ngeri.
__ADS_1
"Jangan kepedean pak, saya juga tidak akan jatuh cinta sama bapak. Saya tidak menyukai pria dewasa." Jawab Orin dengan kesal memangnya sudah setampan apa dirinya hingga membuat Orin akan jatuh cinta.
Marcel tidak menjawab, dia hanya terus melajukan motornya membelah jalanan ibukota yang tidak ada sepinya meskipun sinar matahari sudah digantikan oleh cahaya sang rembulan serta lampu-lampu sepanjang perjalanan mereka.