Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 20


__ADS_3

"Sudah sejak saya kembali dari luar negeri dan mendapati orang yang saya cintai tidak mengenali saya dan malah membenci saya!"


Ada sedikit perasaan tak enak bagi Orin ketika Marcel mengatakan mencintai seseorang. Entah karena apa rasanya dirinya seperti tak rela jika Marcel mencintai seseorang.


"Bapak sudah pernah bertemu dengannya?" Tanya Orin entah kenapa dia sekarang lebih ingin tahu tentang Marcel.


"Sudah tapi dia sama sekali tidak mengenali saya. Dan sepertinya dia juga membentengi dirinya sendiri untuk melihat kenyataan yang ada!"


"Maksud bapak?" Tanya Orin lagi dia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan Marcel. Entah dirinya yang terlalu bodoh untuk mencerna ucapan seseorang atau karena tata bahasa Marcel yang terlalu kaku.


"Sudah lupakan!"


Akhirnya mereka pun hanya diam tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Mereka menikmati angin malam yang menerpa kulit. Tempat yang Marcel pilih memang lah bagus menurut Orin karena pada dasarnya dia lebih menyukai ketinggian. Di tempat ini mereka tidaklah sendirian, ada banyak pasangan kekasih yang sedang bertukar cerita atau hanya bersenda gurau.


"Orin apa kamu mau berteman dengan saya?" Orin pun menoleh kepada Marcel sembari menautkan kedua alisnya tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh gurunya itu.


"Emm begini maksud saya!" Ucap Marcel gugup sendiri ketika dua bola mata indah itu memandangnya untuk menunggu sebuah penjelasan.


"Di luar sekolah bisakah kita berteman dan jangan anggap saya sebagi guru. Anggaplah saya sebagai teman kamu!"


Orin lama terdiam mencerna ucapan Marcel dimana membuat jantung Marcel berlarian seperti sedang melakukan lari maraton. Marcel benar-benar merutuki dirinya sendiri yang terlalu ceroboh dalam berucap. Dia tidak tahu apakah dirinya terlalu cepat agar bisa lebih dekat dengan Orin atau memang Orin tidak berniat untuk merespon dirinya.


Akhirnya Orin pun hanya mampu menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih!" Ucap Marcel, sungguh tidak ada malam yang lebih indah baginya dibanding malam ini dari sepuluh tahun belakangan.

__ADS_1


"Jika kita sudah berteman berarti bapak nggak boleh galak-galak sama saya lagi dong?" Tanya Orin, dia merasa harus segera mencairkan suasana sebelum mereka benar-benar canggung dan hanya diam saja karena Orin sendiri adalah tipe orang yang sedikit cerewet.


"Apa saya pernah galak sama kamu?" Tanya Marcel balik sebenarnya dia sendiri tahu jika selama ini dia memang selalu bermulut pedas pada gadis yang sudah bersemayam di hatinya sejak lama itu. Dia melalukan itu semua karena merasa harus memberikan hukuman pada gadis yang sudah menjungkirbalikan dunianya itu.


"Bapak bukan lagi galak sama saya tapi lebih dari galak!" Kesal Orin pada gurunya itu. Yang benar saja dia tidak galak lalu memberikan hukuman itu apa tidak termasuk galak. Batin Orin.


Marcel pun hanya tertawa menanggapi ucapan Orin, dia benar-benar senang melihat wajah kesal dari muridnya itu.


"Oh ya saya akan memberikan kamu materi dasar tentang matematika. Kamu bisa mempelajarinya sebelum pertemuan kita selanjutnya!"


"Ha? Jadi setelah kita berteman akan tetap ada les ya pak?" Tanya Orin, pikirnya jika mereka telah berteman Marcel akan melupakan tentang tambahan belajar untuknya.


"Menurut kamu? Kalau kamu serius dan cepat bisa mungkin tambahan jam belajar kita tidak akan terlalu lama."


"Sudah malam lebih baik saya antarkan kamu pulang sekarang saja!"


Orin pun hanya mengangguk sebagai jawaban, hatinya masih kesal dengan guru tampan tapi menjengkelkan itu. Marcel pun berjalan lebih dulu dibandingkan Orin. Tak lama kemudian mereka pun sampai di samping mobil Marcel dengan sigap Marcel pun segera membukakan pintu untuk Orin.


"Terimakasih!" Ucapnya sembari menahan senyumnya. Ah jika seperti ini terus bisa-bisa dia akan jatuh cinta pada Marcel!


Marcel pun mengantar Orin sampai depan rumahnya dan langsung kembali ketika Orin mengajaknya untuk mampir.


Orin pun langsung masuk kedalam rumahnya, dilihat rumahnya sudah sangat sepi mungkin Daddy dan mommynya juga sudah tidur.


"Baru pulang non?" Tanya Pak Arif salah satu penjaga rumahnya ketika mereka bersampingan.

__ADS_1


"Eh iya pak, mommy sudah tidur ya?"


"Sepertinya sudah non. Nona Orin kok saya lihatin dari masuk rumah tadi senyum-senyum terus memang ada apa ya?"


"Ah masak sih pak, pak Arif salah lihat kali!" Sangkal Orin kemudian dia segera lari menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Huft huft huft!" Suara deru nafasnya ketika sudah sampai dikamar.


"Ah kenapa sih gue nih!" Monolognya sambil berguling-guling diatas ranjang berukuran king size itu.


"Nggak nggak nggak ini nggak boleh terjadi, ini gila!" Ucapnya kemudian bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta gosok gigi seperti yang mommy ajarkan dulu ketika dia kecil.


Setelah selesai dari kamar mandi dia segera mengganti gaunnya dengan baju tidur berwarna biru muda. Warna andalannya. Selesai mengganti baju, Orin pun berjalan membuka almari kecil yang ada di pojok kamarnya. Tangannya mulai menyentuh handle almari tersebut sebelum itu dia menarik nafasnya panjang-panjang.


Orin pun mengambil beberapa barang yang ada di dalam almari tersebut. Dia mengambil sebuah pigura kecil. Kemudian berjalan dan duduk di pinggir ranjangnya.


"Selamat malam kak Angga? Bagaimana kabarmu? Aku harap kau disana masih mengingatku!" Ucapnya tak terasa dia pun meneteskan air matanya.


"Maaf sudah sangat lama aku tak mengingatmu. Ah sepertinya buka tak mengingatmu tapi aku sendiri yang berusaha melupakanmu."


"Pulang lah kak jika kau memang mencintaiku, aku tidak yakin jika mampu menjaga hatiku terlalu lama dan aku juga tidak yakin tidak akan membencimu jika suatu saat kita bertemu. Pertemuan terakhir kita meninggalkan luka yang amat dalam. Ah bukan pertemuan terakhir bahkan kita tidak mempunyai pertemuan terakhir." Katanya sambil mengusap air matanya yang tak henti-hentinya menetes.


"Bahkan sekarang rasanya aku juga sudah mulai jatuh cinta pada seseorang. Namanya hampir sama denganmu kak tapi kalian sangat berbeda jauh."


Mungkin karena lelah akhirnya Orin pun tertidur dengan memeluk figura kecil yang sudah sejak lama dia simpan dan belum pernah dia lihat kembali sejak kejadian itu.

__ADS_1


__ADS_2