
"Hay?" Sapanya ketika sudah berada tepat di depan Orin. Ada perasaan senang juga kesal secara bersamaan. Senang karena saat ini Marcel berada dekat dengannya. Namun juga kesal karena menurutnya Marcel terlalu tampan dan lihatlah para gadis-gadis itu menatap Marcel dengan wajah penuh kekagumannya. Arrgghh. Rasanya Orin ingin memasukkan Marcel ke dalam karung saja untuk dilihatnya sendiri. Biarkan dia egois, Marcel adalah miliknya. Tidak ada orang lain yang boleh melihat apalagi berharap memilikinya. Dalam mimpi kalian saja para gadis menyebalkan tidak tahu malu. Pikir Orin.
"Hay juga!" Jawab Orin dengan gugup.
"Kamu cantik!" Ucap Marcel dimana membuat Orin membulatkan matanya. Ya Tuhan bagaimana bisa ada orang sejujur Marcel. Mengatakan seperti itu tanpa embel-embel apa-apa. Bahkan mereka baru beberapa menit bertemu.
"Terimakasih!" Jawab Orin lagi kini wajahnya sudah bersemu merah. Rasanya selepas ini dia akan komplain ke pihak hotel, kenapa saat sedang ada acara sepenting ini AC-nya mati dan membuat Orin merasakan panas seluruh tubuhnya.
Baru saja mereka akan melanjutkan perbincangannya, tetapi seseorang seolah mengganggu kegiatan mereka. Bukan kegiatan apa-apa hanya bercakap-cakap saja dan itupun masih disekitar ballroom tempat acara dilangsungkan.
"Selamat malam pak Marcel? Apa kabar? Aku tidak menyangka akan bertemu bapak disini!" Ucap Alex lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Marcel. Entah kenapa atau hanya perasaannya saja, dia merasa jika Marcel adalah ancaman untuknya. Untuknya mendapatkan hati Orin. Tanpa adanya Marcel saja dia kesulitan untuk memenangkan hati Orin apalagi jika harus bersaing dengan Marcel, Alex tidak dapat membayangkan itu.
"Selamat malam Alex. Kabarku baik dan saya juga tidak menyangka akan bertemu dengan murid-muridku disini!" Katanya, matanya menatap lurus ke mata Alex. Orin yang melihat itupun dibuat bingung seketika. Apa sebelumnya mereka pernah bermusuhan atau bagaimana dia tidak mengerti. Tapi yang dia mengerti sekarang, saat ini mereka seperti memancarkan permusuhan.
"Tidak perlu terlalu formal pak, kita tidak sedang berada di lingkungan sekolah." Marcel pun hanya mengangguk menyetujui ucapan salah satu muridnya itu.
Alex pun mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Dia benar-benar akan kalah telak jika seperti ini terus. Sekarang apa yang kurang dari Marcel? Dia tampan, pintar dan kaya. Ya meskipun Alex sendiri tidak tahu seberapa kayanya Marcel tapi sudah bisa ditebak jika dia adalah orang penting, lihat sekarang dia berada disini untuk memenuhi undangan tentu saja itu berarti salah satu keluarga Orin ada yang mengenalnya.
__ADS_1
"Pak Marcel ternyata sangat hebat ya! Bukan hanya menjadi guru saja tapi beliau juga seorang pengusaha. Wah wah pasti beruntung wanita yang akan menjadi istri anda kelak!" Ucap Alex seolah-olah memuji kehebatan Marcel padahal dalam hati rasanya dia ingin memukul orang didepannya ini yang sekarang sedang memandang Orin dengan tatapan memuja.
"Tentu saja. Istriku kelak hanya perlu membuat sebuah permintaan dan aku sebagai suami akan mengabulkan semua permintaannya." Jawab Marcel kemudian melirik ke arah Orin. Dilihatnya wajah Orin itu dimana membuat Orin benar-benar malu dilihat secara intens seperti itu.
"Ya Tuhan boleh bungkus buat bawa pulang nggak sih nih pak guru!" Batin Orin.
"Emm kalian lanjutkan saja, aku akan pergi sebentar menemui keluargaku!" Pamit Orin pada keduanya. Entah kenapa berada dekat dengan dua orang ini membuatnya menjadi was-was apalagi tatapan tajam dari keduanya.
Orin pun berjalan meninggalkan mereka, tapi saat berada disamping Marcel, dia menyelipkan sesuatu ditangan Orin. Tentu saja Marcel melakukan itu, mereka mempunyai kesepakatan jika tidak akan memberitahukan perihal hubungan mereka sebelum Orin menyelesaikan ujiannya. Dan Marcel pun menghormati keputusan itu, apapun keputusan Orin tentu dia akan menurutinya. Sebab mulai saat mereka menyatakan perasaannya masing-masing, hidup Marcel seakan sudah terkunci sepenuhnya untuk Orin.
Setelah berada agak jauh dari mereka, Orin pun membuka telapak tangannya. Dia tersenyum simpul melihat permen coklat yang diberikan oleh Marcel. Ya meskipun hanya sebuah permen coklat tapi Orin begitu bahagia. Lebih bahagia ketika mendapat hadiah mobil ketika ulang tahun.
I Love You
Orin semakin tak bisa mengendalikan hatinya, jika saja tidak sedang berada di tempat ramai seperti ini mungkin dia sudah berguling-guling di ranjang kamarnya. Ya dibelakang permen coklat tersebut terdapat tulisan dengan tiga kata itu. Tiga kata yang mampu menjungkirbalikkan hidupnya.
"Kenapa disini?" Tanya Noel tiba-tiba mengagetkan Orin. Orin pun segera menyembunyikan permen coklat dari sang kekasih. Rasanya dirinya masih malu menceritakan perihal hubungannya itu. Tentu saja malu ini pertama kali dia memiliki kekasih jadi mau dari mana dia mengawali pembicaraan itu pun masih bingung.
__ADS_1
"Ah itu anu kak lagi capek aja pakai sepatu hak tinggi kayak gini!" Bohongnya. Sebetulnya tidak sepenuhnya dia berbohong tentang sepatu berhak tinggi itu tapi karena alasan sebenarnya bukanlah itu.
"Mau kakak ambilin duduk?" Tanya Noel khawatir. Tentu saja dia khawatir akan kesehatan adik satu-satunya itu.
"Nggak perlu kak aku masih kuat kok. Oh iya yang diundang disini semua rekan bisnis Daddy ya?"
"Kayaknya sih gitu kakak juga nggak terlalu mengerti." Jawab Noel apa adanya karena memang dirinya belum tahu siapa saja rekan bisnis Daddynya. Hanya beberapa kali saja Noel ikut menemani daddynya meeting jadi dia belum hafal semuanya.
"Yang bule itu juga?" Tanya Orin lagi ketika melihat sepasang suami istri yang memilik wajah bule itu.
"Iyalah."
"Terus kalau guru aku juga rekan bisnis Daddy ya?" Tanya Orin penasaran. Bukannya dia merendahkan Marcel tapi dia masih tidak habis fikir ternyata dunia sesempit itu.
"Yang mana?"
"Mana ya tadi aku lihat disana kok!" Orin pun mencari keberadaan Marcel yang tadi menjulang tinggi disana tapi ternyata pria itu sudah menghilang entah kemana.
__ADS_1