
“tok tok tok” ningrum mengetuk pintu kantor
“masuk rum” pinta kak raksa yang melihat kedatangan ningrum
“nih kak” ningrum menyerahkan tugasnya pada kak raksa
Kak raksa tersenyum melihat kedatangan ningrum “terimakasih ya” ucap kak raksa
“sama-sama kak” balas ningrum meninggalkan kantor
***
“trinnnnnnnnnnng” bunyi bel pertanda pulang sekolah berbunyi
“rum, kamu dijemput ya?” tanya Miranda saat membereskan mejanya
“emmm mungkin” ningrum merapikan mejanya dan menyimpan buku-buku miliknya dalam tas
Miranda menghela nafas “enak ya jadi kamu, selalu di jemput cowok-cowok tampan” ucap Miranda
Ningrum tampak berpikir “emmm masa?” tanya ningrum
“ya sudah aku duluan ya, paling jemputanku sudah datang” ucap Miranda bergegas menuju halaman sekolah
Ningrum menyandarkan tubuhnya dekat pagar sekolah. Sekolah mulai terlihat sepi, Lama ningrum menunggu, masih belum ada jemputan yang datang untuk menjemput dirinya
“kamu belum di jemput?” tanya kak raksa mengejutkan ningrum
Ningrum
menengok sekitar “emmm kayanya belum deh kak” balas ningrum tak kunjung melihat jemputannya
“mau kakak antar?” tanya kak raksa
“apa gak merepotkan?” tanya ningrum semangat
kak rak tersenyum “tidak, kan kita searah” balas kak raksa
Ningrum menatap heran mendengar jawaban kak raksa “dari mana kakak tahu kita searah?” tanya ningrum yang ingat betul kalau tak ada teman sekolah ataupun guru yang ia beri tahu lokasi rumahnya. hanya kepala sekolahnya saja yang tahu karena kepala sekolah ningrum mengenal ayah virza
Kak raksa gugup dengan pertanyaan ningrum “emmm aku pernah liat kamu di jalanan dekat komplek perumahan adhitama group” balas kak raksa sedikit terbata
Ningrum mengangkat sebelah alisnya menaruh curiga “masak sih kak” tanya ningrum
“iya rum” balas kak raksa memberikan helm mempersilahkan ningrum menaiki motornya
20 menit berkendara ningrum sampai di rumahnya “ini rumah kamu ya rum” tanya kak raksa kagum melihat rumah ningrum yang begitu besar dan terlihat asri karena banyak tumbuhan besar dan bunga di sana
Ningrum menyerahkan helm pada kak raksa “bukan” balas ningrum datar
Kak raksa mendelik tak percaya “lah terus ini rumah siapa? kenapa malah minta
kesini bukan ke rumahmu?” tanya kak raksa
“ini rumah ayah kak, bukan rumah ningrum. Ningrum belum punya rumah” balas ningrum datar
“ooooh, ya sudah kakak pulang ya” ucap kak raksa bergegas menyalakan mesin motornya
Mama kaila menghampiri putrinya itu “kamu lihat apa sih rum?” tanya mama kaila melihat arah pandangan ningrum anaknya
“itu mah” tunjuk ningrum pada motor kak raksa yang sudah keluar gerbang rumahnya
Mama kaila menunjuk kak raksa dengan mulutnya “dia siapa?” tanya mama kaila
“kak raksa” jawab ningrum datar
“kamu sudah pacaran sama dia ?” tanya mama kaila semangat
Ningrum menatap tajam mamanya “apaan sih mah, ningrum memang pernah bilang suka lihat wajah kak raksa tapi ningrum masih kelas 2 SMA gak ada niat perang sama ke 7 kakak ningrum yang ngeselin itu” balas ningrum kesal
__ADS_1
Mama kaila terkekeh “ya kirain rum, soalnya tumben kamu dianter orang lain selain kakakmu” tanya mama kaila
“ningrum gak tahu kenapa mereka kompakan gak jemput ningrum” ningrum menggandeng tangan mama kaila masuk dalam rmah “ Tapi mah, bisa gak selidiki kak raksa untuk ningrum” tanya ningrum
Mama kaila menatap heran putrinya “buat apa? kamu mau jadikan dia calon mantu mama apa?" tanya mama kaila
ningrum berkacak pinggang menatap mamanya "apaan sih mah? perasaan ningrum cuma gak enak saja sama kejadian hari ini" balas ningrum
"Penyakit curigaan kamu kumat ya” tanya mama kaila
“iiiiih jaga-jaga saja ma, perasaan ningrum rada aneh” balas ningrum
Mama kaila tampak memikirkan permintaan anaknya itu “iya deh nanti mama selidiki dia” balas mama kaila
Mama kaila tengah menonton drama china terbaru di televisi besar ruang keluarga
“mah ningrum sudah sampai rumah belum?” tanya kak aditya menghampiri mamanya dengan nafas memburu karena berlari
“sudah, kenapa?” tanya mama kaila tanpa berpaling dan tetap focus menonton
Kak aditya menghela nafas “huh sukurlah” kak aditya duduk di samping mama kaila “tadi mobil kita
mau nabrak mah, untung saja, mobil yang mau kita tabrak mau damai” ucap kak
aditya mengambil camilan mamanya
Mama kaila berpaling dan menatap tajam anak keduanya itu “kalian gak hati-hati saat nyetir ya?” seledik mama kaila
“iih gak mah, mobil itu saja yang mepet kita terus jadi saat ada lampu merah, kita ngerem kena mobil mereka” ucap kak aditya
“mereka?” tanya mama kaila
“iya mah, 2 mobil dengan jumlah 8 orang, badannya sangar-sangar lagi” cerita kak aditya membayangkan kejadian tadi dan mengangkat bahunya sambil menggeleng
karena ngeri
Mama
“ya sudah, nanti aditya bilang mereka suruh bawa mobil masing-masing” balas kak aditya bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas
***
Mama kaila mulai menyelediki kak raksa sesuai permintaan ningrum
Mama kaila membaca dengan serius laporan anak buahnya “kamu lagi apa sih kai?” tanya
virza melihat kaila yang serius melihat laptopnya di dalam kamar mereka
“itu mas, kai lagi nyelidiki raksa” balas kaila
Ayah virza tampak berfikir “raksa yang lagi penelitian di sekolah ningrum?” tanya virza
“iya mas” balas mama kaila
“ngapain kamu nyeledikin dia? Apa ningrum beneran pacaran sama dia?” tanya ayah virza
Mama kaila menggeleng “ gak sih mas, Cuma nurutin permintaan anak kamu yang satu itu” balas mama
kaila
Ayah virza memutar bola matanya “ ngapain dia minta itu?” tanya ayah virza
“biasa penyakit curigaan anak kamu lagi kumat.” mama Kaila melihat laporan anak buahnya
dengan seksama “ gak ada masalah dengan penyelidikannya sih, tapi perasaan kai rada gak enak melihat tampangnya, seperti familiar tapi kai benar-benar gak tahu” ucap mama kaila
“siapa sih?” virza melihat seksama wajah raksa yang terpampang di layar monitor laptop mama kaila “siapa ya, emang kaya familiar tapi gaktahu siapa?” gumam virza
“kita jaga-jaga saja ya mas, suruh orang kak boy ngikutin ningrum diam-diam” ucap mama kaila
__ADS_1
“ok” balas ayah virza menelfon kak boy untuk meminta bantuan menjaga ningrum
***
“akhirnya bisa kabur” gumam ningrum menepuk-nepuk tangannya yang kotor karena memanjat
dinding
“mau kemana kamu?” tanya rafasya dari balik punggung ningrum
Ningrum terperanjat kaget “ampun deh kakak kebiasaan ngagetin” ucap ningrum mengelus
dadanya
“biasa, mau latihan tekwondo” balas ningrum memperagakan gerakan silat
rafasya menggelengkan kepalanya “gak bisa ya rum, minta anter saja ke kakakmu” ucap rafasya
“gak perlu, kan ada kakak” ningrum langsung merebut helm di tangan rafasya dan memakainya
Rafasya hanya menghela nafas “ya sudah kakak anter” ucap rafasya menghidupkan motornya
10 menit perjalanan mereka sampai di tempat latihan “ kakak pulang saja, nanti ningrum pulang sendiri saja” ucap ningrum melepas helmnya dan memberikan pada rafasya
“ogah, kakak bakal nemenin kamu sampai selesai” ucap rafasya
“terserah kakak saja, yang penting ningrum gak maksa untuk di tunggu” ucap ningrum berlari menuju ruangan ganti untuk berganti pakaian taekwondo
Ningrum berlatih dengan focus dan rafasya melihatnya dengan bangga melihat ningrum yang
beberapa kali menjatuhkan lawan tandingnya
Latihan ningrum selesai dan ia bergegas berganti pakaian lalu menghampiri rafasya “ah, pulang yuk kak” ajak ningrum
“ayok” balas rafasya menghidupkan mesin motornya
rafasya melajukan motornya dengan kecepatan rendah agar bisa mengobrol lama dengan ningrum “rum, kamu gak capek apa manjat-manjat?” tanya rafasya
“enggak” balas ningrum datar
“kenapa gak bilang saja ke orang tuamu kalau kau pengen ikutan taekwondo?” tanya rafasya
“malas, nanti di suruh pelatihnya datang ke rumah terus di recokin kalian” balas ningrum
“lah ini kakak kan tahu, gak takut di recokin kakak?” tanya rafasya
“kakak beda sama yang lain, kakak paling ngerti ningrum jadi gak akan ganggu ningrum” balas ningrum datar
Rafasya tersenyum “tau dari mana?” tanya rafasya
“tau dari dulu lah. ningrum itu kan sering keluar latihan dari SMP dan kakak tahu itu, tapi kakak gak pernah bilah ke ayah, mama ataupun yang lain” balas ningrum jujur
Rafasya menghela nafas “paling bisa kamu ya rum, bikin kakak gak berkutik” ucap rafasya
“hehehe” kekeh ningrum
Setelah mengantar ningrum, dan melihatnya memanjat dinding, rafasya memutuskan pulang
ke rumahnya
***
“sudah pulang nak?” tanya mama Karin arinda mama rafasya
“iya mah, rafasya masuk kamar dulu ya, mau mandi” balas rafasya bergegas masuk kamarnya
Setelah selesai mandi rafasya membaringkan tubuhnya di ranjang “hmmm” rafasya menghela nafas
Rafasya melirik foto dirinya bersama para sahabatnya, dan ada kak zian serta kak raka
__ADS_1
dan ningrum di sana “kenapa aku selalu ingin melihatmu” gumam rafasya melirik ningrum
“ah sudah lah tidur saja” gumam rafasya memejamkan matanya