Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Malam yang bahagia untuk Zeil dan Alfan


__ADS_3

Zeil sedang berendam dikamar mandi dan menikmati sensasi aroma pada sabun dan juga shampo. Seluruh tubuh Zeil tertutup oleh busa, hingga bagian kepalanya saja yang terlihat.


Sedangkan Alfan yang merasa sudah tidak sabar untuk segera mandi langsung masuk ke kamar mandi tanpa pikir panjang. Zeil yang lupa mengunci pintunya pun kaget saat melihat Alfan yang telanjang dada sudah berada dikamar mandi. Bahkan sudah berdiri didepan istrinya, Zeil yang melihat fostur tubuh milik suaminya pun terkesima. Ditambah lagi hanya memakai celana kolor. Zeil bingung dibuatnya, bagaimana tidak bingung, didalam kamar mandi yang hanya tertutup busa dan didepannya ada suaminya yang belum pernah melakukan hal hal yang aneh.


"Kamu mau mandi apa berenang? hah? apa perlu aku yang memandikanmu, kebetulan aku lagi tidak ada pekerjaan." Ucap Alfan menggoda.


"Aduh kak... tunggu sebentar kenapa?" jawab Zeil yang tidak sadar telah memanggil Alfan dengan sebutan Kakak. Sedangkan Alfan tersenyum puas saat Zeil salah ucap.


"Bagus, malam ini kamu harus memijat aku sesuai seleraku. Jika kamu menolak, maka aku akan meminta hakku. Kamu tahu? aku sangat menginginkannya." Ucap Alfan memberi peringatan dan menakut nakuti istrinya. Zeil yang mendengar ucapan meminta haknya, membuat Zeil bergidik ngeri. Jika memang Alfan benar benar menginginkannya.


"Tadi aku salah ucap, sayang... aku tarik kembali ya... anggap saja aku lagi konslet. Bener deh... aku tadi salah ucap." Jawab Zeil dengan gugup.


"Sudah cepetan mandinya, aku sudah sangat risih dengan badanku yang sudah lengket." Ucap sang suami.


"Baik. Keluarlah, dan tunggu aku sebentar. Aku tidak akan lama kok, percayalah." Jawabnya.


"Aku tidak ingin keluar, membuang buang waktu saja. Masuk terus keluar, lalu masuk lagi terus keluar lagi. Tidak enak dikamar mandi masuk keluar, masuk keluar. Kalau masuk ya biarin masuk saja, kamu yang cepetan mandinya." Ucap Alfan sengaja mengerjai sangat istri.


Zeil yang sedari tadi bingung dibuatnya, akhirnya dirinya pasrah akan nasibnya yang akan mengakhiri kepemilikannya.

__ADS_1


Alfan yang merasa kasihan dengan istrinya, akhirnya memutuskan untuk segera keluar dari kamar mandi.


Zeil pun merasa lega, karena tidak mengalami hal buruk yang hampir saja mengenai dirinya. Zeil yang sudah siap menikah saja masih takut berdekatan dengan suaminya.


Entah kenapa aku belum siap, apa karena aku belum pernah pacaran dengannya. Hingga membuatku merasa ketakutan, sungguh aku tidak kuasa didalam kamar ini. Meski dia adalah suamiku dan terkadang aku merasa tergoda olehnya. Aaaah perasaan macam apa ini, kenapa aku begitu sulit untuk menyesuaikannya. Batin Zeil dalam lamunannya. Tiba tiba dirinya teringat, jika suaminya pun ingin segera mandi. Zeil langsung membuka pintunya, dan tanpa disadari oleh Zeil bahwa didepan pintu sudah ada sang suami yang berdiri tegap dan menggoda.


Tuh, kan... aku tergoda olehnya. Bagaimana ini, aku pun terasa ingin memeluknya. Batin Zeil yang tidak sadar bahwa sang suami sudah masuk ke dalam kamar mandi, dan pintunya pun sudah terkunci dari dalam.


"Apa... sudah masuk ke kamar mandi? bukankah tadi masih didepanku, sekilat itu kah dirinya? sungguh ajaib." Gerutu Zeil yang mencoba menyadarkan dirinya sendiri.


Setelah itu, Zeil segera memakai baju tidurnya. Namun tiba tiba kedua mata Zeil terbelalak saat melihat lingeria transparan di atas tempat tidur membuatnya merasa geli. Zeil pun segera mengambilnya, dan Memeriksanya. Dengan lekat Zeil melihatnya dengan seksama, sampai sampai Zeil kesulitan untuk menelan salivanya.


Zeil pun segera memakai baju tidurnya, setelah itu dirinya langsung bersiap siap memeluk guling untuk tidur. Zeil berusaha mengatur pernapasannya, agar dirinya tidak gugup.


Tidak lama kemudian, Alfan sudah selesai ritualnya di kamar mandi. Rasanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya badannya pun terasa sangat segar. Alfan pun segera keluar dari kamar mandi dan memakai baju tidurnya.


Dilihatnya sang istri yang sepertinya sudah terlelap dari tidurnya. Alfan segera bercermin dan menyisiri rambutnya. Sesekali memperhatikan istrinya yang sedang tidur pulas lewat cermin. Alfan tersenyum tipis saat melihat istrinya yang terlihat begitu menggemaakan.


Dengan pelan Alfan mendekati sang istri, kemudian membungkukkan badannya. Alfan pun mencuri kesempatan emasnya. Alfan tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang begitu mudah untuk didapatnya.

__ADS_1


Dengan lekat Alfan mendekatkan wajahnya didepan istrinya, dengan lembut Alfan mencium kening milik istrinya. Zeil yang merasa jika suaminya tengah mencium keningnya membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Alfan pun tidak menyadari dengan detak jantung milik istrinya, mungkin saja Alfan dalam keadaan mabuk cinta.


Setelah mencium keningnya, Alfan menyusuri ke bib*r ranum milik istrinya yang sangat menggodanya. Karena tidak dapat dipungkiri, jika Alfan adalah laki laki normal. Dengan lembut Alfan mencium bib*r ranum milik istrinya yang sangat manis. Zeil yang terbawa suasana pun lupa akan segalanya. Zeil pun tergoda akan perlakuan dari suaminya. Alfan yang tanpa sadar karena terbawa suasana seperti singa kelaparan, Zeil pun menerima perlakuan dari suaminya. Tidak hanya itu, Zeil pun membalasnya dengan lembut. Hingga membuat keduanya terhanyut dalam asmaranya.


Alfan yang masih dengan aksinya menyerang istrinya dengan sangat lihai. Alfan pun mendekati telinga Zeil dan berbisik.


"Aku mau sekarang, apa kamu sudah siap?" tanya Alfan lembut di dekat telinga istrinya.


Kedua mata Zeil terbelalak mendengarnya, seakan rapuh tulang tulangnya. Zeil bingung harus menjawab apa, karena jika menolak akan membuat suaminya kesakitan karena telah menahannya.


"Aku takut..." jawabnya lirih.


"Aku tidak akan menyakiti kamu, percayalah. Aku mencintaimu, sayang..." ucap Alfan lalu menggigit telinga istrinya, hingga membuat Zeil geli dan bergidik ngeri.


"Tidak sakit, kan?" tanya Zeil sedikit ketakutan.


"Tidak, sayang.. sakitnya akan hilang setelah kita menyelesaikannya." Jawab Alfan meyakinkan, sedangkan Zeil mengangguk mengisyaratkan menyetujui permintaan sang suami.


Setelah mendapatkan izin dari sang istri, Alfan tanpa pikir panjang langsung memulai aksinya. Zeil yang sedikit meringis kesakitan karena ulah suaminya yang seperti singa lapar. Namun keduanya sama sama terbuai oleh malam pertamanya. Alfan yang sudah merasa berada di puncaknya membuatnya merdeka akan kejantanannya.

__ADS_1


Zeil tersipu malu setelahnya, ditambah lagi bercak merah kepemilikannya sudah Alfan dapatkan. Karena terasa capek akan ritualnya, kini keduanya terlelap dari tidurnya.


__ADS_2